Laporan: jaya marhum
Kolonedale, Morut – Cakrabhayangkaranews
com (CBN) –
Menggerutu, ngomel, jengkel dan dongkol bercampur jadi satu manakala — siapapun dia — bila hendak melewati ruas itu. Jika mungkin, malaikatpun akan angkat bicara dan memilih urung.
Yang jelas kondisi terkini, poros sepanjang kurang lebih 15 Km dari batas Desa Ganda-ganda, melewati Dusun Lambolo hingga Gunung Bangkele — pada beberapa titik — sudah mulai nampak kerusakannya.
Setidaknya, CBN yang mengalaminya langsung di lapangan. Itu ketika hendak balik dari Kantor Desa Ganda-ganda, Kecamatan Petasia. Saat mendaki diujung batas desa yang berbatas langsung Kolonedale — ibukota Morowali Utara (Morut), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), tak jauh-jauh dari Tower, kejadian.menjengkelkannitu. Ya ampun, mobil CBN tertahan diantara batu-batu. Pedal ditindis, tapi tak bisa jalan. Ternyata dua ban belakanglaj yang terperangkap diantata batu-batu.
Sungguh pendakian yang — walaupun hanya “sepotong” — tetapi sangat-sangat “merepotkan” bagi yang baru pertama kali melewatinya. Bayangkan, batu-batu berjejer tak beraturan selalu siap menghadang, “jika salah” memilih alur Di jalan — sekali lagi — berbatu dan berkerikil itu, kata orang-orang sekitar — sudah mulai terlihat dan makin meninggi saat belakangan ini digerus hujan. Dikhawatirkan, kondisinya membahayakan pengendara dan pengguna jalan lain (lihat baik-baik fotonya diatas judul berita -red)!
Ini masih cerita, ketika baru masuk sedikit saja ke Ganda-ganda. Nah, bagaimana kalau sudah sampai di Dusun Lambolo, yang kondisi jalannya lebih parah dari Ganda-ganda? Huuuu….
“Itulah keadaan lapangan yang riil di medan kami di sini, sudah mirip-mirip arena “off road,” kata Kades Ganda-ganda Haerudin Aziz saat ditemui CBN baru-baru ini.
Menurut Haerudin, “Istilah “off road” mestinya menyadarkan orang-orang di provinsi bahwa masyarakat — terutama di Ganda-ganda dan Lambolo — sangat mengalami kesusahan dan kesulitan berarti karena medan yang begitu buruk. Kata Haerudin, sudah terlalu lama masyarakat di sana “menikmati” ketidak nyamana itu.
Apa kata salah satu anggota masyarakat di Lambolo?
“Kami hanya bisa menjerit dan marah dalam hati pak,” ungkap O’on kepada CBN, sambil menegakkan telunjuknya didepan bibir seperti orang bersiul. “Sssst, tidak usah sebut nama jelas saya ya?,” kata O’on.
“Saya bingung, kok tidak ada kepedulian pemerintah untuk masalah ini. Lalu kepada siapa kami harus mengadu?.” komentar warga lain menimpali O’on.
Kenapa pemerintah lewat instansi terkait kata si penimpal lagi, seperti menutup mata? Kenapa dan mengapa?,” ucapnya dengan kesal, sembari menambahkan, “Bilang ya, saya kesal. Seperti juga rata-rata warga di sini yang saya wakili,” tukas pria paruh baya itu dan kemudian berlalu.
Kembali ke jalan mendaki yang banyak batu itu. Coba bayangkan sambil melihat fotonya. Di posisi mendaki, batu-batu besar teronggok dibadan jalan, mencuat dan bisa membuat bak mesin kendaraan roda dua pecah atau minimal retak bila menabraknya. Kalau tidak percaya, coba saja ke sana!
CBN mau bilang, batu-batu besar itu sangat sulit dihindari. Kendaraan lapangan CBN bahkan sampai “tak berdaya” diantara bebatuan itu, seperti yang sudah CBN ceritakan diawal. Padahal, hanya “sepotong” pendakian. Tapi, masyaallah, ekstremnya kebangatan.
Dengan mengambil star kembali dari bawah, CBN akhirnya lolos. Kendati, bunyi klakson kendaraan yang mau menurun dan mendaki, berbunyi bersahutan. “Heee, ini Bulan Puasa bro, Bulan Puasaaaa ….,” CBN setengah berteriak.
Pokoknya capeeek menjelaskannya. Secapek Kades Ganda-ganda Haerudin Aziz yang kembali “dipusingi” keluhan warganya. Pagi itu Haerudin terlihat berkordinasi dengan seorang operator alat berat. Mempersiapkan penimbunan beberapa titik di Lambolo menggunakan Exavator dan Dump Truck.
“Capek pak. Capeeek. Tapi mau diapa. Jalan yang beberapa waktu lalu ditimbun tujuh perusahaan, kini sudah rusak lagi. Tujuh perusahaan itu, PT COR, MPR, SSP, SPS, Tri Nusa, Suryamindo dan PT Hoffmen International.
Sementara masyarakat saya kembali teriak-teriak,” ungkap Haerudin.
Sebelumnya, Camat Petasia Novrianto Najamudin, SE kepada CBN juga menyampaikan kegundahan hatinya, soal ruas yang menjadi tanggung jawab provinsi. Kini kembali dikeluhkan warganya dan para pelintas. “Ya kasihan masyarakat saya dan pengguna umum jalan itu. Seperti yang diungkap Kades Ganda-ganda, itu tidak salah. Ia mewakili suara masyarakat Morut, khususnya pengguna jalan yang setiap hari melewatinya,” ungkap Camat Novrianto yang sekira lebih dua pekan lalu, juga rutin mengurus warga yang terendam banjir di Desa Bunta, Tompira dan sekitarnya.
Kembali ke Haerudin. Menurutnya seperti yang disinggung camat, telah muncul lagi desakan-desakan dari warga tentang kapan turun anggaran provinsi untuk ruas Ganda-ganda – Lambolo – Bangkele? “Maka dengan sangat terpaksa dan demi tuntutan masyarakat, saya berinisiatif untuk terjun ke lokasi dalam penimbunan titik-titik di Lambolo,” papar Haerudin.
Haerudin menambahkan, sudah cukup upaya meminta. Bahkan tak terhitung lagi permohonan. Juga tidak sekadar lisan, lembaran tertulispun sudah dilayangkan ke instansi terkait. Bahkan sebelumnya, Pemda dalam hal ini bupati dan jajaran DPRD Morut ditataran pimpinan, telah memediasikan persoalan ruas Lambolo, hingga terjadi kesepakatan dengan wakil tokoh masyarakat dan tujuh perusahaan yang melakukan eksploitasi nikel di wilayah tersebut. “Jalan itu sudah ditimbun tujuh perusahaan. Tapi kini kembali rusak karena tergerus hujan,” beber Haerudin Aziz.
Namun yang belum hilang diingatan CBN jalur ektrem pendakian berbatu-berbatu Ganda-ganda. Jika — mungkin — bukan lantaran Bulan Puasa, seseorang yang sama-sama lewat di pendakian itu menuju kota Kolonedale, pasti akan akan mengeluarkan sumpah serapahnya. Sementara, poros itu menjadi satu-satunya alternatif menuju Kabupaten Tojo una-una (Touna), dan akan tembus di Desa Tayawa. “Oh Tuhan, mana tanggung jawab provinsi !!!!.” * bagian pertama dari beberapa penggalan













