Tentena, Poso – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Setiap melintas di pinggiran kota dingin Tentena, Kecamatan Pamona Utara dari arah Poso, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), pastilah akan melewati tempat ini. Namanya Panti Sosial Tresna Werdha.

Selama ini tidak banyak yang tahu keberadaan Tresna Werdha dan apa yang ada didalamnya.

Ternyata disana, ada puluhan jompo dan Lansia yang ditampung, dipelihara, diurus dan dipenuhi kebutuhan dasarnya.
Dipanti tersebut, para jompo dibuat agar bisa menikmati hari-hari bahagia disisa masa tua mereka.

Inilah yang mengusik CBN, untuk menengoknya. Bertepatan, momen investigasi ke wilayah batas Poso dan Kabupaten Morowali Utara (Morut) baru-baru ini, CBN pun menyinggahi panti itu.

Bahwa ternyata pula terungkap,Tresna Werdha Madago Tentena, adalah satu-satunya panti sosial jompo Lansia yang ada di Sulteng.

Ya, di Tresna Werda ada cerita tersimpan. Tentang para jompo yang dititipkan keluarganya, Atau karena,telantar, kemudian “dipelihara” sebagaimana mestinya.

Disisi lain, bagaimana tentang suka duka petugas, sekaligus perawat yang mengurus para jompo dan Lansia, kendati tidak memiliki basic. Belum lagi dihadapkan keterbatasan anggaran.

Setidaknya, itu sepenggal cerita yang sempat CBN rekam, saat Kepala Panti, Rajana, SHut menjelaskannya panjang lebar.

Panti Tresna Werdha sendiri dalam mengakomodasi para jompo adalah tidak berbayar. Artinya, dalam penyelenggaraannya selaku panti jompo, semua dibiayai oleh pemerintah.

Disatu sisi, pandemi covid, telah ikut mengimbas program- program yang sudah disusun dalam penganggaran untuk kebutuhan panti.

Padahal dahun kemarin, sebenarnya ada Rp. 7 Miliar dana yang dialokasikan ke Panti Tresna Werdha. Tapi program tadi, tidak bisa direalisasi sesuai apa yang sudah direncanakan. Tetapi, pemberdayaan tetap dilakukan.
“Maka dengan anggaran terbatas, kemarin iru hanya bisa mengakomodir 48 jompo. Hingga ada ketambahan menjadi 50 Lansia,” terang Rajana.

Namun kata Rajana lagi, kemampuan mengakomodir pr
ara jompo di Panti Tresna Werdha tidak berarti hanya untuk 48 orang. Sebab kenyataannya, jumlah jompo Lansia ditempatbtersebut, pasti selalu lebih dalan sisi jumlah. “Kenyataannya seperti itu. Kendati sudah full dan tidak ada tempat lagi, tetap kami terima. Contoh belum lama ini kami terima jompo telantar yang direkomendasi Dinsis Poso dan sempat viral, sekarang ada pada kami,” jelas Rajana.

Menurut Rajana, jujur saja sarana dan prasarana yang dimiliki panti dibawah tanggung jawabnya, serba terbatas. Namun pemberdayaan terhadap jompo penghuni tetap harus berjalan.* jay – bersambung