Gubernur Dinilai Salah Memilih Figur – Imbauannya Tak Diacuhkan

Atas : H. Anwar Hafid

Palu, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) –Petuah bijak kadang mengingatkan kita bahwa hal yang dianggap baik, belum tentu elok dimata orang. Bahwa rencana memformat kabinet yang andal, adalah niat baik Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) H. Anwar Hafid. Bahkan jika mungkin tidak sampai paripurna, paling tidak bisa mendekati sempurna. Bila diumpamakan gabungan lidi, 36 pejabat eselon II setingkat Kepala Dinas (Kadis) yang dilantik Gubernur akhir 2025 lalu, tidak ada yang keliru. Bagus dan akan kuat untuk mengawal visi misi Gubernur menata dan memajukan pembangunan Sulteng dari hulu ke hilir.

Tapi satu hal. Berbagai kalangan menganggap
performa pejabat yang dilantik Gubernur kali ini, ada yang rekam jejaknya tidak terlampau detil masuk ke kantong Gubernur. Kecuali secara umum, si pejabat memang kepemimpinannya mungkin berkarakter dan sejumlah prestasi telah ia ukir kala mengkomandoi institusi. Itulah salah satu — boleh ya, boleh tidak — yang menjadi pertimbangan Gubernur. “Ditambah lagi, si pejabat selama ini sudah dikenal lama oleh Gubernur sebagai penentu kebijakan” ungkap sumber CBN.

Sejauh ini, CBN belum meminta komentar Gubernur dan Walikota Palu. Seperti apa sikap orang nomor satu Sulteng dan Palu.
Andai — si laki yang pejabat provinsi dan pasangan perempuan bukan mahram yang juga ASN/PNS lingkup Penerintah Kota (Pemkot) Palu, terbukti dan — maaf terkategori — zinah. Ya, sesuai dokumen foto maupun video yang ada ditangan sumber CBN dan Inakor.

Tentu sekali lagi — tidak bermaksud — mencari ataupun mau menggali-gali kesalahan. Tapi ingin mendudukkan persoalan ini secara proporsional, sesuai fakta dan referensi yang dimiliki sumber tadi. Artinya baik Locus (lokasi) dan Tempus delicti adalah waktu (detik, menit, jam, hari, bulan, atau tahun – red) atas kejadian itu, lengkap foto-foto dan video si pejabat bersama si perempuan. Itu intinya. Bahwa baik si pejabat laki maupun ASN/PNS perempuan masing-masing masih terikat tali pernikahan dan memiliki pasangan resmi.

Kalaupun media kemudian menyorot si pejabat dan ASN/PNS perempuan dengan segenap tingkah, pola dan lakunya, adalah refleksi dari kontrol sosial atau social control yang melekat pada seorang jurnalis, wartawan ataupun awak media dan melihat, ada yang harus dikontrol. Bukankan konsekuensi seorang pejabat, ada celah berita di setiap gerak dan langkahnya. Baik melihat sisi positip, apalagi kalau itu negatif. “Masalahnya disitu,” tegas sumber.

Maka, bila kemudian kuat desakan kepada gubernur untuk mereshuffle 36 pejabat yang baru ia lantik rasanya sebagai hal yang lumrah, wajar. Bahwa media juga punya kewajiban memberi ingat atau mengemukakan kritik membangun dan terukur kepada Gubernurnya yang punya cita-cita besar agar Sulteng menjadi “Nambaso”. “Nah, inilah kritikan itu. Demi membantu mata, telinga dan hidung Gubernur yang terbatas untuk menjangkau kisi-kisi persoalan yang terjadi di sekililingnya. Ini bebtuk bantuan kita terhadap Gubernur bagai sebuah lagu wajib,” tukas sumber.

Seperti sudah dipapar pada dua kali tayangan sebelumnya,
memang banyak kalangan menilai langkah Gubernur memilih figur eselon II atau kepala-kepala dinas untuk Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sudah tepat. Tentulah, karena Gubernur ingin memaksimalkan percepatan pembangunan Sulteng dengan visi misinya dikawal jajaran yang mumpuni.

Karena itu, dibutuhkan skuad “terpilih” dan sesuai dengan latar gelar, baik didepan dan dibelakang namanya. Sudah bentu sesuai skil yang dimiliki sang pejabat.
“Jadi orang-orang yang didudukkan Gubernur adalah figur yang diyakini punya nilai plus, memiliki integritas tinggi, serta berkomitmen kuat untuk bersama membangun Sulteng lebih baik lagi.

Setidaknya, Gubernur telah menakar plus minus 36 pejabatnya Tapi ternyata Gubernur, telah salah pilih. Selain tak acuh atas imbauan “sang nakhoda” soal jangan zinah, diduga si pejabat sebelumnya pernah melakukan hal sama dan itu sempat ribut.

Pejabat itu kurang lebih lima bulan dipantau. Pada jam “istirahat” ia muncul dengan plat “merahnya” untuk bertemu sang pasangan di rumah kost sewa tersebut.

Yang jadi pertanyaan sumber — sepanjang peneluran — keduanya bertemu selama kurang lebih lima bulan — ada sekitar 15 kali. Kira-kira apa yang intens dan serius dibicarakan kedua orang itu,
jika tidak ada apa-apanya? Mengapa pula mobil dinas si pejabat laki harus diparkir jauh — seolah menghindar dari sorotan tetangga di sekelilkng kost? Padahal di depan kost, ada lokasi luas yang bisa leluasa untuk memarkirkan kendaraan. Sementara mobil si perempuan kebanyakan terparkir dengan posisi pintu driver dekat jalan masuk pagar, agar aksesnya lebih gampang dan posisi kendaraan dihadapkan ke Utara. Tapi jika si laki ikut di dalam mobil perempuan, maka posisi pintu depan kiri berada dekat pintu kost dan mobil menghadap Selatan.

Nah, keduanya selalu menghabiskan berjam-jam diatas — rata-rata pukul 12.00 Wita hingga 17.30 Wita. Mereka sengaja atau tidak, meninggalkan waktu yang mestinya masih jam kerja sesudah istirahat pukul 12.00 Wita — yakni — pukul 13.30 Wita hingga pukul 15.30 Wita. Bahkan.pernah suatu ketika saat azan magrib bergema, keduanya masih suntuk hingga masuk waktu Isya.

Bahwa ternyata setelah ditelusuri sebetulnya tidak cukup alasan buat si perempuan untuk menyewa kost. Itu diduga hanya kamuflase.
Karena si perempuan nyatanya tinggal di Wilayah Palu Barat. Bahkan lebih spesifik mobil yang sering digunakannya untuk bertemu si pejabat laki sama dengan kendaraan yang terparkir di rumah si perempuan setelah diamati berkali-kali.

Dan, baru saja 19 hari usai dilantik.– atau pada Senin 1/1/2026) petang sekitar pukul 17.00 Wita — CBN dan Media Online Inakor memantau pejabat laki dan si ASN/PSN perempuan di depan kostnya. Bagai terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT), keduanya keluar dari kost tanpa bisa mengelak.

Jika bukan hal khusus, apa yang diduga dilakukan dua insan bukan pasangan resmi pada “durasi panjang” — seperti sebagian narasi — yang sudah dipapar diatas? Inilah yang menjadi pertanyaan serius. Wajarkah seorang ASN/PNS — apalagi pejabat — berdua-duaan di dalam rumah kost yang ditutup rapat dari dalam?. Ngapain??* tim – bersambung

img 20250803 wa0029
Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *