oleh

Lambolo Terus Dibabat – Kian Merana

Kolonedale – Sulteng, Cakrabhayangkaranews.com Banyak Kalangan seperti masyarakat Peduli kawasan dan lingkungan, pemerhati kerusakan hutan, bahkan anggota dewan Morut, pengikat, kegundahan hingga keprihatinan mendalam.

Apa yang mereka risaukan? Kata mereka, hutan-kayu rimba campuran terus dibabat, maka bukan tidak mungkin, hutan Lambolo yang juga menjadi penyangga udara Kota Kolonedale dan sekitarnya di Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara (Morut), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), hanya akan tersisa nama .

Bahkan potensi ancaman besar, bakal mengeringnya sumber air terbaik dan satu-satunya untuk Kolonedale akan kerontang. Masalahnya, karena hutan di atasnya, tidak ada henti dari pengrusakan. The, ada jaringan air baku yang berada di bawah kawasan butuh sumber air yang hutannya tidak terganggu. Ini serius.

Jika ekosistem hutan Lambolo terganggu, maka diprediksi pada tiga atau – paling lama – lima tahun kedepan, nama hutan Lambolo benar-benar tinggal kenangan.

Dan kendati pandemi Covid -19 lagi mewabah, bukan lagi menjadi ancaman bagi para penebangan liar dan kayu bantalan, yang diduga makin nekad melakukan aksi perambahan hutan. Demi kepentingan pribadi dan kelompok.

Guna memperoleh data valid tentang dugaan illegal logging dan bantan di hutan Lambolo, CBN pun melakukan pemeriksaan laporan ke wilayah UPTD Kesatuan Pemangkuan Hutan Trpo Asa Aroa (TAA) baru-baru ini.

Ya, nasib Lambolo memang bagai ditakdirkan untuk terus merana. Sebab. kayu-kayunya yang harus tumbuh besar dan butuh waktu puluhan tahun bahkan lebih, dibabat tanpa ampun oleh oknun-oknum tidak bertanggung jawab.

Kendati Lambolo masuk kawasan hutan lindung bersana sebagian APL (Areal Penggunaan Lain), toh tidak mematahkan semangat para pencoleng, untuk terus melakukan eksploitasi.

Di lapangan, CBN memperoleh informasi bahwa puluhan kubik – bahkan lebih – kayu-kayu Lambolo dilempar ke wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel), sebagai pasar yang sangat besar. Kayu dibawa menggunakan mobil-mobil Fuso berkapasitas besar.

Data CBN dari sejumlah sumber lain di Kolonedale, tercatat beberapa nama pengumpul di sekitar Desa Ganda-ganda dan Lambolo. Seperti HJR, RST dan FRD yang menjadi ujung tombak penebangan dan pembalakan pembohong. Dari tangan mereka inilah, kayu-kayu jenis _Kumea_ yang benilai jual tinggi dikumpul dan kemudian akan dijemput pembeli, selanjutbya dibawa ke wilayah Sulsel.

Aksi para pengumpul dirasakan aman kata sumber, lentaran ada dukungan dari oknum Bin-Bindes yang ikut menjadi pengumpul juga.

Sementara, beberapa oknum pengumpul lainnya yang bermukin di wilayah Petasia Barat tidak kalah ramainya, “membabat” hutan Desa sekitar Togo, Onepute dan Desa Tiu. Kayu-kayu dari wilayah itu dibawa truk pengumpul dan langsung dijemput oleh Fuso besar diantara Desa Koromatantu dan Korolama. “Kayu-kayu itu kemudian dipindahkan dari truk-truk kecil ke mobil Fuso dan selanjutnya berlalu tanpa ada penindakan,” ujar salah satu warga Tiu yang minta namanya tidak kasih.

“Inilah yang menjadi tempat bermain dan sorotan kami. Hutan Lambolo, Togo, Unepute dan Tiu terus dijarah. Lalu dimana tanggung jawab dan lalai. Bila begini terus, maka hutan Lambolo dan hutan-hutan lainnya akan gundul oleh ulah oknum tidak bertanggung jawab. dan sumber tangkapan air di atas hulu hutan Lambolo bisa terancam kering .. Terus terang kami cinta dan sayang daerah ini, “kata Yanto Baoli, anggota DPRD Morut dari Partai PKS yang mengemukakan keprihatinannya kepada CBN.

Hutan Lambolo sendiri, sesuai dengan pemukiman warga. Itu sebab, sangat rentan untuk dimasuki dan dirusak. Faktanya seperti itu.

Satu smber menyebutkan, dengan luas areal kurang lebih 36.200 Ha, hutan Lambolo hanya “dijaga” oleh enam Polhut (Polisi Hutan). Artinya, setiap dua Polhut memerlukan tanggung jawabi kurang lebih 12.000 Ha kawasan yang terbagi tiga pemwilayahan. Zona I Kolonedale (Petasia) dan Soyojaya. Zona II Beteleme dan sekitarnya serta Zona III Tomata. dan sekitarnya. Tdntulah tidak sebanding.

Luas kawasan ditambah minimnya personel Polhut, peluang besar bagi para kayu liar kayu kayu yang “mengangkangi” hutan yang kaya dan manfaat ekonomi tinggi. “Seperti nyata kenyataannya pak,” sebut sumber lagi.

Kepala Unit Palaksana Teknis (UPTD) Kawasan Pengelolaan Hutan (KKPH) TAA Aries Widjajanto, SH yang dikonfirmasi CBN melalui _handphone_ Jumat, (23/10) mengaku sangat kesulitan dalam pengangkutan hutan Lambolo. Kendati patroli kawasan rutin dilakukan, tetapi tidak mampu mengkaver wilayah yang begitu luas.

Memang sesekali tim patroli menemukan tangkapan, tapi sebelum adanya pandemo Covid. Yang pasti, setelah itu kegiatan patroli intensitasnya mengendur. Seiring mewabahnya Covid-19.
“Memang kami berhasil mengamankan sekitar 50-an batang Kayu __Kumea_. Setelah itu sudah berhenti lagi di masa-masa pandemi yang kondisinya terasa sulit,” kata Aries.

Menurut Aries, ia telah mengorbit untuk penambahan personel, guna mendukung kegiatan pengawasan.

Termasuk permohonan dukungan dari pihak Gakkum Kehutanan Provinsi Sulteng. “Fasilitas dan personel Gakkum Provinsi lebih siap dan lengkap, dibanding kami di kabupaten” imbuh Aries. *

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed