Atas : Maruning
Bungku Pesisir Morowali, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Selalu padamnya lampu PLN — bahkan hingga berhari-hari — di Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng), menjadi keluhan yang mengemuka di sejumlah desa. Terutama di Sambalagi dan sejumlah desa sekitarnya seperti Laroenai dan Werea. Faktanya, desa-desa yang bergantung pada PLN, begitu merasakan dampaknya.
Bayangkan — beberapa malam — waktu harus dilewati dalam rumah dengan kondisi gelap. Sementara siangnya, komunikasi handphone (HP) terkendala, baterai yang habis, sehingga tidak bisa on, dikarenakan jaringan juga off. Ibu disebelah ngomel karena kulkas yang belum lama diservis kembali harus “diparkir” karena
lampu yang “nyala – padam”. “Rusak semua apa-apa,” teriak si ibu dengan berang.
Ya, betul-betul situasi yang membuat dongkol.
Maka tak heran suatu ketika — belum.lama ini — puncak kemarahan warga — terutama para ibu — melampiaskan kekesalannya melakukan demo di sub Ranting Pembangkit PLN Desa Lafeu. “Hanya gara-gara tiang tumbang, sampai tiga hari lampu kami tidak nyala,” kata sejumlah warga Sambalagi kepada CBN, Sabtu (20/6/2026).
Kendati ada warga yang punya genset, tapi sebagian besar mengandalkan PLN. “Tidak mungkin mesin cuci atau kulkas digerakkan genset yang dayanya terbatas. Tidak ekonomis Karena memakai BBM,” keluh warga lainnya.
Ada cerita berkembang dimasyarakat. Bahwa petugas PLN akan secepat kilat datang ke lingkungan.perusahaan, jika ada trouble listrik atau tiang rubuh. Tapi, jika itu dilingkungan pemukiman, jangan harap petugas datang. Gangguan lambat ditangani, dan biasanya disusul dengan padamnya lampu, seperti kejadian saat ini.
Salah satu tokoh masyarakat Sambalagi berharap ULP Bungku mengevaluasi kinerja jajaran Sub Ranting Pembangkit Lafeu. Sebab gara-gara lampu selalu padam dan — sering – “nyala padam”, banyak peralatan rumah tangga seperti kulkas, mesin cuci, rice cooker dan lain-lain seperti sudah dipapar diawal, pada rusak. “Jajaran PLN di kabupaten, mestinya membekali tenaga operator dan lapangan yang baik kinerjanya dan profesional. Jangan yang malas dan hanya banyak main hp sehingga lupa tugas mereka memberikan pelayanan terbaiknya ke masyarakat,” kata Maruning (58), tokoh masyarakat. Pernyataan Maruning dikuatkan Hama dan Amin yang juga tetua Sambalagi. “Bagi kami yang berbisnis jual beli ikan, harapan terhadap listrik PLN sangat besar tidak kepada genset,” kata Hana dan Amin.
Apa yang dialami dan diklaim warga Sambalagi.juga dirasakan CBN yang kesulitan mengakses internet karena jaringan sangat terganggu bahkan harus off gara-gara lampu padam di Sambalagi hingga 3 X 24 jam. Huuuuuu. Busyet!* jay







