oleh

Bareskrim Limpahkan 11 Tersangka Dan Barang Bukti Kasus Bank Permata Ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan

JAKARTA, Cakrabhayangkaranews.com  – Subdit Perbankkan Dittipideksus Bareskrim mabes Polri limpahkan sebelas tersangka dan barang bukti kasus Bank Permata di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. 

Pelimpahan tahap kedua tersebut dipimpin langsung oleh Kanit V AKBP Vanda Rizano, Selasa (11/8/2020)

Kasus tersebut mencuat berdasarkan laporan polisi NO.LP/A/1621/XII/2018/Bareskrim, tanggal 14 Desember 2018 dengan total kerugian out standing Bank Permata sebesar Rp 755 milyar.

Terkait kasus ini penyidik menetapkan sebelas orang mantan pegawai Bank Permata sebagai tersangka, mereka terdiri dari RA, AS, MC, AS, DD, EW, MA, YM, HH, LZ, dan TC. Kesebelas tersangka dijerat pasal 49 ayat 2 huruf b UU No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan.

“Penyerahan kesebelas orang tersangka dan Barang bukti Kasus Bank Permata telah selesai,” ujar Vanda Rizano

Vanda mejelaskan, Direktur Risiko Bank Permata yakni seorang WNA bernama lengkap Michael Alan Coye saat ini tengah berada di luar negeri.

“Direktur Risiko sebagai Warga Negara Asing diduga keberadaannya (ada) di Amerika Serikat,” jelas Vanda.

Merujuk data Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, perkara pertama tercatat dengan nomor perkara 664/Pid-Sus/ 2020/PN JKT.SEL. Pada perkara ini, Eko Wilianto, Muhammad Alfian Syah, dan Yessy Mariana duduk sebagai terdakwa.

Sedangkan perkara kedua, tercatat dengan nomor perkara 665/Pid-Sus/ 2020/PN JKT.SEL. Duduk sebagai terdakwa dalam perkara nomor 665 ini yaitu Denis Dominanta, Tjong Candra, dan Henry Hardijaya 

Adapun perkara ketiga yang mendudukkan Ardi Sedaka dan Liliana Zakaria sebagai terdakwa tercatat dengan nomor perkara 666/Pid-Sus/ 2020/PN JKT.SEL. 

Ketiga perkara tersebut, seluruhnya terdaftar di PN Jakarta Selatan pada 17 Juni 2020. 

Kasus ini bermula pada bulan Desember 2013 – Mei 2015, Direktur PT Megah Jaya Prima Lestari (PT MJPL) mengajukan fasilitas kredit ke PT Bank Permata Tbk dengan tujuan pembiayaan 7 (tujuh) kontrak pembangunan dan pengadaan sarana/prasarana di lingkungan PT Pertamina (Persero) Tbk dengan nilai keseluruhan kontrak sebesar 1.6 Triliun, Fasilitas kredit tersebut telah dicairkan 61 kali tansaksi dengan jumlah 892 Milyar dengan Kondisi kredit sudah macet.

Kemudian saat PT. Bank Permata Mengkonfirmasi ke pihak PT. Pertamina, dan Pihak Pertamina menjelaskan bahwa 7 kontrak yang dibiayai PT Bank Permata Tbk adalah ” fiktif atau tidak ada” sehingga PT. Bank Permata Mengalami Kerugian sebesar 755 Milyar.

Kasus ini diduga adanya penyimpangan pegawai bank permata karena telah memproses pemberian fasilitas kredit kepada PT MJPL, yang dalam prosesnya telah disetujui oleh Satuan Kerja Risk.

Yang diduga pegawai PT Bank Permata yang telah memproses pemberian kredit kepada PT. Megah Jaya Prima Lestari (PT. MJPL) “tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam undang-undang perbankan dan ketentuan peraturan perundang-undang lainnya yang berlaku bagi bank”. Diantaranya adalah pada saat memproses pengajuan fasilitas kredit oleh PT MJPL, direksi dan pegawai bank dimaksud, baik sendiri-sendiri maupun bersamasama, tidak melakukan pengecekan kebenaran adanya proyek-proyek tersebut dan
tidak melakukan Prosedur “Trade Checking”, terhadap kebenaran dan keaslian surat SPMP (Surat Perintah Memulai Pekerjaan), tanggal 26 Agustus 2013 dan Surat Penunjukan Pemenang Pemilihan Langsung, tanggal 12 Agustus 2013, yang seolah-olah dikeluarkan PT PERTAMINA (Persero). (MomtyTeam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed