Atas : Faisal Ambololo
Tongkabo, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) –Beragam peluang yang bisa menambah pundi-pundi, tapi kadang dibiarkan tidak dimanfaatkan. Padahal disitu, ada sisi dan celah bernilai ekonomi tinggi untuk bisa meraup rupiah bahkan dollar.
Itulah yang dilakukan Kades Tongkabo, Kecamatan Togean, Kabupaten Tojo Unauna (Touna), Sulawesi Tengah (Sulteng), Faisal Ambololo. Kendati baru tahun ketiga dalam satu periode kepemimpinan, bisa membaca peluang baik yang sangat menjanjikan, jika potensi desanya yang dikelilingi laut dapat dimanfaatkan dengan tepat.
Ia berpikir, laut juga bisa diolah seperti sawah. Maka ia coba merealisasi itu. Sebagai pemimpin, ia ingin mengubah mindset masyarakatnya. Jika laut itu bisa diolah dan dikelola, jangan biarkan ia “nganggur”. Faisal yang memang punya latar belakang pengusaha ikan yang sukses, kemudian memulainya dengan Bismillah. “Saya ingin Tongkabo menjadi pilot project budidaya ikan Keramba di Touna Kepulauan. Apalagi masyarakat saya 99 persen adalah nelayan,” ungkap Faisal kepada CBN dan News TV, Rabu (28/1/2026) di kediamannya daerah seputar Tanjung Keramat, Ampana Kota.
Menurut Faisal ia lebih bersemangat ketika dua ahli perikanan Filipina datang ke Tongkabo bersama tim dari Kementerian Pusat untuk melakukan riset kemudian menyosialisasikan teknik budidaya Ikan Keramba.
***
Tahun 2025 — setelah efisiensi anggaran — Tongkabo memperoleh alokasi Dana Desa (DD) sebesar Rp. 700 juta dan Rp. 500 juta Alokasi Dana Desa (ADD). Sedangkan tahun anggaran 2026 — dari bocoran yang ada — menurut Faisal, Tongkabo hanya akan kebagian kurang lebih Rp. 700 juta. Masing-masing Rp. 442 juta DD dan Rp. 300 juta ADD.
Ditahun 2025 pula — atas kebutuhan masyarakatnya serta ingin memanfaatkan kesempatan yang ada — maka budidaya ikan Keramba sudah mulai digalakkan Faisal. Pertama-tama Keramba pribadi ia hidupkan. “Sekali lagi saya katakan, ingin memberi contoh kepada masyarakat bahwa laut itu sama dengan sawah. Maka garaplah dia. Nah, usaha Keramba saya nilai tepat untuk dimasyarakatkan pada laut yang tidur,” kata Faisal diawal wawancara.
Menurutnya, budidaya ikan Keramba yang akan ia upayakan bersama masyarakat, bakal dijadikan pilot project pada tahun 2026. Apa yang dilakukannya, tentu butuh suport, termasuk modal untuk menggerakkan usaha — kebetulan budidaya Keramba Faisal, distimulasikan untuk masyarakatnya hingga nantinya bisa ramai-ramai berbuat hal yang sama. “Dari usaha ini diharapkan bisa menjadi contoh. Baik untuk masyarakat saya sendiri dan juga buat Touna secara keseluruhan — khususnya — masyarakat kepulauan,” jelas Faisal.
Faisal menerangkan, DD tahun 2025, ia manfaatkan untuk pengadaan perahu, mesin Katinting dan alat pendukung tangkap ikan yang jadi kebutuhan. Yang pasti, ia sudah sesuaikan regulasi dan ketersediaan anggaran. Termasuk — yang sudah dilaksanakan — adalah pemberdayaan masyarakat.
Lantas, ikan apa saja nanti yang akan dikembangkan di Keramba Tongkabo? Kata Faisal, seperti Bobara atau Caranx Ignobilis. Ikan tersebut termasuk dalam famili Carangidae dan dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Giant Trevally (GT). Ikan ini akan lebih gampang beradaptasi dengan lingkungan dan bisa bertahan hidup dalam perkembangannya hingga mencapai ukuran “Babon”. Satu jenis lagi yang rencananya akan dibudidayakan yakni, Kerapu Cantang. Untuk rencana awal, Faisal bakal menyiapkan 4.000 bibit untuk kelompok. Sedangkan Keramba plus pelampung dan semua kelengkapannya, disiapkan oleh desa.
Kata Faisal, ia berencana di desanya ada kelompok pancing tuna. Dalam kaitan itu, disiapkan proposal ke Gubernur untuk mendapatkan bantuan sarana prasarananya. Kalau dapat bantuannya, maka nantinya tinggal bentuk kelompok.
Dari catatan CBN, salah satu lembaga utama yang intens mengkampanyekan budidaya ikan Keramba adalah SEAFDEC/AQD. Apa itu?
SEAFDEC/AQD, adalah lembaga utama dari Filipina yang secara intensif mengembangkan teknologi budidaya ikan Keramba laut dangkal (shallow sea cage) dan jaring apung adalah Southeast Asian Fisheries Development Center/Aquaculture Department (SEAFDEC/AQD). Kelompok seperti inilah yang sudah datang ke Tongkabo. Mengukur arus dan alur pergerakan ikan serta pencerahan kepada para nelayan.
SEAFDEC/AQD berfokus pada penelitian budidaya laut (mariculture). Termasuk teknik Keramba Jaring Apung (KJA), di perairan dangkal.
Termasuk Keramba berbahan bambu yang dipasang di perairan dangkal (kurang dari 1 meter) — hingga — keramba apung melingkar/persegi yang didukung oleh pelampung.
Teknologi ini dirancang untuk budidaya ikan bernilai ekonomi tinggi seperti Kerapu (Grouper – ref) dan Kakap Putih.
Selain keramba individu, SEAFDEC/AQD mendukung konsep “Mariculture Park” yang dipelopori oleh Bureau of Fisheries and Aquatic Resources (BFAR) Filipina untuk mengelola budidaya di perairan pesisir dangkal secara berkelanjutan.
Lembaga ini sering melakukan verifikasi dan percontohan dan demonstrasi.* jay – bagian pertama





