Atas dan bawah : Muhdar M.B. – Kades Tandaoleo

Apa yang diperoleh CBN dari lapangan adalah sejumlah sorotan terhadap kinerja oknum Kades Tandaoleo MMB. Kades dinilai tidak transparan dalam membelanjakan dan memilih prioritas infrastruktur yang dibangun di Tandaoleo.
Mestinya kata sumber, MMB tidak “mengulang kesalahan” yang sudah menjerumuskan kades sebelumnya SHR atas pembelanjaan dan penentuan prioritas kebutuhan desa. Sebagian terungkap sebagai — maaf – dugaan manipulasi.

MMB dinilai tidak terbuka atas apa yang ingin ia bangun di Tandaoleo. Disatu sisi, masyarakat harus tahu itu, misalnya terkait dana-dana masuk ataupun yang ada dalam kas desa. “Makanya, Kades MMB haruslah terbuka,” ungkap sumber CBN di Tandaoleo.
Sumber menambahkan, beberapa hal yang disorot, terkait pengelolaan infrastruktur desa. Misalnya, fasilitas pelabuhan penyeberangan di Tandaoleo, tidak pernah diketahui masyarakat. “Kades tertutup. Padahal, dana-dana desa yang ada harus diberitahu, agar ada transparansi,” komentar sumber.
Ketua BPD Tandaoleo Tasrik yang berusaha ditemui CBN beberapa waktu lalu, ketika itu tidak berada di tempat saat investigasi dilakukan. Semula, CBN ingin menggali informasi dari BPD soal tudingan terhadap ketidak transparanannya Kades dalam membelanjakan keuangan desa. Salah satunya prioritas pembangunan, dan pengelolaan lingkungan pelabuhan serta retribusi dermaga penyeberangan Tandaoleo.
Lalu, mengapa di Tandaoleo soal tranparansi penggunaan dana desa dan skala prioritasnya, muncul “protes”? Dan apa saja keluhan itu?
Yang terkuak dari hasil investigasi CBN misalnya, pembangunan lapak jualan di lokasi pelabuhan penyeberangan. Juga pemasangan paving block, malah tidak diketahui besar anggarannya karena tidak ada papan proyeknya saat dibangun.
Satu lagi yang disorot di Tandaoleo yakni, pengadaan perahu viber serta mesin katinting yang diduga konon hanya diberikan kepada kroni-kroni sang kades.
Mestinya kata salah satu anggota masyarakat yang datang menambah reverensi CBN, Kades lebih terbuka atas apa yang ingin ia bangun di Tandaoleo. Masyarakat sebagai pengguna, harus tahu semua itu.

Apa jawaban Kades Muhdar M.B. saat CBN membeber pertanyaan itu?
Menurut Muhdar, soal papan proyek bukan tidak dibuat. Ada, tapi terlambat diambil, karena dicetak di Bungku pada waktu itu, sudah lama.
“Saya menyadari kekurangan saya. Kalau dikritik, berarti masyarakat dan keluarga saya masih sayang dan suka sehingga mengingatkan dan saya tidak marah,” kata Muhdar yang menyadari tumbuh dan besar dikalangan keluarganya sendiri dari ujung ke ujung. “Kalau bukan Tante, om, keponakan itu cucu saya,” tukas Muhdar.
Bagaimana pembelanjaan ADD? Menurut Muhdar sejak istilah Bandes (Bantuan Desa) berubah menjadi DD dan ADD, dia makin berhati- hati mengelolanya, sebab itu uang negara. Penggunaannya harus jelas dan transparan. “Makanya, saya lebih hati-hati,” kata Muhdar M.B. Ooooo?* jay – bersambung





