SLB Molino Petasia Timur Yang Membanggakan – Waw … Siswanya Berprestasi Olahraga

SLB Molino Petasia T

Morut, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Menjadi guru atau pendidik siswa yang berkekurangan secara fisik bahkan juga mental, bukan sesuatu yang mudah. Butuh kepiawaian tersendiri, lain dari guru umum. Selain kematangan emosional yang mumpuni serta welas asih, juga pandai mengambil hati siswa. Ini demi untuk mencapai hasil terbaik, kendati relatif tidak harus maksimal. Tapi, tetap ada nilai-nilai edukasi dan terapan yang bisa ditangkap dan tersimpan dibagasi otak para siswa.

Ya, seperti itulah. Yang membedakan guru siswa-siswi “tuna” dari guru umum. Mereka mengabdikan diri untuk mendidik para “anak bangsa” yang terlahir dengan sisi kekurangan.

Baru-baru ini CBN berkesempatan melihat dari dekat seputar keberadaan Sekolah Luar Biasa (SLB) Molino, Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara (Morut), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Apa yang dijelaskan Kepala SLB Molino Agustinus Batulapa, S.Pd, SD kepada CBN bisa menjadi renungan. Bahwa ruang pengabdian, harus dilakukan dengan hati tulus, ikhlas dan jiwa besar. “Disini kami mencoba membina, mendidik siswa-siswi tuna, agar tidak menjadi beban keluarga dan bisa menjadi mandiri,” begitu penjelasan Agustinus Batulapa kepada CBN.

Agus menggambarkan, di SLB Molino ada lima ketunaan yang dididik dari jumlah 32 siswa. Yang kini aktif mengikuti oerose belajar di asrama SLB Molino sekitar 10 orang. Antara lain seperti, sisa-siswi Tuna Netra, Rungu, Daksa, Tuna Grahita dan juga Autis.

screenshot 20230824 203819 1
Menurut Agus — sapaan akrab Agustinus — mengasramakan siswa tuna, harus dilakukan pihak sekolah. Ini demi meringankan beban orang tua, terutama untuk mengantar dan menjemput. Sebab posisi rumah orang tua siswa rata-rata jauh. Bayangkan saja, ada siswa dari Mamosalato dan Baturube, Bungku Utara dan juga Bungku Kota. “Jadi paling ideal jika mereka diasramakan,” tukas Agus.

Kata Agus, ada sembilan ruang kelas di SLB Molino untuk tingkat SD, SMP dan SMA. Masing-masing tingkatan memiliki tiga ruang kelas. Jumlah ruangan sebut Agus sebetulnya mencukupi. Tapi kadang dalam satu Rombongan Belajar (Rombel) untuk satu ruangan, kadang hanya diisi satu atau dua siswa ketunaan.

Saat ini tukas Agus, khusus guru Tuna Netra, SLB Molino diajar oleh guru lulusan SLB. Guru menurunkan ilmunya dan mengajarkan Huruf Braille. Sedangkan siswa tuna rungu, belum punya guru “Jadi istilahnya, tak ada rotan akarpun jadi,” Agus menerangkan.

Dari sepuluh siswa yang diasramakan papar Agus, dua diantaranya perempuan. Satu Tuna Grahita ringan dan satu lagi Tuna Daksa. Selebihnya, ada tiga yang Tuna Rungu.

Dengan tenaga guru 10 orang, pihaknya urai Agus memberikan tips-tips pengajaran dan prosesnya dengan pola individu. Tapi tetap disesuaikan dengan kemampuan dan bakat siswa. Maka, identivikasi awal, bisa mengetahui apa yang menjadi minat dan bakat siswa. Seperti bakat seni musik. Bahkan ada, siswa SMA SLB Molino yang bakatnya bisa bermain organ (orjen -red). Salah satu siswa SLB Molino baru-baru ini juga memenangi Kejuaraan Bulutangkis O2SN tingkat Provinsi Sulteng O2SN yang digelar di Tolitoli dan meraih juara I. Tentulah ini sangat membanggakan. Saat ini tambah Agus, tenaga administrasi kependidikan yang dimiliki SLB Molino juga ada tiga orang. Di sini, semuanya bekerja tulus dan ikhlas.  Sebagai bagian dari pengabdian nyata untuk mendidik anak bangsa yang “berkekurangan” fisik, maupun mental untuk menjadi pribadi yang mandiri* jay – bersambung – bagian pertama

img 20250803 wa0029
Share :

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *