oleh

KMP Cenderawasih II: “Bangga Menyatukan Nusantara”

Luwuk – Sulteng, Cakrabhayangkaranews.com (CBN), “Bangga Menyatukan Nusantara” (BMN) atau “We Bridge The Nation” (WBTN). Itulah motto Fery ASDP (Angkutan Sungai dan Penyeberangan) Indonesia dalam memberikan pelayanan terbaiknya sebagai salah satu “jembatan laut” terpercaya hingga kini, untuk jasa pengangkutan barang, kendaraan dan penumpang.

Nampaknya, jargon BMN atau WBTN tersebut teradopsi dengan baik oleh kru KMP Teluk Cendrawasih II mulai dari nakhoda, mualim hingga koki, pada momen investigasi report CBN ke Wilayah Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Provinsi Sulawesin Tengah (Sulteng) Jumat (6/11).

Jika disimak, ASDP nampaknya tidak asal comot memilih jargon. Selain mengandung arti yang sangat dalam, ada “nafas” NKRI selalu terbawa dan didengungkan dalam keseharian kapal-kapalnya. Terutama pada kata “Menyatukan”.

Ya, apa yang kemudian CBN bisa tangkap dan rasakan bahwa makna persatuan, kerjasama dalam bingkai persaudaraan, tergambar dari kekompakan kru ketika CBN ikut menikmati pelayaran bersama KMP Cendrawasih II yang memiliki bobot 400 GT.

Perjalanan sekitar 48 mil laut atau setara kurang lebih 88 Km darat dengan kecepatan 8 knot, terasa nyaman ditempuh selama kurang kebih 5 hingga 6 jam. Apalagi kondisi laut lagi begitu bersahabat, diselingi larutnya tiupan angin sepoi-sepoi basahnya. Kendati malam harinnya Kota Luwuk sempat dihantam hujan lebat dan angin cukup kencang, tapi siang itu laut sangat tenang bagai “air dalam loyang”.

Menurut Mualim II KMP Teluk Cendrawasih II Jemis Suhardi Mbealo yang mendampingi Nakhoda Halid Said, selain — sudah tentu soal keselamatan pelayaran sesuai standar internasional SOLAS (Safety of LIfe at Sea) — tentulah terkait pelayanan sarat dengan sebuah kesan manis yang selalu disuguhkan. “Sebab, jika baik dalam pelayanan, konsumer akan terkesan dan boleh jadi akan tetap senang memilih menggunakan jasa kapal fery yang kami awaki karena selalu mengedepankan performa layanan prima,” ungkap Jemis.

Dibawah arahan Nakhoda Halid Said kata Jenis yang asli Mori, Moriwali Utara (Morut), sinergi telah terbangun dengan baik. Antara kru terasa seperti saudara dalam satu rumah. “Di kapal, kami cukup kompak dan saling mendukung,” aku Jemis, pemegang Ijazah ANT-IV (Ahli Nautika Tingkat IV) tahun 2018.

Nakhoda Halid Said mengaku merasa sangat terbantu dengan 17 krunya mulai tingkat perwira hingga koki. “Saya begitu terbantu. Sembari mengawasi dan tetap mengarahkan mereka sesuai job. Jika salah, saya tegur. Kalau saya keliru, siap pula dikritik demi kebaikan bersama,” ungkap pria kelahiran Luwuk 12 Oktober 1978. Memiliki pengalaman berlayar sejak tahun 2003 dimulai dari Aceh.

Chip Halid Said sendiri yang sudah kurang lebih lima bulan menakhodai KMP Teluk Cendrawasih II buatan 1991, adalah pemegang Ijazah ANT Tingkat IV tahun 2016. Pengantong ijazah ANT Tingkat IV bisa dan boleh melayarkan kapal hingga dibawah 500 GT (Gross Ton).

Yang pasti, jika pelayanan sudah baik, sarana juga tentu harus mendukung. Maka, setiap tanggal 11 Januari KMP Teluk Cendrawasih II masuk dok di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), untuk diremajakan agak tetap fit dioperasikan. Sebelumnya Cendrawasih menjalani doking di Bitung, Sulawesi Utara (Sulut).
* jemmy t – jaya marhum

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed