oleh

Agung Satria P. ST, MT : Butuh Kreatifitas Menata Kolonedale Jadi “Pintu Gerbang” Morowali Utara

Kolonedale, Sulteng, Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Kekaguman tentang pesona Kolonedale (Kodal), selalu terlontar dari bibir mereka yang pernah ke “Kota Mungil”, ibukota Kabupaten Morowali Utara (Morut), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Kata orang-orang, pecahan Kabupaten Morowali itu, punya daya tarik lho. Cuma memang butuh sentuhan dan polesan dari para kreator dan Pemerintah Daerah (Pemda)-nya. “Ya, begitu kawan-kawan dari Jakarta, Surabaya dan kota maju luar daerah lainnya, berkomentar positif dan membanggakan tentang Kolonedale. Betapa jika dipoles sesuai kontur dan geografis, kota yang berdiri di tepi Teluk Tomori, akan semakin cantik dan memikat,” tutur Kadis PUPR Morut, Agung Satria P. ST, MT mendeskripsikan “daya pikat” Kolonedale, sebagai “Pintu Gerbang” Morut kepada CBN di ruang kerjanya, (24/3).

Kata Agung, dengan potensinya yang belum dikembangkan dan dikelola optimal, Kodal harus terus dibenahi. Tidak noleh berhenti menunggu bola. Semua OPD haru membahu mendukung percantikan Kodal, serta Morut secara umum. Memang sih, butuh dana untuk merealisasi mimpi membuat Morut tertata sebagai “Pintu Daerah”. “Kita sesuaikan kemampuan daerah dan harus dikerjakan bertahap atas dukungan semua stakeholder saya rasa kita bisa,” kata Agung Satria.

Kodal sebagai ibukota Morut sebut Agung, nemang harus bisa tampil beda dengan daerah sekitar. Makanya, step by step Kodal terus dibenahi.

Beberapa jalan primer dan sekunder dalam kota tunjuk Agung, sudah dibangun. Dengan harapan, agar Kodal secara perlahan bisa hadir dan betul-betul menjadi “Pintu Gerbang” kabupaten yang memiliki daya tarik dengan profil berbeda dari sebelumya, jika dimasuki dari arah mana saja.

Sekali lagi — sesuai kemampuan daerah — Kodal dan Morut kini dipercantik dan terus dibenahi. Kendati dikerjakannya tidak sekaligus. Terutama, infrastruktur jalan dalam kotanya.

Dari 983 Km panjang jalan yang menjadi tanggung jawab kabupaten gambar Agung, baru sekitar 30-an persen berfungsi dengan baik. Sisanya masih butuh dana besar untuk membenahinya. “Makanya harus dikerja secara bertahap dan disesuaikan kemampuan, kondisi dan kesiapan keuangan daerah,” tambahnya.

Lebih jauh Agung menjelaskan, bisa dilihat ruas-ruas jalan yang dibangun sesuai penganggaran daerah. Sejumlah jalan hotmix dalam kota Kodal, sudah mulai dibangun sejak tahun anggaran 2019.

Misalnya, jalan dua jalur hotmix memanjang, menghiasi sebagian Kota Kodal. Disepanjang jalan tepi lautnya, sudah hadir para penjaja kuliner, jus dan aneka minuman dan buah yang buka sore hingga malam hari. Apalagi tiba waktunya Sabtu malam, tempat tersebut ramai dikunjungi. “Tahun lalu, ketika datang ke Kodal terlihat belum seramai ini,” komentar Edy, pelancong lokal dari Palapo. Menurut Edy, sudah kali kedua dia datang ke Kodal menyeberang di Danau Matano lewat Nuha, turun di Beteleme, lanjut Kodal. “Saya liat, jalur Palopo – Nuha – Beteleme bisa menjadi “alternatif” via darat masuk ke Kodal. Dari sisi turism, ini menguntungkan pengembangan eko wisata,” komentar Edy.

Kembali ke Kodal. Selain jalan pantai, infrastruktur jalan lain yang sudah dibangun oleh Dinas PUPR Morut sudah cukup merubah tampilan Kodal. Kota “mungil” yang sebagian konturnya berbukit, yang secara, signifikan terus dibenahi dan dipercantik. Maja mari didukung bersama.* jay (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed