
Oleh : Elut Haikal
Tanggal 17 – 08 – 1945 adalah awal tonggak sejarah berdirinya Negara dan Pemerintahan Bangsa Indonesia.
Sebagai hari peringatan Kemerdekaan sekaligus menjadi renungan kelam masa silam.
Lahirnya suatu bangsa tentu dari adanya “Kesamaan Satu Rasa Senasib Seperuntungan” akibat tekanan penindasan dari Penjajahan Kolonial
ang melahirkan perlawanan dan cita cita yang kokoh, tanpa lelah menjadi kekuatan perjuangan rakyat dalam pengorbanan jiwa, raga dan harta untuk melepaskan belengu penjajahan diantara mati atau merdeka dimedan laga.
Pada titik kulminasi berkumandang pekik kemerdekaan di seantero negeri hinga ke dunia. Pembacaan teks Proklamsi oleh Prokalamator Soekarno Hatta atas nama bangsa Indonesi, adalah upaya mendapat legitimasi pengukuhan kedaulatan secara utuh menjadi cikal bakal bangsa dan negara Republik Indonesia. Yang dapat mengatur dan mengelola dibawah telapak tangan sendiri di bumi pertiwi tanpa campur tangan negara manapun.
Inilah Titik Nol peralihan kekuasan pemerintahan formatur kita dari kolonial Belanda merupakan awal dari perjalanan pemerintahan baru, untuk membangun menjadi sebuah negara yang berkembang sesuai cita cita perjuangan dan falsafah bangsa menuju masyarakat adil makmur “Gemmah Ripah Loh Jinawi”.
Realnya, kita tidak pernah tau pasca kemerdekaan berapa kekayaan “Kas Negara ” ketika ditinggal Kolonial dalam keadaan Minus atau Plus cukup untuk membangun 5 tahun kedepan ?
Selain aset hasil pampasan perang — dengan kekayaan alam yang melimpah — untuk memulai, pembangunan Infra struktur, ekonomi politik, dll.
Tentu saat itu jika tidak ditopang “financial”, mungkin akan tersandung jalannya roda pemerintahan. Kecuali memulai dengan berhutang. Atau menjual aset pampasan dan hasil kekayaan alam, terbukti dengan ancaman kekuatan Agresi Belanda Kedua, menuntut kebutuhan untuk dapat mengimbangi kekuatan lawan. Untuk memesan perlatan tempur dan senjata dengan membeli, meminta sumbangan. Sisanya ngutang seperti ke negara Rusia dll. Yang didukung oleh semua elemen bangsa untuk saling menopang tak ada perbedaan baik Agama, Suku, dan adat istiadat, serta warna politik. Walaupun berbeda tetapi satu tujuan, mempertahankan kedaulatan negara & pemerintah, dengan pemimpin yang sah, di akui oleh negara-negara di dunia.
Kabinet formatur pemerintah kita, dalam proses membangun secara bertahap bukan tanpa gangguan baik dari dalam dan luar. Rongrongan perang saudara, perpecahan, pemberontakan akibat datangnya idiologi luar yang ingin merebut panggung kekuasaan pemerintah baru, dengan cara memakai tangan putra/putri bangsa yang lugu dijadikan boneka sekenario mainan yang kapan saja diperankan.
Dengan tertatih-tatih begitulah potret
Pemerintahan kita, dapat bertahan dari guncangan. Dengan semangat cita mulia dan tulus pada Bangsa & Negara. Jiwa patriotisme para tokoh, pemimpin dan kabinet kerja berjuang menjalankan roda pemerintahan, dengan dua arah, Pembangunan politik, wawasan bangsa dgn nilai-nilai falsafah Pancasila. Memperkuat milititer dan infrastruktur secara bertahap, sehingga dapat terjaga persatuan.
Perjuangan bangsa belum usai, Di usia ke 78 tahun bangsa ini terbilang muda tidak, tua juga tidak, dibanding negara-negara yang sama-sama atau lebih dulu merdeka di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin, masih ada negara miskin, malah negara lain tertinggal. Pembangunan kita cukup pesat disegala bidang. Hanya saja pertumbuhan ini dibangun dari utang ke utang. Apa karena keterbataan Kas Negara sejak awal? Sehingga harus dimulai dengan berhutang, mungkin dari asal Satuan Triliun? Menjadi puluhan , ratusan hingga ribuan Triliun yang saat ini masih diperbicangkan
Apakah selama ini utang pernah berkurang? Tentu timbul pertanyaan apa negeri kita selama dikelola Belanda memiliki utang? Atau malah Belanda menjadi kaya dan makmur akibat hasil kekayaan alam kita?
Jika pemerintah kita sejak awal dibangun dari utang, tentu akan menjadi tanggung jawab pemimpinan selanjutnya secara estafet? Tetapi kenyataannya, utang tidak dapat teratasi sehabis masa jabatan setiap pemimpin.
Pinjaman utang ke utang oleh pemerintah, terus berlanjut dilakukan atas kebijkan pemimpin dan kabinetnya dengan dalih pembangunan. Tetapi belum ada satupun yang dapat mengurangi utang apalagi melunasiinya, sehingga negara ini tidak memiliki utang luar negeri. Apa kemajuan negara kita ini Idealnya dibangun dari utang atau dari hasil kekayaan sumber alam?
Lantas apa setiap pergantian kekuasaan tambah ngutang terus? ironis nya terus dan terus padahal alam kita yang begitu kaya raya sering dijabarkan jika dikelola dengan baik dan jujur oleh anak bangsa, mampu melunasi utang bahkan bisa swasembada. Layak nya Belanda.
Dari waktu ke waktu antar calon pemegang kekuasaan pemerintah ini secara estafet, dengan segala bentuk progam propaganda dengan berbagai janji pembangunan yang spektakuler ditawarkan dalam setiap kampanye. Pada perhelatan politik Prmilu, agar dipilih masyarakat menduduki kekuasaan dan dapat mengatur / mengelola negara demi cita-cita perjuangan adil makmur dalam berbagai sektor, slogan rayuannya?
Dengan tim pemenangan seolah merekalah yang akan menjadi pejuang sejati untuk membela rakyat, saling berdebat, kupas tuntas dengan argumen. Segala teori dikerahkan tentang cara yang baik mengelola pemerintahan dan kekayaan alam.
Orasi yang berapi-api bagai petarung unggul dengan jiwa, raga dan harta demi kemakmuran dan kemajuan rakyat apapun dikorbankan.
Namun kenyataannya, ratusan, ribuan hingga jutaan hektar tanah, lahan perkebunan, kehutanan, pertanian tidak dikelola oleh pemerintah secara utuh, dengan badan usaha milik negaranya dan sumber alam tidak dikuasainya sesuai UUD pasal 33. Kebutuhan bahan pokok tidak dapat lagi dikendalikan oleh pemerintah pasca reformasi.
Perusahaan swasta asli pribumi seperti sulit mendapat prioritas dan kepercayaan untuk menglola potensi-potensi alam yang strategis dari sumber pendanaan yang diberi kepercayaan oleh Perbankan. Seperti tambang, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan dan industri lainnya.
Sektor kekayaan alam ini hampir-hampir tidak ada tempat lagi bagi masyarakatnya mereka hanya jadi penonton yang tak punya peran, cuma mengais dari sisa-sisa.
Lebih aneh lagi hutang terus bertambah, bukan berkurang apalagi lunas isi kekayaan alam terus berkurang. Tanah terasa menyempit, akibat dikuasi segelintir orang tetapi tidak produktif. Wal hasil entah siapa yang menikmati ??
Jika potret bangsa hari ini benar adanya dari tahun ke tahun tidak semakin jelas.
Mungkinkah ada yang salah tata kelola atau hilang jiwa patriotnya
ini sebagai cermin kita kedepan?Perjuangan kemerdekaan bangsa sesungguhnya belum usai. Yakni, persiapan generasi berikut sebagai upaya mempetahankan kekayaan alam sebagai warisannya.* penulis – wartawan dan Ka.Biro CBN Sukabumi Raya




