oleh

Minus Progres – Proyek RIAS PT KPR Terancam Gagal

Palu, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Proyek River Improvement And Sediment
(RIAS) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Langaleso – Kabobona, Kabupaten Sigi, Provinsi
Sulawesi Tengah (Sulteng) terancam gagal. Ya, jika kontrak kerja 210 hari yang dimulai
September 2020 dan akan berakhir April 2021, tidak mampu dimaksimalkan kontraktor pelaksana PT. Karya Pembangunan Rezki milik Recky Wentinusa. Apalagi kondisi riil lapangan menunjukkan bahwa pekerjaan sekitar kurang lebih 3 Km – sesuai kontrak HK.021/PPK—SDPII – PJSA ST- BWSS 13/18, baru sebagian-sebagian saja yang disentuh.
Nampak masih banyak item yang belum dikerjakan.

Kendati kesibukan terjadi di beberapa titik, tapi malah ada alat yang terlihat “nganggur” terparkir. Maka, wajar kalau kemudian banyak kalangan meragukan, bila pekerjaan itu tidak bisa selesai tepat waktu.

“Bagaimana mungkin, waktu yang tersisa kurang lebih dua bulan bisa menjamin pekerjaan selesai,” ungkap sumber CBN di Palu.

Pesimisme sumber nampaknya beralasan. Apalagi boss PT. KPR Recky Wentinusa sudah mengakui jika progres pekerjaan barulah diangka 20 persen. Seperti pernyataannya yang dimuat StrategiNews baru-baru ini.Yang mengagetkan, justru ungkapan Daud, Manager Teknik PT. KPR kepada CBN Selasa,
(16/2) bahwa fisik lapangan dari pekerjaan RIAS tersebut bahkan barulah 18 persen.
Kendati kemudian Daud mengatakan bahwa hitungan tersebut per Januari barusan.

Minusnya progres pekerjaan RIAS diperkuat staff PPK yang mengatakan kalau prosentase
yang dicapai 19 persen bulan Pebruari ini. Lho, mana yang benar gambaran prosentasenya
kok bisa beda-beda? “Maaf kalau pak Recky tidak faham soal perhitungan itu. Kamilah yang
tahu,” ungkap Daud.

“Jika demikian, berarti kemajuan fisik pekerjaan RIAS belum lebih dari 20 persen.

Sementara kurang lebih dua bulan lagi dead line April sudah masuk. Kecuali ada adendum,
sehingga waktu penyelesaian masih bisa panjang,” komentar heran sumber lain CBN.

Daud, Manager Teknik PT. KPR kepada CBN dan Kabar Today Selasa, (16/2) mengaku sementara mencari pola yang pas agar pekerjaan di lapangan bisa dipercepat. “Kita lagi mencari pola yang pas pak,” aku Daud.

Dibalik tengah diburunya pekerjaan RIAS DAS Langaleso – Kabobona, banyak pihak bertanya-tanya. Apakah proyek berbandrol Rp. 48,9 Miliar lebih itu akan selesai tepat waktu, atau gagal?
Waktu dalam kontrak yang 210 hari sejak September, berarti dead linenya hanya tujuh
bulan dari September 2020. Sedianya, proyek tersebut untuk membantu pelaksanaan  pembangunan infrastruktur pasca bencana tahun 2018 yang terjadi di Sulteng. Payung koordinasinya ada di Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS III) Sulteng dan JICA Jepang.

Menurut Daud, soal alat dan tenaga PTM KPR siap. Tinggal mencari pola untuk mengejar waktu
yang tersisa jika bisa diburu, serta berharap Aada amandemen. Sementara plan adendum diusulkan.
“Jika memang dapat perpanjangan melalui adendum, maka diharapkan kami diberi dead line hingga Desember. Tapi andaikan tidak sampai Desember, biar cuma di Oktober saja,” ungkap Daud.
Menurut Rangga, PPK proyek RIAS, bahwa ia tengah melakukan evaluasi atas kondisi pekerjaan saat
ini. Makanya kata Rangga ia selalu berada di lapangan. “Saya evaluasi dulu pak,” katanya.

* kas – jay

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed