Atas : Kantor SMLB Molino

Menjadi tenaga pendidik di Sekolah Luar Biasa (SLB), adalah bicara soal ruang pengabdian, dalam mengasah kesabaran, welas asih dan sisi yang mengedepankan “ketanpa pamrihan”. Ini memang sebuah pengecualian, buat para pendidik siswa/siswi yang berkemampuan minim, terbatas, terbelakang, bahkan berada jauh dibawah standar. Sebuah realita “Memanusiakan Manusia”. Maka kata kuncinya adalah, “sangat dubutuhkan sebuah keikhlasan yang besar”. Sekali lagi — “keikhlasan” ? — plus yang tentu tidak dimiliki pendidik seperti di sekolah lain pada umumnya.
Perlakuan terhadap siswa/siswi SLB, memang ekstra, tepat dan khusus. Ini guna mendapatkan hasil — kendati bukan harus paripurna — tapi minimal anak didiknya, bisa keluar dari ketergantungan terhadap orang lain.
Kini, mari “sedikit” bicara tentang SLB Molino, Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara (Morut), Sulawesi Tengah (Sulteng). Ada sebuah potret”simbiosa” antara pendidik dan peserta didik, yang berada sedikit diluar kelaziman biasa. Bagaimana pendidik atau guru di SLB Molino — yang hanya ada satu-satunya di Sulteng itu — harus berlaku “ekstra” dan beda dari guru-guru pada sekolah umum di luaran sana.
Soal pengelolaan dana di SLB Molino yang “ternyata” tidak seberapa itu, bagama pula? Kata Kepala Sekolahnya Agustinus Batulapa, S.Pd, SD, itulah yang ia terapkan yakni penggunaan dan pemanfaatan dana seefektif dan seoptimal mungkin. Kendati jika mau jujur, sebetulnya SLB Molino, dijalankan atau dioperasionalkan dengan kondisi serba keterbatasan dan minim apa-apa. “Namun kalau ditanya, ya dicukup-cukupkanlah. Begitu Agustinus Batulapa kepada CBN, saat mewawancarainya. “Ya, buka-bukaan sih tidak. Tapi itulah kondisinya pak,” kata Agus saat disambangi CBN di SLB Molino jalan poros Trans Sulawesi Morut – Morowali, baru-baru ini dan untuk kali kedua penayangan.

Di SLB Molino ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS. Tapi itu — sekali lagi — sangatlah kecil buat “mengakomodasi” kebutuhan operasional sekolah dan segala tetek bengeknya. Berapa besarnya? Hanya Rp. 221 juta pertahun. Tentulah penganggaran yang boleh dikata tidak berimbang dengan pembiayaan yang dibutuhkan dalam memutar roda SLB Molino agar bisa berjalan layaknya institusi pendidikan lain.
Jika ditanya cukupkah? “Ya, itu tadi. Dicukup-cukupkan,” terang Agus kembali.
Agus kemudian mengurai untuk pembiayaan apa saja itu? Semua diselaraskan dengan Anggaran Kegiatan Sekolah (ARKAS). Seperti misalnya, untuk pembelian ATK, pemeliharaan halaman dan lingkungan sekolah, listrik dan juga membayar honor guru yang rata-rata sangat dibawah standar. Hanya berkisar Rp.1 juta perbulan. Dengan pola dalam seminggu guru kelas mengajar selama empat hari. Dua hari diisi guru khusus, agama dan pendidikan jasmani (Penjas). Dua hari lainnya untuk mata pelajaran dan dua harinya diisi oleh guru kelas dan praktik Tata Boga.

Muatan pelajaran Tata Boga atau pengolahan dan penyajian makanan, sengaja diberikan di sini. Yakni, lmu penyajian makanan dan minuman dengan memperhatikan estetika, kualitas rasa dan kebutuhan nutrisi.
Nah diharapkan, skil itu nantinya, akan dimanfaatkan oleh siswa dan siswi SLB Molino saat menjadi mandiri dan terjun ke masyarakat.
Ketika mereka mandiri, kan bisa mencari duit sendiri dengan keahlian yang ada.
Selama kurang lebih 13 tahun mejadi guru SLB menurut Agus, luaran sekolah ini ada yang akhirnya bisa benar-benar mandiri. Alumni itu menurut informasi, sudah berada di Flores, NTT.
Target luaran SLB Molino menurut Agus — terutama untuk tuna grahita — yang penting dia bisa membangun dirinya mandiri — minimal juga mampu mengurus diri sendiri. Prinsipnya, tidak menjadi beban orang lain. “Sebab, ada diantara mereka yang berada dibawah standar. Termasuk IQ nya,” cerita Agustinus Batulapa.

Sangat dibutuhkan insting pendidik untuk memahami beberapa kriteria anak-anak SLB. Sebab, ada yang istilahnya mampu didik. Artinya bisa menyerap pendidikan atau ilmu yang diajarkan. Maka yang tidak mampu, diupayakan menjadi “mampu didik”. Minimal bisa mandi sendiri. Bisa gosok gigi sendiri. Serta dapat memperhatikan kebutuhan pribadinya,” papar Agus.
Walau dan bagaimanapun,
diupayakan tambah Agus, setiap anak SLB dilepas dari ketergantungan.
Seperti contoh itu tadi. Bagaimana ia bisa mengurus diri sendiri dulu. Caranya mereka pelan-pelan diberi pemahaman dulu. Bagaimana agar mereka tidak tampil “bau”, dalam kaitan saat bergaul dengan orang di sekitarnya. Sehingga walau menyandang keterbatasan, orang atau siapapun, masih bisa bersimpati. “Jika di luar sana siswa dididik menerima pelajaran dan menjadi cerdas, di SLB Molino mereka masih harus diajarkan bagaimana bisa mandi sendiri. Sesuatu yang tidak didapat di sekolah umum,” urai Agus.

Dan bagi guru dan staf pengajar di SLB Molino, Agus menerapkan dan menekankan pada 10 guru honornya bahwa ⁵mengabdi di SLB Molino sama dengan mengasah keikhlasan. “Sama seperti prinsip bahwa hidup itu harus dibalur dengan keikhlasan. “Karena kapan dan fimanapun kita bekerja, berpulang pada keikhlasan,” tutur Agus.
Bahwa menghadapi siswa/siswi di SLB memang diutamakan “kelapangan dada”. Sebab, jika tidak ikhlas, tidak akan bisa berarti apa-apa.
Dari kesepuluh guru SDLB Molino sebut Agus, ada yang masih belum sarjana. Kini masih sementara dalam proses penyelesaian kuliah.* jay







