oleh

Dirjen KSDAE Kementrian LHK Giatkan 10 Cara Baru Penanganan Hutan Kawasan

Palu, Sulteng, Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Ketegasan Dirjen KSDAE (Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) Kementrian LHK (Lingkungan Hidup dan Kehutanan) yang telah melahirkan solusi penerapan 10 cara baru kelola hutan kawasan, adalah sebuah terobosan cerdas dan solutif. Pengalaman penerapan aturan kawasan, selama ini menemui banyak kendala ketika berhadapan persoalan masyarakat dengan kawasan.

Lahirnya 10 cara baru dalam penanganan kawasan, telah memberi angin segar sekaligus “jalan damai” dalam pengelolaan dan penataan hutan kawasan.

Hal itu dijelaskan Kepala BKSDA Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Ir. Hasmuni Hasmar, M.Si kepada CBN di Palu baru-baru ini. 10 penerapan cara baru tersebut, telah menjadi “pil ampuh’ mengatasi persoalan masyarakat didalam maupun luar kawasan dengan kawasan itu sendiri.

Menurut Hasmuni, Direktorat Jenderal KSDAE KLHK telah berkomitmen memberikan kesempatan para pihak untuk bersama-sama melakukan pengelolaan sumber daya alam dan ekosistem. “Misalnya, untuk kawasan konservasi maupun di luar kawasan. Ini guna mencapai target pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan bidang KSDAE Tahun 2020. Disini perlunya masyarakat dilibatkan. Baik masyarakat yang ada di dalam maupun sekitar kawasan konservasi,” jelas Hasmuni.

Masyarakat lanjutnya, harus dijadikan sebagai subjek, atau pelaku utama dalam berbagai pola pengelolaan kawasan. “Pola itu harus mempertimbangkan prinsip–prinsip penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia,” katanya lagi.

Mengaplikasi 10 cara baru pengelolaan hutan kawasan sebut Hasmuni, sama seperti mencocokkan antara mur dan baut sehingga akan gampang saat memutarnya. Dengan 10 cara baru tersebut, penerapan aturan akhirnya menjadi tidak kaku, fleksibel dalam pelaksanaannya untuk mencari jalan keluar yang pas ketika berhadapan kondisi riil lapangan.

Dasar acuannya yakni, Peraturan Menteri Kehutanan No.P. 85 Menhut-II/ 2014 Jo PERMEN LHK No.P.44/MenLHK/ Setjen/ Kum .1/6/2017 Tentang Tata Cara Kerja Sama Penyelenggaraan KSA dan KPA yang didalamnya diatur tentang Perjanjian Kerja Sama “Pembangunan Strategis Yang Tidak Dapat Dielakkan.

Contohnya, kawasan pelestarian dan konservasi yang dilalui proyek jalan, jaringan PLN, Telkom dan infrastruktur strategis lainnya. Dahulu — gambar Hasmuni — jika masuk dalam kawasan sangatlah tabu, melanggar aturan dan tidak punya solusi. Tidak boleh sama sekali ada proyek di dalam, apalagi harus melewati kawasan. Tetapi jika proyek infrastruktur sudah terlanjur dibangun, apakah mungkin mau ditutup atau dibongkar kembali? Disitulah letak persoalannya. Maka lahirlah regulasi 10 cara yang “bersahabat’ tersebut. Empat diantaranya pertama, menjadikan masyarakat sebagai subjek (pelaku). Kedua, menghargai hak azasi manusia. Bahwa dalam wilayah pemangkuan, banyak yang telah lama bermukim dan jadi tempat lahir ayah dan ibu dari kakek nenek mereka, sebelum undang-undang keperdataan dibuat. Maka, tidak mungkin dilakukan pengusiran. Kecuali, dicarikan win-win solusi. Ketiga, melakukan koordinasi antar instansi lintas terkait. Keempat, menciptakan sinergitas antara masyarakat dan pemerintah.

Alhamdulillah sebut Hasmuni, pendekatan yang selama ini ia lakukan bisa diterima dengan tangan terbuka. Bersama jajaran yang selalu setia tanpa pamrih sesuai job discription, Hasmuni melakukan kerja dan kerja

Dengan adanya regulasi kemudahan, kran aturan sudah dibuka. Boleh — dalam tanda kutip, hutan pelestarian dan kawasan konservasi yang sudah diolah, terdispensasi oleh adanya regulasi seperti yang sudah dipapar sebelumnya. Dengan catatan, jika masyarakat terlanjur mengolah kawasan, tidak boleh lagi memperluas areal dari yang sudah ada.

Bagi Hasmuni, pencarian jalan keluar antara aturan dan keterlanjuran masyarakat masuk ke kawasan, butuh nyali dan keberanian untuk mengakomodasinya. “Sudah banyak yang saya teken (tanda tangani – red) demi kepentingan masyarakat dan keterwakilan pemerintah, dimana saya menjadi aktor sekaligus sebagai sutradaranya,” tegas Hasmuni Hasmar.

Muni yang digelari Dirjen KSDAE sebagai “Mantri Hutan”, lalu menunjuk contoh, perluasan ruas jalan nasional Kebun Kopi. Adalah sampel nyata ia berandil memberi persetujuan untuk diteruskan ke Dirjen dan Menteri. “Kalau tidak, mana bisa jalan Kebun Kopi diperluas akibat melintasi hutan lindung,” katanya.

Muni banyak meretas istilah saat sudah merdeka, masih ada — maaf — saudara kita yang belum menikmati arti kemerdekaan, lantaran jalan darat yang melewati atau menghubungkan desanya, belum tembus dan satu-satunya pilihan adalah lewat laut. Kini kenyataannya sudah tembus via darat

Atas kepedulian dan sejumlah terobosannya, ada saja bentuk apresiasi masyarakat terhadap Hasmuni. Seperti, melalui penamaan jalan “Ir. Hasmuni Hasmar”. “Dan, begitulah ketika kepentingan masyarakat terakomodasi dan pemerintah bisa hadir disana, ditengah-tengah masyakat” cerita Hasmuni.

Hasmuni masih seperti dulu. Akrab, ramah, santun, sesekali guyon dan — satu yang khas — hobinya bercerita yang dari dulu memang sudah seperti itu. Ia senang mengurai tentang gagasan, terobosan, kiat dan langkah-langkah besar. Kadang-kadang disela ceritanya, seolah ia minta pendapat atau tanggapan. “Bagaimana menurut anda?” Itulah sisi lain Hasmuni, sembari menebar tawa.

Hasmuni sendiri lama tidak terdengar kiprahnya. Terakhir — beberapa tahun lalu — ketika menjabat Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Tojo Una-una (Touna), Sulteng. Setelah itu ia dipercaya mengepalai UPT Balai Hutan Taman Nasional Lore Lindu (HTNLL). Kini ia memegang kendali UPT BKSDA Sulteng, yang identik dengan pengendalian, pemeliharaan
dan “penghutanan kembali
hutan-hutan di Sulteng yang perlu dikonservasi. Kepeminpinannya di BKSDA Sulteng sendiri sudah memasuki tahun kedua.

Tapi Hasmuni adalah tipikal seorang yang kritis. Bila tak cocok dimatanya ia spontan akan blak-blakan menyampaikan. Ya, Walaupun itu pahit.
Bagi Hasmuni, yang penting demi masyarakat, ia akan perjuangkan dan tampil membela. Baginya pro rakyat adalah utama.

Jika dirunut, masih banyak persoalan kawasan yang memperoleh solusi ketika berada ditangan Hasmuni. Itu sebabnya, suatu ketika ia bekunjung ke desa dan masyarakat yang pernah ia bantu, akan menjemput dengan kalungan bunga bahkan menandunya karena dianggap pahlawan “kepentingan” masyarakat. Luar biasa!* jay

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed