Palu, Sulteng – Cakrabhayangkara news. com (CBN) – Hingga delapan kali penanyangan dugaan skandal asusila pejabat eselon II provinsi dan ASN/PNS Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Gubernur dan Wali Kota belum bergeming. Bungkamnya kedua pejabat daerah itu menimbulkan berbagai tanya hingga spekulasi. Apakah mungkin Gubernur dan Wali Kota menganggap berita tersebut tak penting?. Hingga, membiarkan isu ini menjadi “bola liar”. Atau mungkin, karena masih banyak persoalan lain, lebih urgen dan prioritas ketimbang menanggapi soal dugaan selingkuh pejabat eselon II provinsi dan ASN/PNS kota. Tapi untuk apa Gubernur menghelat reat-reat hingga mengaji untuk “mendetoks” pejabatnya? “Tentu tak lain dalam rangka mendorong introspeksi diri sang pejabat. Bahwa perlu membuatkan 36 pejabat elelon II yang dilantik 31 Desember 2025 ruang dan waktu — walau hanya tiga hari — untuk “merenung” sembari tafakkur, agar bisa amanah nantinya saat melayarkan biduk institusi tidak salah arah. Ini sebab, Gubernur merefresh akhlaq dan moral para pejabatnya.
Namun dibalik “dinginnya” sikap Gubernur dan Wali Kota menimbulkan beragam estimasi ditengah kuatnya desakan agar Anwar Hafid melakukan reshuffle. Segera copot si pejabat diduga selingkuh, agar tak mengotori “Karpet Merah” kereta Sembilan Berani yang tengah dikebut.
Lantas bagaimana up date si pejabat eselon II dan perempuan ASN/PNS kota? Hingga Selasa (3/3/2026) — atau sekitar kurang lebih dua bulanan — rumah kost tempat pertemuan keduanya untuk ber-indehoi, sudah lengang. Dulunya, tempat ini hingga belasan kali menjadi saksi bisu antara si pejabat provinsi dan perempuan ASN/PNS Kota Palu. Keduanya selalu memakai dinas. Si laki dengan kendaraan berplat merah dan si perempuan pakai grobik pribadi. Setidaknya dalam pemantauan ketat yang sebagian terekam dalam video dan foto-foto yang ada ditangan sumber. Kini bingkai besi yang menempel di pintu masuk depan nampak terbuka, tidak terkunci.
Sumber di kantor si pejabat, mengatakan boss mereka seperti kurang bersemangat, dua bulanan terakhir. Tidak fokus seperti sebelum-sebelumnya saat duduk di kursi Kadis. Sesekali terlihat ia termenung seperti merenung.
Perempuannya bagaimana? “Ibu tidak seceria dulu. Kadang terlihat murung, kusut. Seperti ada beban. Kalaupun tersenyum seperti dipaksakan. Tidak seperti itu kebiasaan ibu,” ungkap sumber dilingkup kerja siperempuan.
Pastinya saat ini, berita dugaan pejabat selingkuh kata sumber, sudah meluas. Memicu reaksi ragam komentar berbagai kalangan, lapisan, pemerhati, bahkan para Kadis dan masyarakat umum. Bahkan juga kalangan jurnalis sendiri.
Seperti Kepala Dinas (Kadis) provinsi yang menyisip komentarnya via WhatsApp (WA).
Mungkin lantaran rasa “korsa” sebagai bentuk semangat keakraban dalam korps, hingga melahirkan semacam “pembelaan”.
Landai, namun justru terkesan mencibir. Si Kadis menyatakan bahwa berita CBN, Inakor dan Butol Post, bersambung dengan narasi berulang. Memang betul!. Tidak salah. Bukankah “Lancar Kaji Karena Diulang? Artinya, segala sesuatu harus dilakukan secara berulang, agar benar-benar dipahami. Tapi kan ada pejabat yang paham dan ada juga tidak. Kendati itu Wali Kota pun, Gubernur. Bahwa sejatinya, Gubernur dan Wali Kota berterima kasih, karena telah diingatkan. Wartawan sudah ikut membantu menunjukkan kalau hasil seleksi Gubernur memilih pejabat, tidak akurat. Gubernur kebobolan.
Berita yang ditayang CBN, Inakor dan Butol Post, murni adalah manifestasi dukungan kepada Gubernur dan Wali Kota. Sekali lagi — memberi tahu — bahwa dikabinet Anwar Hafid dan Hadianto Rasyid, ada noktah noda yang harus “dibersihkan”.
Khusus kepada Wali Kota, wartawan lewat medianya memberintahu kalau tidak jauh dari ruangannya, ada oknum ASN/PNS nya yang diduga telah berbuat kotor, hingga nanti bisa perburuk citra pemerintah kota.
“Jangan sampai Palu yang lagi berbenah disegala sisi dengan visi “Mantap Menuju Indonesia Emas 2045 — dengan jargon pembangunan yang berkelanjutan, inovatif, dan kolaboratif — tercederai.
Kembali kepada oknum Kadis yang mencap berita dugaan pejabat eselon II asusila hanya fiksi, dijawab sumber. Jika fiksi berarti diluar fakta? Si Kadis yang belum CBN sebutkan nama dan dinasnya, menganggap publis media sebatas kacangan, tidak bernilai dan hanyalan karangan wartawan. Seolah itu cerita bersambung (Cerber), bukan kontrol. Si oknum Kadis lupa, justru saat ini media lewat beritanya, tengah “menolong” Gubernur dan Wali Kota” dengan ketajaman intuisi juga kontrol terhadap pejabat publik yang “kepergok selingkuh”. Itulah kontrol sosial atau social control wartawan.
Jika ditanya, maukah si oknum Kadis yang berkomentar diperlihatkan video dan foto-foto kebersamaan si pejabat eselon II dan PNS/ASN lingkup Kota Palu? Mungkin baru si Kadis percaya bahwa berita yang disebut fiksi itu valid dan bukan opini. Tapi kan Gubernur dan Wali Kota belum menanggapi?
Ada juga Kadis lain bertanya, apakah pejabat eselon II diduga asusila itu yang sudah dekat pensiun? Tapi yang cukup tegas dari cuitan wartawan, muncul dari harian cukup terkemuka di Sulteng. Begini, “Kalau memang seperti yang ditayang CBN itu dilakukan oknum pejabat dan ASN/PNS Kota, maka ganjarannya adalah “pecaaaaat…..! * tim bersambung












