Foto Atas : Ia begitu apa adanya
Dia begitu komit dengan yang namanya regenerasi. Itu sebuah fasr, perputaran dan proses. Ketika satu bersasil, beri jalan dan buka peluang untuk yang lain tampil sesuai potensi dan kelebihan-kelebihannya.Makanya dari jauh hari, ia buka kesempatan kepada yang lain untuk terjun ke panggung politik — utamanya para generasi muda — menjadi wakil rakyat dari Dapil Tojo, Tojo Barat dan Ulubongka proyeksi 2024 mendatang. Lebih bagus lagi katanya, jika figur itu berasal dari desa yang telah turut ia bangun, Bahari.
Satu hal pasti, ia begitu peduli terhadap perkembangan daerahnya Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah (Sulteng). Sehingga cap yang pernah dilekatkan ke Touna sebagai salah satu daerah tertinggal karena miskin ekstrem dari 12 kabupaten satu kota di Sulteng. Itu, idak bisa ia terims. Sebab baginya, indikasi kasat mata hampir tidak pernah dijumpai di Touna. Misalnya, munculnya — maaf — para gelandangan dan pengemis (Gepeng – red) di sudut-sudut Kota Ampana atau di perempatan jalan. Artinya apa? Touna sebenarnya bukanlah daerah tertinggal. “Kalaupun jadi tertinggal, itu karena kelirunya pencatatan administrasi alias pencatat data,” katanya.

Begitulah Ketua Partai Gerindra Touna H. Ismail Labatjo saat disambangi CBN di kediamannya yang sekaligus adalah hotel cukup berkelas dengan fasilitas lengkap AC, ruang yang lega dan tawaran kenyamanan lainnya, di Desa Bahari. Hotel yang sudah punya tempat tersendiri dihati pelanggannya serta cukup dikenal itu, bernama Melinda.
Masih sedikit soal status “kurang manis” Touna, Ismail memberi argumennya dengan cukup jelas dan runtut. Menyusul dinyatakannya Touna lepas dari status daerah tertinggal bersama Donggala dan Kabupaten Sigi. Lepasnya Touna dari cap “tertinggal” dan miskin ekstrem bersama Donggala dan Sigi, juga telah ikut membabaskan “belenggu” Sulteng yang tadinya juga terposisi satu-satunya daerah tertinggal di Sulawesi. “Jadi mari bicara fakta,” kata H. Ismail.
Menurutnya, cukuplah satu periode baginya untuk memberi peluang kader-kader terbaik Touna — terutama dari Dapil III Tojo, Tojo Barat dan Ulubongka — untuk duduk di kursi DPRD Touna. “Saya hendak memberikan contoh yang baik kepada siapapun. Untuk memberi — sekali lagi — kesempatan buat yang lainnya. “Padahal kalau mau — maaf — biar tidak kampenye, masih banyak yang mau memilih dirinya di 2024. Tapi itu tidak ia lakukan.

Bagi Ketua Fraksi Gerindra dan Ketua Badan Kehormatan (Banhor) yang kini duduk di badan Anggaran (Banggar) DPRD Touna — sekaligus juga — pendulang suara terbanyak ketika Pileg 2019, ia mau ada putera-putera Tojo lainnya bercokol di dewan Touna pada 2024. Menurut Ismail, ia pakai jabatan yang melekat saat berada disituasi yang tepat. Ketua Fraksi, Banhor dan Banggar, saat ia di DPR. “Kalau Ketua Partai, kemungkinan saat rapat,” kata H. Ismail yang banyak mencukil kisah lalunya saat masih remaja, sehingga membuat CBN terinspirasi untuk membeber “cerita” itu sebagai Kisah Inspiratif yang menarik untuk disimak. Tapi itu nanti, pada tayangan selanjutnya.
Yang pasti, sosok sederhana ini memang tipikal bersahaja dan apa adanya. Saat diambil fotonya, ia tidak merasa enggan dan grogi penampilan. Bukan berarti jelek, karena memang ia masih gagah dan energik. Tetap saja Ismail enjoy dengan setelan kaos putih dan celana pendek Levisnya. Ya, seseorang yang tetap menunjukkan “keapa adaannya”.
Menurut Ismail.Labatjo, ada fakta kedua yang sebetulnya yang kontradiktif tapi justru ada orang “senang” jika dibilang miskin dan tidak mampu. Mengapa ? Karena jika miskin dan terkategori tidak mampu, ada celah untuk memperoleh bantuan dari pemerintah. Maka besar kelirunya di sini. Bahkan, jika tidak mendapat bantuan, banyak yang “ngomel-ngomel”. Nah, itulah yang terjadi di Touna. Saking melimpahnya “yang senang dikatahan miskin”, sehingga akhirnya bisa mendapat bantuan. Padahal, sesungguhnya orang itu tidak miskin. “Nah, inilah yang terjadi. Dia marah kalau tidak kebagian sembako dan lain-lain.” kata ungkap Ismail, yang duduk di dewan dari.latat belakang kontraktor.
Padahal di satu sisi lanjutnya Ismail, orang yang dibantu itu, mampu. Ia ada sepeda motor, kelengkapan rumahnya juga ada. Cukup penghasilannya. Tapi giliran ketika bantuan mau turun, dia pastikan bahwa dirinya miskin. Sekali lagi ini fakta. Lantas, coba turun ke Desa Bahari, tunjukkan mana dan siapa yang miskin? Kenyataan terbalik kalau membuka data, mungkin ada seratus orang miskin di Desa Bahari. Tapi sungguh tidak sesuai antara fakta dan data. Sementara yang dipakai pusat adalah data.

Lalu mengapa itu bisa terjadi? Kata Ismail lagi, kembali liat faktanya. Karena inilah yang harus diperbaiki bersama. Apa itu?
Ismail menyebut — seperti sudah dipapar diawal — ini karena pendataannya yang keliru. Ini jualah yang perlu dievaluasi. Contohnya petugas dari Statistik yang bertanya, “Ini diisi pak? Lalu yangvdiyanya menjawab, “Ini tidak usah, ini tidak usah dan ini juga tidak usah”. Maka hasil.pendataan yang diperoleh, tidak sesuai Jauh dari riil objektif. “Makanya saya bilang, inilah yang perlu diperbaiki,” tegas Ismail.
Dan, tak terasa wawancara sudah panjang dengan penjelasan-penjelasan yang masuk akal dan begitu menarik. Hingga CBN memutuskan untuk membaginya dalam beberapa segmen.* dar – jay – bersambung





