Catatan CBN – Kapolda Irjen Rudy Sufahriadi Dimata Masyarakat Sulteng

Palu, Sulteng – Cakrabayangkaranews.com (CBN) – Bagaikan saudara yang berpisah lama, lalu kembali lagi ke pangkuan keluarga. Kedatangannya begitu dirindukan. Ya, kembalinya Irjen Pol Drs Rudy Sufahriadi ke Sulawesi Tengah (Sulteng) sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda), telah dinanti-nantikan. Itu sebab, kehadirannya menduduki kursi Kapolda Sulteng mendapat supor positif dan apresiasi yang demikian baik.

Suka cita tersebut tergambar, setiap kunjungan kerja (Kunker – red) Rudy Sufahriadi ke daerah, selalu mendapat sambutan hangat elemen dan tokoh masyarakat setempat. Bahkan didaerah tertentu dalam wilayah hukum Polda Sulteng, Kapolda Rudy disambut dengan upacara adat dan tarian budaya.

Pun demikian pada momen-momen lainnya. Antusiasme masyarakat begitu luar biasa, pertanda hubungan emosional Rudy Sufahriady dengan masyarakat Sulteng, telah terjalin dan terjaga demikian baik nan kondusif.

Maka wajar dan menjadi kepantasan, Pimpinan Polri menempatkan Irjen Drs Rudy Sufahriadi kembali ke Sulteng. Tentu saja dengan sejumput pertimbangan yang matang.

Rudy, dinilai sebagai pribadi yang konsisten dan memiliki komitmen kuat. Salah satu yang menyebut itu adalah Anggota DPRD Sulteng Daerah Pemilihan (Dapil) Poso Touna, Morowali dan Morowali Utara (Morut), Yus Mangun, SE. Politikus partai beringin ini mengatakan bahwa Jenderal Rudy Sufahriady adalah sosok yang sungguh-sungguh memiliki tanggung jawab dalam bekerja.

“Secara pribadi, saya bersyukur pak Jenderal Rudy Sufahriadi kembali lagi ke Sulteng. Pak Rudy adalah pribadi yang punya komitmen dan konsisten. Irjen Rudy juga bersungguh-sungguh dalam bekerja,” kata Yus Mangun.

Dengan kembalinya Rudy ke Sulteng menurut Yus, memang akan banyak harapan bisa disandarkan. Salah satunya, agar bisa menyelesaikan permasalahan di Poso.

“Kami sebagai warga masyarakat Poso dan Sulteng umumnya, sekaligus sebagai wakil rakyat Dapil Poso, menggantungkan harapan kepada pak Rudy untuk secara baik menuntaskan persoalan sisa teroris Poso. ,” kata Yus Mangun.

Bagi masyarakat Sulteng sendiri, kembalinya Rudy Sufahriadi sama seperti berkah. Sebab, banyak harapan dan asa diharapkan pada sosok, Rudy yang low profil.

Rudy Sufahriadi sangat dinanti dapat benar-benar menyelesaikan “PR” atas sisa tiga teroris Poso yang tersisa, pasca ditinggal mati Ali “Ahmad” Kalora.

Sebenarnya sudah ada komitmen sebelum berakhir tahun 2021, baik itu pendapat tokoh masyarakat, pihak legilslator maupun eksekutif Sulteng untuk sepakat agar Operasi Madago Raya dan operasi apapun namanya, tidak lagi diperpanjang. Sebab model operasi di Poso yang telah berganti-ganti nama, sudah masuk 22 menuju tahun ke 23.

Bayangkan saja, sejak Irjen Rudy masih Kapolres Poso 2005 hingga Rudy menjadi Kapolda Sulteng bintang satu dan untuk kedua kalinya setelah menyandang bintang dua, operasi silih berganti dan persoalan di Poso belum kunjung tuntas.

“Sekarang kembalinya Irjen Rudy Sufahriadi ke Sulteng, kita gantungkan harapan, agar bisa menuntaskan persoalan Poso secara baik demi Poso semakin baik,” ujar Yus Mangun.

Komitmen semua pihak serta kesepahaman pertama kita untuk menuntaskan persoalan Poso dan MIT sebut Yus Mangun hingga Desember 2021, hari ini harus bisa selesai atas dukungan semua pihak tanpa kecuali.

Kapolda Sulteng Irjen Pol Drs Rudy Sufahriadi bersama Ketua Bhayangkari Polda Sulteng Luly Rudy Sufahriadi, saat berkunjung ke daerah disambut hangat elemen masyarakat.

Tentulah sebut Yus, pak Rudy selaku Kapolda sudah memiki rencana dan strategi yang baik untuk penyelesaiannya. Lagi pula selama ini diamatinya, telah banyak imbauan dari para pihak, agar supaya sisa DPO Teroris Poso berbesar jiwa untuk menyerahkan diri. Termasuk kami tak henti mengimbau secara humanis kepada sisa teroris untuk kembali kepangkuan pergaulan masyarakat, setelah mempertanggung jawabkan segala perbuatannya dari sisi hukum. Juga, agar tidak mempersulit aparat untuk menyelesaiakan persoalan mereka dengan bijaksana,” tegas Yus Mangun.

Sosok Rudy Sufahriadi sendiri sudah tak asing lagi. Di Poso pernah menjadi Kapolres dan sebelumnya pun menjadi Kapolda Sulteng.
Pada tanggal 10 November 2005, Rudy resmi menggantikan AKBP Soleh Hidayat sebagai Kapolres Poso. Baru dua bulan menjabat di sana, pria kelahiran Cimahi, 23 Agustus1965
hampir menjadi korban penembakan teroris.

Tanggal 24 Januari 2006 — selesai menunaikan shalat subuh berjamaah di Masjid Raya Poso — suami Luly Rudy Sufahriadi, ditembak dari jarak dekat oleh salah satu dari dua orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor RX King. Namun, dirinya dalam kondisi sigap dan berhasil menghindari tembakan tersebut.
Identitas kedua teroris tersebut baru terungkap bertahun-tahun kemudian.

Pelaku yang menembak Rudy adalah Enal Tao, sementara yang membawa motor adalah Yono Sayur. Enal tewas di Aceh pada tahun 2010, sementara Yono tewas ditembak pasukan Operasi Tinombala pada tanggal 10 November 2016.* jay – bersambung

img 20250803 wa0029
Share :

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *