Buol, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), terus berusaha merealisasi program, pasca Covid-19. Ada banyak program yakni kegiatan-kegiatan Pemda, kemudian dicoba untuk dikembali pada porsinya. Ini jika mengevaluasi — misalnya — program tahun 2021.
Artinya, Dishub Buol, mengembalikan lagi Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) Dishub keporsinya dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian anggaran. Seperti juga yang dilakukan ditahun 2022. Misalnya, untuk fasilitas rambu-rambu lalu-lintas. Juga satu kegiatan kemarin, yakni pembenahan Pelabuhan Kumaligon. Sebelumnya pembenahan pelabuhan tersebut, dilakukan dengan perbaikan pada sisi taludnya.
Demikian penjelasan Kadishub Buol M. Yamin Rahim, SH, MH kepada CBN beberapa waktu lalu. Menurut Yamin Rahim, masih ada satu program lagi yakni pembangunan tambatan perahu. Kemungkinan jika meleset, maka akan dimantapkan ditahun 2023. “Insyaallah ditahun 2023, kita akan format itu program itu. Saya sendiri sudah menyampaikan kepada Kabid-kabid untuk merencanakan, merancang program sesuai Tupoksinya,” jelas Yamin Rahim.
Tahun-tahun sebelumnya kata Yanin, sebenarnya DPA sudah dirancang, cuma — sekali lagi — kita terimbas Covid-19 didua tahun anggaran hingga 2021. “Makanya, relatif didua tahun tersebut tidak ada kegiatan. Tugas kita, relatif hanya bagaimana pengendalian di darat untuk keluar masuk Buol dan kegiatan Tupoksi lain. Seperti itu yang sudah kita lakukan,” cerita Yamin.
Maka sambung Yamin, semua program yang tertunda kemgkinan akan dikondisikan lagi ditahun 2023. “Istilahnya, sama dengan memulai lagi, dengan mendudukkan Tupoksi tadi, sesuai program yang sudah direncanakan diawal,” katanya.
Bagaimana program lainnya? Ya, aspek Perhubungan Darat salah satunya. Kita berharap, Insyaallah tidak ada lagi refokusing anggaran. Sehingga kita akan lebih leluasa merencanakan program sesuai ketersediaan anggaran untuk tahun 2023 dan 2024,” ungkap Yamin Rahim.
Untuk dua pintu masuk Buol bagaimana lagi? Misalnya gerbang Pelabuhan Leok dan Bandara Pogogul?
Kalau Pelabuhan Leok tunjuk Yamin, masih tetap dikendalikan pemerintah pusat, belum diserahkan ke daerah. Pihak Dishub Buol hanya memanfaatkan jalur koordinasi. Demikian pula dengan Bandara Pogogul. Dishub hanya memberikan support, supaya Pogogul jangan sampai ditutup dan penerbangan tetap ada. Disini, Pemda juga tetap memberi motivasi untuk pengembangan Bandara kebanggaan masyarakat Buol itu.
Saat ini gambar Yamin Rahim, Bandara Pogogul berhadapan dengan masalah penumpang yang kurang, sebab tiketnya mahal. Makanya diupayakam di-2023 ini, penerbangan akan bergairah kembali.
Pihaknya tambah Yamin, sudah bertemu dan bicara dengan Dirut Angkutan Udara Pusat, untuk meminta agar di Buol ada penerbangan Susy Air. Mengapa? Suoaya bisa mengantisipasi keinginan masyarakat Buol untuk dapat mempersingkat waktu perjalanan dari dan keluar Buol melalui pintu udara. Tentu dengan harapan, tiketnya terjangkau. Bahkan 5 atau 10 penumpang pun bisa diterbangkan. Saat ini, jika tidak cukup 30 penumpang dari Buol dan juga 30 dari Palu, pesawatnya tidak bisa diberangkatkan.
Apakah ada upaya agar ada subsidi dari Pemda? Mungkin sebut Yamin bisa saja dilakukan. Tentu selama kemampuan keuangan daerah bisa. Yang pasti, saran dari Dirut Angkutan Udara, bila. — misalnya ada subsidi Pemda — mungkin boleh. Dengan catatan, kelebihan harga tiket yang semula Buol – Palu hanya Rp. 700 ribu dan sebaliknya, harus disubsidi. Karena saat ini harga tiket sudah menjadi Rp. 1 juta lebih.
Wings Air sendiri saat ini melayani rute Palu Buol dan Buol Palu dua kali dalam seminggu. Itupun jika penumpangnya ada. Sementara kapal, hanya Sabuk Nusantara yang dandar di Dermaga Leok. Kelebihan Kapal Sabuk Nusantara, lantaran tiketnya super murah. Sementara Kapal Roro, tengah diupayakan bisa menyinggahi Buol untuk penumpang dan barang tujuan Palu.* jay







