Jakarta – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Rekonstruksi jalan hot mix Sam Ratulangi – Piere Tendean Manado, Sulawesi Utara (Sulut) menuai sorotan berbagai kalangan. Ada penilaian minus atas matrial yang digunakan untuk pekerjaan tersebut.
Salah satu yang angkat bicara adalah Ketua Umum DPP Lembaga Pemantau Pembangunan dan Kinerja Pemerintah (LP2KP) Erwin Tulalo. Sorotan itu disampaikan Erwin kepada CBN, Senin (31/7). Bahwa hasil investigasi Divisi Intelijen LPKP, setidaknya menemukan matetial pasir yang bercampur tanah — seperti sudah dipapar diawal — untuk proyek berbandrol kurang lebih Rp. 2,95 dari DAU (APBD) Kota Manado tahun 2023.
Dari hasil temuan dan penelusuran Divisi pIntelijen LP2KP tersebut menurut Erwin, menandakan kurang berfungsinya pengawasan dari pihak penyedia jasa. Sehingga matrial yang terpakai atau digunakan pada rekontruksi jalan Samrat – Piere Tendean, kuat dugaan tidak sesuai dengan dokumen pengadaan barang dan jasa/kualitasnya diduga dibawah standar. Salah satu contoh Lapis Pondasi Agregat (LPA) dan atau Lapis Pondasi Bawah (LPB) yang digunaka pada pekerjaan tersebut patut dicurigai tidak sesuai karena diduga didominasi oleh tanah, sehingga bisa dilakukan pengujian mutu kelayakan dilaboratorium uji mutu kelayakan material.

Sebelumnya, Anggota Divisi Intelijen dan investigasi LP2KP, Michael Lintang menemukan material pasir yang digunakan dalam proyek rekontruksi jalan Samrat – Piere Tendean bercampur dengan tanah.
Dari hasil investigasi tersebut dipertanyakan soal kualitas jalan yang menggunakan matrial tidak bermutu. “Evaluasi kerja dan kinerja Dinas PUTR saatnya dikritisi,” tegas Erwin Tulalo.
CBN sudah berusaha mengkonfirmasi Kadis PUTR Kota Manado John Suwu, Senin (31/7) namun belum berhasil.
Satu sumber CBN di Manado menyebut, memang saatnya menyoroti pekerjaan infrastruktur di Manado dan umumnya di Sulut, agar mutu pekerjaan bisa terjaga dan azas manfaatnya dapat dirasakan seluruh masyarakat pengguna.* et






