Bupati Sam Sachrul Mamonto memberikan peralatan pertanian, bibit dan pupuk kepada petani dan pekebun di Desa Bukaka
laporan: pusran beeg
Potret Bukaka dulu, masih sulit dijangkau, akses jalan belum bagus. Masyarakatnyapun hanya mengandalkan penerangan pakai lampu teplok, botol dan petromax. Kondisi yang sangat memperihatinkan, tentunya.
Tapi itu dulu. Kini Desa Bukaka, Kematan Kotabunan oleh Pemkab Boltim terus dibangun dan diretas dari problem ketebekakangan. Salah satunya, bagimana menekan angka stunting di seluruh pelosok Boltim, hingga bisa keangka nol.
Kendati sampai kini operator Telkomsel maupun Indosat belum masuk, setidaknya Bukaka telah dilistriki pemerintah. Desa itu kini sudah terang.
Selasa (8/8) lalu, Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara (Sulut) Sam Sachrul Mamonto mengunjungi Bukaka yang memperingati Haul (Hari Ulang Tahun -red) ke 41, sejak terbentuk menjadi desa definitif. Pada kesempatan itu, Sachrul Mamonto menyampaikan pesan pembangunan kepada masyarakat. Sam juga memberikan peralatan pertanian, bibit dan pupuk. Lalu kepada sejumlah mantan Sangadi (Kades -) yang pernah berjasa di Desa Bukaka, juga diberi reword berupa piagam penghargaan. “Berarti bupati ada perhatian terhadap kondisi desa-desanya dan tahu menghargai kerja dan kinerja pembantu dan mantan orang-orang berjasa memimpin dijajaran bawah,” ungkap salah satu warga Desa Bukaka.
Untuk lengkapnya ini histori Desa Bukaka untuk disimak. Ceritanya, pada tahun 1980 hingga 1981 sejumlah masyarakat Desa Kotabunan dan Buyat menjadi korban bencana alam. Lantas, ada 120 KK yang direlokasi ke Bukaka. Mereka diberikan masing-masing 1 unit rumah dan 1 hektar lahan perkebunan. Saat status Bukaka baru berbentuk pedukuhan dihuni oleh120 KK, seperti sudah dipapar sebelumnya dilaporan awal. Lantas berkembang dan terus berkembang.

Kala itu, masyarakat Bukaka masih menggantungkan hidup dari hasil bertani dan berkebun. Sementara untuk sumber penerangan pada malam hari hanya dengan penerangan seadanya. Ada yang menggunakan lampu botol, teplok dinding atau paling top, dengan lampu pompa Petromax dan Tingkwan. Ya, kayak gambaran sebelumnya.
Ketika hendak ke desa “tetangga” Kotabunan, masyarakat yang berdomisili di Bukaka terpaksa harus berjalan kaki sejauh 7 KM. Pun begitu, menuju Desa Buyat harus ditempuh dengan berjalan 9 KM.
Saat itu Desa Bukaka dipimpin oleh HL Mamonto atau lebih akrab disapa dengan panggilan Tue Mamonto selaku Sangadi Desa Bukaka. Kepemimpinan Tue Mamonto kemudian dilanjutkan oleh Hanun Paputungan, Ahmat Laheko, sesudah Ahmat Laheko, Najib Kobandaha.
Secara berturut Sangadi Desa Bukaka kemudian dipegang Arfan Ibrahim yang menang dalam proses pemilihan Sangadi. Karena sudah berakhirnya masa jabatan Arfan Ibrahim selaku sangadi Bukaka, kemudian Pemerintah Daerah menunjuk Camat Kotabunan Idrus Paputungan selaku Pjs Sangadi Bukaka. Namun karena tugasnya selaku Camat, akhirnya Pemda kembali menunjuk Masri Hala selaku Pjs Sangadi Desa Bukaka sampai saat ini.
Sebelum Kabupaten Boltim dimekarkan, keberadaan Bukaka adalah sala satu desa yang sangat terisolir.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2008 Tentang Pemekaran Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulut, dibawah pimpinan Bupati Sehan Landjar mulai mengalokasikan program pembangunan berbagai infrastruktur berupa ruas jalan penghubung Desa Kotabunan-Bukaka dan Buyat. Dibangun pula jembatan, balai benih ikan, sarana pendidikan, kesehatan dan berbagai pembangunan lainnya sehingga membuat masyarakat Desa Bukaka bangkit dari kondisi yang terpuruk itu.
Seiring berjalannya waktu, saat itu pula Perusahan Listrik Negara (PLN) kemudian memasukkan jaringannya ke Desa Bukaka hingga membuat Bukaka menjadi b benderang pada malam hari. Alhamdulillah.* bagian akhir dari dua penggalan







