Peringati 100 Hari Wafat Al Alamah Al Arif Billah Syeh KH. Mahmud Hasil Bin Muhammad Hasil di Majelis Nur Wasilah – Bengalon

screenshot 20250609 181103 1
screenshot 20250609 181103 1

BENGALON, Kutim – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) –Pimpinan Majelis Nur Wasilah, Desa Sepaso Barat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) Abah Guru Syahrani atau yang lebih dikenal Habib Unai, Minggu (08/06/2025) Malam, memperingati 100 Hari Guru Kita Al Alamah Al-Arif Billah KH Mahmud Hasil Bin Muhammad Hasil.

Al Alamah Al-Arif Billah KH. Mahmud Hasil Bin Muhammad Hasil,
wafat pada Rabu (19/2/2024). Almarhum dimakamkan di lingkup Majelis Taklim “Ubudiyah”, Jalan Jati, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

KH. Mahmud Hasil Bin Muhammad Hasil, adalah ulama yang produktif dalam menulis kitab. Ia wafat diusia kurang lebih 78 tahun. Lahir di Desa Teluk Tiram Banjarmasin, tahun 14 April 1946 M. Ayah Mahmud bernama Muhammad Hasil, seorang tukang cukur.

Guru Mahmud kecil belajar pada Muallim Syukur Teluk Tiram (KH. Abduss Syukur) mulai dari mengenal huruf hingga kitab kuning.

Setelah cukup berumur, Guru Mahmud masuk Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Selama 10 tahun di Kota Serambi Mekkah. Dia merasakan kepemimpinan dua ulama besar di zamannya, yakni Tuan Guru H. Muhammad Sya’rani Arif dan Tuan Guru H. Salim Ma’ruf.

Selama di Martapura, Guru Mahmud kerap menghadiri majelis-majelis taklim. Karena itulah Mahmud banyak mendapat sanad ijazah dari para ulama Martapura terdahulu. Di antaranya, dari Tuan Guru H. Anang Sya’rani untuk ilmu hadits, Tuan Guru H. Husin Dahlan, Tuan Guru H. Seman Mulia, Tuan Guru H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul), dan banyak lagi yang lainnya.

Meski berguru pada banyak ulama, Guru Mahmud mengaku bahwa guru utamanya adalah Tuan Guru H. Abdussyukur atau yang lebih dikenal dengan Muallim Syukur Teluk Tiram.

Pada tahun 1973, Guru Mahmud lulus dari Pesantren Darussalam. Setelah lulus di Pesantren Darussalam, ia memperdalam Ilmu Tasawuf dengan Muallim Syukur Teluk Tiram, khususnya permasalahan ilmu hakikat.

Setelah wafat Muallim Syukur, Guru Mahmud melanjutkan pencarian ilmu pada Tuan Guru Anang Ramli Bati-Bati.

Pada tahun 1990 Guru Mahmud hijrah ke Palangkaraya. Di sana, didirikannya Pondok Pesantren Sunan Jati.

5 tahun kemudian, Guru Mahmud mulai mengajarkan ilmu yang didapat dari Muallim Syukur. Beberapa orang kemudian merasakan manfaat dari ilmu tersebut di kehidupannya. Melihat kemanfaatan tersebut, Guru Mahmud pun kemudian menuangkan ilmu tersebut dalam sebuah kitab yang diberi nama “Simpanan Berharga”. Kitab tersebut diterima luas oleh banyak penuntut ilmu, dan membuat Guru Mahmud sibuk mengajar di berbagai daerah, khususnya wilayah Kalimantan.

Selain kitab “Simpanan Berharga”, beliau kemudian menulis kitab “Sarantang-Saruntung”, “Waja Sampai Kaputing” dan “Kayuh Baimbai”.* ary

img 20250803 wa0029
Share :

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *