Atas : Amiruddin L
Bawah : Beberapa penggalan foto ruas batas Desa Buleleng ke Sambalagi yang jadi tanggung jawab Kabupaten
Palu, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Program Gubernur Sulteng “Berani Lancar” dari “Sembilan Berani” untuk Sulawesi Tengah (Sulteng) “Nambaso” (Besar – red), sudah berjalan. Namun untuk beberapa daerah yang infrastruktur jalannya menjadi tanggung jawab kabupaten, ada yang tetap berjibaku dengan lubang-lubang, becek berair, dengan variasi batu yang sebagian menonjol pada titik tertentu dari dalam tanah. “Waktu kampanye, Bupati janji 100 hari kerja, jalan kami dibenahi,” ujar salah satu warga Sambalagi yang kawin di Desa Laroenai.
Ya. Inilah yang dirasakan pengguna kendaraan — baik roda empat maupun roda dua — jika hendak menjangkau Desa Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulawesi. Tengah (Sulteng). Masih jadi “momok”.
Hal ini memang menjadi keluhan panjang masyarakat tentang ketidak nyamanan saat melintasi sekitar kurang lebih 10 KM jarak, sejak dari batas Desa Buleleng menuju Desa Laroenai — sebelum — lanjut ke Sambalagi.
Salah satu suara — dari beberapa — tokoh masyarakat Desa Sambalagi, muncul dari Amiruddin AL atau Amir — mantan — Kades Sambalagi. Menurutnya, tak keliru ada keluhan tentang kondisi jalan dari Buleleng ke Sambalagi. Rata-rata orang mengeluh. “Saya sendiri merasakan itu. Apa yang orang-orang rasakan, sudah seperti itu,” kata Amir kepada CBN di Sambalagi, Jumat (15/8/2026).
Yang diungkap Amir, setidaknya juga dirasakan CBN dan News TV serta pengguna jalan yang “menjadi langganan” rute “ke” maupun “dari” Desa Sambalagi – Batas Buleleng. Shock Breaker bunyi-bunyi seperti mau patah, saat memasuki batas Buleleng ke Laroenai dan Sambalagi.
Dalam catatan CBN, ruas Jalan Buleleng – Sambalagi di Kabupaten Morowali berstatus sebagai jalan kabupaten, yang menjadi tanggung jawab dan wewenang penuh Pemerintah Kabupaten Morowali. Status ini tercantum dalam data Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Morowali, di mana ruas tersebut termasuk dalam kategori jalan lokal primer. “Nah jika status jalan lokal.Sambalagi primer, berarti harus diutamakan dan tidak boleh disepelekan.
“Sekarang pertanyaannya, dimana program “Berani Lancar itu? Kepada siapa peruntukannya. Apakah hanya sekadar slogan? Mana janji Bupati Morowali saat kampanye : ‘100 Hari Kerja’, akan ia benahi lalan ke Sambalagi,” ungkap sumber CBN di Bungku.
Menurut sumber, wajar masyarakat mengeluh karena janji pemerintah tidak pernah terwujud. Sementara masyarakat Sambalagi membutuhkannya. “Itu benar. Jangan salahkan Amir sebagai representasi dari tokoh-tokoh dan umumnya uneg-uneg masyarakat Sambalagi, menyampaikan keluhan ini,” tekan sumber.* jay





