Foto atas : Pj. Bupati Morowali Ir. H. Rachmansyah Ismail, M.Agr, MP
Bawah : Ketua Presidium FORMAT Sulteng – Penanggungjawab dan Orator Aksi – Siddiq Muharam
Bungku, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Masyarakat Tandaoleo dan Lafeu, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali bersama Forum Pemerhati Tambang Rakyat (FORMAT) Sulawesi Tengah (Sulteng), kembali mendemo Pj. Bupati Morowali Rachmansyah Ismail. Aksi dan orasi beserta dengan sejumlah tuntutan.plus bakar ban, digelar di depan Rujab sekaligus Kantor Bupati Morowali, Senin (1/4/2024) sekitar pukul 10.20 Wita pagi. Tak lain ini sebagai bentuk protes atas berkali-kalinya janji Pj. Bupati untuk memfasilitasi dan menuntaskan tuntuntan ganti rugi tanaman tumbuh masyarakat, yang kini sudah dalam penguasaan PT. Hengjaya Mineralindo.

Massa aksi di depan pintu Rujab Bupati
Dalam aksi kali ini Pj. Bupati Rachmansyah Ismail kembali tidak berada di tempat. Dikabarkan Kadis Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulteng itu masih di Jakarta. “Heran. Setiap kali aksi, bupati kok tidak ada,” ungkap salah satu anggota masyarakat di lokasi kepada CBN, Senin (1/4/2024).
Memang nampak mulai digelarnya aksi demo pertama, kala pendudukan jalan hauling PT. Hengjaya di Desa Tangofa, Sabtu (23/12/2023), hingga memasuki empat bulan, Rachmansyah Ismail tidak pernah langsung menemui masyarakatnya yang lagi berteriak minta persoalannya diakomodasi. Kecuali melalui perwakilan atau utusan. Sementara kalau bukan ke Jakarta, pasti Pj. Bupati ke Palu. “Apakah ini kebetulan, atau bagaimana?’ tanya sumber. Tapi kalau ada demo — mulai pendudukan jalan hauling PT. Hengjaya di Desa Tangofa akhir Desember lalu, ia tidak pernah mau temui para pendemo. Bila demo.di Tangofa, ia Bungku. Nah dua kali aksi di Bungku ia justru tidak di tempat. “Begitu seterusnya,” sesal salah satu peserta demo.

Demo kali ini, hanya Kasat Pol PP Morowali H. Sahrul Amin dan Asisten I Sekdakab Morowali Ir. Rizal Badudin yang menemui Siddik Muharam selaku
Koordinator Presidium FORMAT Sulteng dan penanggung jawab aksi. Siddik didampingi para pener
Menurut Siddiq membahasakan. keinginan masyarakat — ada dengan tidaknya Pj. Bupati Selasa besok — ini yang menjadi ketegasan pasca aksi.
1. Bila tidak ada kepastian apakah ada ganti rugi atau tidak, masyarakat akan tetap bermalam di depan Rujab Bupati. “Kami tidak akan beranjak dari depan Kantor atau Rujab Bupati Morowali, sebelum ada kepastian ganti rugi lahan masyarakat dari PT. Hengjaya,” tegas mereka serempak.
2. Pada aksi bermalam dua pekan lalu di tempat yang sama, masyarakat hanya dijanji dan melalui perwakilan dipertemukan dengan pihak PT. Hengjaya, tapi tidak ada juga realisasinya.
3. Janji Pj. Bupati tidak ada yang benar-benar memberikan kepastian agar bisa dipegang.
4. Sementara, masyarakat harus menanggung ongkos pergi pulang Tandaoleo – Lafeu – Bungku PP. Maka itu, masyarakat tidak akan pulang dan akan menunggu Pj. Bupati kembali ke Rujabnya.

FORMAT juga menandaskan dan meminta :
1. Sesuai janji Kasat Pol PP Morowali bahwa ganti rugi tanaman masyarakat dibayar sebelum tiba Lebaran Idul Fitri.
2. Upaya yang dilakukan Pemda Morowali lewat Pj. Bupati kemarin sudah menyurat ke Camat Bungku Pesisir untuk meminta penghentian aktivitas hauling PT. Hengjaya, karena keterkaitan dengan izin perlintasan.
“Namun hingga hari ini belum ada penghentian sementara perlintasan PT. Hengjaya dan aktivitas hauling masih berjalan. Itu juga yang ditagih masyarakat ke Pj. Bupati,” tegas Siddiq Muharam.
Sampai dengan berita ini tayang, dikabarkan masih banyak masyarakat Tandaoleo dan Lafeu menuju ke Posko Aksi depan Rujab. Mereka akan bermalam lagi di sana.
Dalam catatan CBN, demo Senin tadi merupakan aksi yang kelima kalinya, sejak pendudukan jalan hauling PT. Hengjaya Mineralindo di Desa Tangofa.* jay – bersambung






