Palu, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) –Jalan keluar dari kesulitan masyarakat — salah satunya adalah — harus mengoptimalkan potensi wilayah. Jika — misalnya ada investor masuk menanamkan investasinya, welcome lah. Tapi juga dengan catatan, masuknya investor tidak harus merusak lingkungan. Bukan berarti menolak investasi, karena dampak investasi yang serampangan dan tak mengindahkan lingkungan, bisa berakibat kerusakan yang fatal. “Membangun daerah, juga butuh orang luar, tapi harus menjaga etika lingkungan.”Satu hal lagi, jangan mau “dibeli” hanya dengan uang Rp.50, Rp. 100, atau Rp. 200 ribu.”
Begitu Aleg DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) H. D
Suryanto, SH, MH Dapil Banggai Bersaudara, yang juga Wakil Ketua DPD PDIP Provinsi Sulteng kepada CBN baru-baru ini.

“Ya, daerah belum bisa mengatasi persoalan rakyat di sekitarnya. Mengapa? Karena adanya berbagai problem tadi. Jika dananya terkesan triliunan, itu hanya akan habis membayar gaji. Sementara buat pemberdayaan masyarakat, sekian persen.saja,” ungkap H. Suryanto.
H. Suryanto dikenal intens dan vokal memperjuangkan kepentingan dan hak-hak masyarakat. Apalagi dari Dapil dimana ia diusung, yakni Banggai Bersaudara. Sedini mungkin ia menitip pesan. Tolong katanya, masyarakat jangan salah memilih figur. Juga jangan mau “dibeli” hanya dengan uang Rp.50, Rp. 100, atau Rp. 200 ribu.
Hari ini sebut H. Sur, kondisi masyarakat sulit. Daya beli rendah. Panen tidak maksimal di tingkat petani yang harga jual ke pasaran juga berada di bawah rata-rata. Biaya produksi pun kian mahal, pupuk subsidi pemerintah dibatasi. Lalu, dimana untung petani dan nelayan hari ini? “Maka harapan dan imbauan saya kepada masyarakat, jangan mau anda dibeli. Ini saatnya rakyat menentukan pilihan terbaik anda. Sekali lagi kenalilah figur atau sidik yang kalian pilih. Dan bagi yang dipilih, kenalilah pula yang memilihmu,” imbau H. Suryanto mengajak berpikir objektif, positip dan mencoba memberi pencerahan.
Kepada CBN Suryanto menyatakan ketegasannya bahwa saat ini jangan lagi ada cerita klasik — seperti maaf — oknum caleg ramai-ramai “membeli” suara rakyat. Sekali lagi, oknumnya ya?

“Jadi, inilah kesempatan masyarakat menilai. Dan saya mengingatkan. Kepada siapa yang tepat masyarakat mewakilkan suaranya lewat — nantinya — caleg-caleg DPRD. Tidak lantas hanya diberi Rp. 50 ribu, Rp. 100 ribu atau Rp. 200 ribu, kemudian digiring untuk memilih siapa,” katanya lagi. Makanya masyarakat, janganlah mau dibeli. Tapi lihatlah figur yang betul-betul menyuarakan kepentingan dan kebutuhan rakyat. Kenanilah dengan baik dan teliti. “Jangan malah tim sukses yang kalian kenali. Karena bukan tim sukses yang akan mengakomodir kepentingan rakyat, tapi si figur tadi,” Sur berkali-kali mengingatkan. Harus lebih hati-hati.
Tugas legislatiflah yang mengambil peran di sini. Orang-orang di politik yakni anggota dewan, tentu akan membantu masyarakat di wilayah dimana dia berasal. “Dengan catatan, tolong bantu kami. Memilih figur yang pas, yang bisa diharapkan dapat mengakomodasi kepentingan masyarakat saat duduk di
legislati nanti,” tegas Suryanto.
Menurut Suryanto, DPR akan membantu masyarakat tapi bukan dalam bentuk uang. Namun memfasilitasi kebutuhan masyakat, lewat program-program
pemerintah, dengan memperjuangkannya lewat Musrenbang, e- pokir serta bentuk aspirasi lain.
“Kami akan bantu masyarakat berupa program dengan catatan, tolong bantu kami. Kami gak punya duit untuk membeli rakyat. Tapi kami punya keinginan dan kewajiban saat menjadi anggota DPR dan akan kami penuhi kebutuhan-kebutuhan rakyat,” ungkap Haji Sur.

Menurut Sur, untuk membeli suara rakyat ia tidak punya kemampuan.
Karena anggota DPR bukan pengusaha tapi politisi murni yang hanya mengharap gaji.
Dalam catatan CBN, H. Suryanto menjalani tiga periode di Dapil Banggai Bersaudara. Mulai tahun 1999 – 2004, 2004 – 2009 dan 2009 hingga 2014. Kemudian melangkah ke provinsi satu periode 2019 -2024. Suryanto menambahkan, bicara saat ini bagaimana memberdayakan masyarakat menengah ke bawah, yang kehidupannya masih bergantung bantuan. Pertanyaannya, kepada siapa mereka (masyarakat -red) mau mengadu?
Intinya, masih begitu banyak keluhan masyarakat. Tapi kan tidak bisa semua diakomodir. “Tentunya, orang yang telah memilih figur yang tepat itulah yang didahulukan untuk dibantu lewat program-program inovatif,” tutur H Suryanto.* jay – bersambung




