oleh

Alimudin Muhammad, SE, M.Si : Program Maimo Mosikola – Program Pendidikan Inovatif Pemkab Touna

Ampana, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) –
Maimo Mosikola (Mari Bersekolah -red), yang digagas Pemkab Tojo Una-una (Touna), Provinsi Sulawes Tengah (Sulteng) oleh Bupatinya Mohammad Lahay, ternyata berhasil menjadi magnet. Bahwa daerah harus berkreasi, melahirkan Program Maimo Mosikola yang telah menstimulasi juga menggairahkan nafas pendidikan di Touna. Meski ditahun 2019 dan 2020, pandemi Covid melanda, Touna masuk dalam empat besar menjadi Juara Harapan I, dari 12 kabupaten satu kota. Mantap!

Begitu deskripsi yang ditangkap CBN dari Kadis Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Touna, Alimudin Muhammad, SE. M.Si, saat ditemui di ruang kerjanya baru-baru ini.

Gagasan Bupati Touna dengan Program Maimo Mosikola melalui pemberian kontribusi kepada para tenaga pendidik di daerah terpencil dengan pemberian honor atau insentif. Mereka itu — para pengabdi pendidikan yang mengabdikan diri — untuk mengajar di daerah terpencil dan wilayah batas. Di pelosok-pelosok yang masih kekurangan tenaga guru.

Saat pandemi kata Alimudin, program pendidikan di Touna harus tetap berjalan. Kendati belumlah maksimal. Proses belajar mengajar dari tingkat TK, SD dan SMP, juga harus mengacu kepada surat edaran empat menteri yakni, taat terhadap pelaksanaan belajar Daring (Dalam Jaringan – red) dan Luring (Luar Jaringan – red).

Wilayah Touna sendiri kendati terbagi di Darat dan Kepulauan, tetapi pada praktiknya, ada ketambahan satu wilayah sehingga menjadi tiga zona. Yakni wilayah pegunungan. Nah, yang mendapat kendala yakni wilayah kepulauan dan pegunungan. Guru-guru harus pro aktif mendatangi siswa yang diboyong orang tuanya ke kebun, bagi yang tinggal di gunung-gunung . Demikian pula siswa yang berada di pulau. “Guru-guru kami melakukan kunjungan. Dengan berperahu atau bersampan ke pulau A pulau B atau pulau C, agar si siswa bisa menerima pelajaran ,” terang Alimudin.

Artinya, proses pembelajaran tetap berjalan. Kendati yang seharusnya tiga kali pertemuan, menjadi hanya sekali. Itu ditahun 2020.

Target Kementrian Pendidikan sendiri jelas Alimudin, harus berjalan secara baik. Makanya, selaku Kadis bersama jajaran, Alimudin tetap mengontrol sekolah-sekolah yang melaksanakan Luring dan Daring. Ia juga mengeluarkan kebijakan untuk memindahkan tempat Luring ke sekolah. Ini lantaran susahnya mengatur waktu pembelajaran kelompok dari rumah-ke rumah. “Jadi murid yang datang ke sekolah, dan ini membuat guru tidak terlalu kesulitan mendatangi siswa dan suasana sekolah kembali bergairah. Tetapi pola ini, tetap dengan Prokes yang ketat,” tukas Alimudin Muhammad.

Dalam proses tersebut tambah Alimudin, seperti belajar Luring. Tidak ada tambahan pelajaran lain atau — misalnya — kegiatan olahgara, atau ekstra kurikuler lain seperti pramuka. Kecuali hanya satu pelajaran, sama seperti yang siswa lakukan di rumah.* jay

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed