oleh

Akses Tertimbun Matrial Balaesang –  Lambat Penanganan

Balaesang Tanjung, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN)Saat susah dan butuh dibantu, mestinya pemerintah harus secepat mungkin hadir ditengah-tengah rakyatnya. Sehingga sitiran diakun FB  bertajuk Derita Donggala yang diunggah LS-ADI berbunyi ;  “Dibalik longsoran kecil jauh disana, ada yang lebih besar. Mereka yang kami pilih apa kabar. Semua seperti terlihat baik-baik saja.” Ditutup dengan hastag (#)DPRD Donggala & #DPRD Provinsi.

Tidak mungkin “suara kritis” LS-ADI terunggah jika keluarnya asap, bukan tak lantaran adanya api. Unggahan KS-ADI, setidaknya mewakili cuitan-cuitan lainnya yg juga betmuncukan. Muaranya,  protes atas dugaan lambatnya penanganan longsor matrial yang menutup jalan ke Balaesang Tanjung. Longsoran dimaksud,  berupa batu-batu besar, kerikil dan tanah pasir liat berwarna hitam merah yang tidak bisa dipindah menggunakan sekop ataupun pacul. Menggesernya, kecualu dengan alat sekelas buldozer atau exavator.

Bayangkan, sudah kurang lebih lima hari sejak Rabu, (10/2) akses jalan masuk dan keluar dari Desa Walandano  Kecamatan  Balaesang Tanjung itu, tertutup longsoran campuran matrial tebing bukit. Kondisi ini membuat aktifitas warga yang ingin keluar dan masuk menjadi terganggu.            

Tidak hanya akun FB LS-ADI. Unggahan serupa juga disitir Mughi Supardi yang menayang release diskripsi pendek dan foto-foto longsoran yang menutup jalan dari dan menuju Desa Walandano. Sebelumnya akun Ishak yang dilempar ke laman Info Donggala Membagun, ternyata sekaligus menutup mobilisasi empat desa lainnya. Seperti Desa Malei, Kamonji, Meting Dan Manimbaya. Penduduk terpaksa mengambil jalan lewat pantai dfbgan sepeda motor yang ysng digambarkan sulitnya bukan main. Bahkan karena beragam tujuan, penduduk harus bertaruh risiko tinggi dan bahaya karena menggunakan perahu agar bisa keluar masuk Balaesang Tanjung.

“Sementara dari pihak terkait belum membenahi jalan tersebut,” kata Ishak yang dikutip CBN lewat kanan FB-nya Minggu, (14/2). Ishak menggambarkan, dari empat desa, tercatat kurang lebih dihuni 1.000 KK (estimasi sumber CBN sekitar 3.500 – 4.000  -an jiwa jika hitungannya 3 jiwa atau lebih per KK – red), yang kini butuh bantuan untuk dibukakan jalan.

Dianggap tidak adanya perhatian pemerintah, maka Ishak berinisiatif mengguggah kepedulian  warga keempat desa untuk pengumpulan dana sebesar Rp. 5.000,- per KK X 1.000 KK. “Dengan begitu – estimasinya — bakal terkumpul Rp. 5 juta rupiah. Ya, terpaksa berinisiatif begitu untuk menyewa alat saja,” kata Ishak via akun FB -nya.

Para Kades empat desa sebut Ishak, diharapkan bisa menduskusikan penggalangan dana untuk menyrwa alat berat dimaksud, kepada Camat Balaesang.* jay

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed