Foto atas dan bawah : Penanaman Bibit Mangrove di Desa Mamulusan

Kapolres Bangkep AKBP Jimmy Marthin Simanjuntak, S.I.K melalui Kapolsek Liang IPDA Muh Ruhil Newton Sugiarto, S.H menyampaikan kepada awak media bahwa pihaknya bersama Burung Indonesia, Pemda Bangkep, Koramil Liang, Staf Kantor Camat Liang, Masyarakat dan Pelajar melaksanakan penanaman bibit Mangrove di kawasan pantai Desa Mamulusan Kec. Liang, Kab. Bangkep. Ini dalam rangka Hari Perikanan Sedunia. Hal tersebut dilakukan untuk mengkampanyekan kepada masyarakat untuk sadar akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati bagi kelangsungan kehidupan.

Berikut beberapa manfaat dengan adanya hutan Mangrove. Antara lain, menyediakan nutrisi bagi makhluk hidup, menjernihkan air dan menjaga salinitas garam, menyediakan berbagai kebutuhan obat tradisional, mencegah abrasi dan erosi tanah, menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dan sungai daerah erosi dan abrasi, menahan angin kencang dari laut, menahan proses penimbunan lumpur, menjaga wilayah.
Mangrove juga menjadi penyangga dan menyaring air laut menjadi air tawar di daratan, mengolah limbah beracun, menghasilkan oksigen, dan menyerap karbon dioksida, menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan bagi plankton sehingga dapat menunjang rantai makanan. Tempat memijah dan berkembang biak ikan, kerang, kepiting, dan udang. Tempat berlindung, bersarang, dan berkembang biak burung atau satwa lain, sumber plasma nutfah dan sumber genetik.
Menjadi habitat alami bagi berbagai jenis biota serta dengan adanya hutan. “Mangrove juga dapat dikelola untuk dijadikan tempat wisata, penelitian, dan pendidikan, ucap Kapolsek dengan pangkat balok satu di pundaknya tersebut.


Sementara itu Koordinator Burung Indonesia untuk Sulawesi Tengah yakni Andi Faisal Alwi selaku penggagas kegiatan mengatakan bahwa kerangka acuan dari aksi penanaman mangrove dengan tema _”Akat Jagaiyo Konda Lipu, Akio Ko Akat, Lapus Konda Mangampalan”_ berdasarkan dari latar belakang pemetaan mangrove secara partisipatif yang dilakukan sejak bulan Juli 2023 oleh Burung Indonesia menunjukkan kerusakan mangrove di lima desa pesisir teluk Liang seluas 7,77 Hektar dengan jenis dominan mangrove yang rusak adalah jenis Tamok (Bruguira Gymnorhiza Lam) dan jenis mangrove Sailong (Rhizophora Mucronata Lam). Kerusakan mangrove diidentifikasi disebabkan berasal dari tindakan pembalakan, ahli fungsi kawasan dan perubahan hidrologi pesisir. Sementara itu berdasarkan hasil FGD di tingkat desa, kawasan Mangrove yang rusak dinilai telah berdampak pada produksi perikanan karena hilangnya area ruaya bagi ikan-ikan yang memiliki nilai ekonomis. Oleh karena itu masyarakat di lima desa yakni Mamulusan, Kindandal, Okumel, Tangkop dan Tomboniki bersepakat untuk melakukan rehabilitasi yang dimulai dari pembuatan Nurseri Mangrove (Pembenihan /Pembibitan Mangrove), dan dari hasil Nurseri Mangrove tersebut telah dihasilkan sekitar 1.500 bibit mangrove jenis Tamok dan Sailong siap tanam.
