Satwa liar Sebagai Sarana Pengobatan Tradisional Masyrakat Bangka Belitung

Penulis : Ramdhani Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Babel

Sungailiat, Cakrabhayangkaranews.com –Indonesia merupakan negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang amat beragam dan tinggi, sehingga disebut negara megabiodiversity. Faktanya, Indonesia adalah negara kedua setealah Brazil dengan keanekaragaman hayati paling beragam di dunia karena 10% spesies bunga, 12% mamalia,16% rptil,dan 17% jeins burung unggas(aves).Namun di balik keanekaragaman hayati yang melimpah, tingkat kerusakan keanekaragaman hayati di Indonesia juga sangat parah di dunia. dengan tingkat kerusakan yang cukup tinggi ini juga dapat menggangu ekosistem yang ada di dalamnya sehingga mengakibatkan kepunahan.
Salah satu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar yaitu Etnobiologi.

Etnobiologi metupakan ilmu yang mempelajari terkait pengetahuan dan praktek tradisional yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan membuat pengetahuan lokal berkembang salah satunya di provinsi kepulauan Bangka Belitung.
Kepulauan Bangka Belitung merupakan sebuah provinsi yang terdiri dari dua pulau utama yaitu, pulau Bangka dan pulau Belitung serta ratusan pulau –pulau kecil disekitarnya yang membuatu Bangka Belitung dijuluki dengan sebutan Kepulauan.

Provinsi ini memiliki kanekaragama hayati yang masih asli mulai dari mamalia, reptil, aves, dan lian-lainnya. Masyarakat di pulua Bangka Belitung hingga sekarang ini masih banyak yang menggunakan sumber daya alam sebagai media pengobatan tradisional mulai dari satwa liarnya.

Bagi masyarakat pulau Bangka Belitung pengobatan secara tradisional ini merupakan sebuah warisan dari nenek moyang yang harus dijaga agar tidak sepenuhnya hilang
Pengobatan tradsional sendiri merupakan suatu metode pengobatan atau perawatan yang dilakukan secara tradisional secara turun-menurun, berdasarkan resep nenek moyang,atau kebiasaan masyarakat setempat. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan yang berupa dari tumbuhan, satwa liar yang sudah di campuar dengan resep yang sudah ada. Dalam pengobatan tradisional tidak semeta-meta mengambil dari sumber daya alam yang masih hidup. Biasnya satwa liar yang sudah mati bisa digunakan untuk pengobatan tradisional dengan mengambil bagian-bagian tubuh seperti; daging, tanduk, kuku, bulu, empedu, lemak, dan masih banyak yang lainnya.

Di Bangka Belitung sendiri sudah banyak sekali masyarakat yang menggunakan metode pengobatan tradisional ini dengan menggunakan satwa liat maupun tumbuhan. Bagi masyarakat Bangk Belitung pengobatan tradisional ini bukan suatu hal yang baru.Pasalnya hampir di setiap kabupaten yang ada di kepuluan Bangka Belitung ini sudah menggunakn metode pengobatan tradisional.

Dari hasil survei lapangan yang sudah kami lakukan beberapa bulan kemarin di lima kabupaten khususnya di pulau Bangka sudah banyak sekali jenis pengobatan tradisional menggunakan satwa.
Yang pertama di kabupaten Bangka

Di kabupaten bangka sendiri sampai sekarang ini masih sering masyarakat memanfaatkan satwa liar sebagai pengobatan tradisional. Dari beberapa desa yang kami survei dengan melakukan wawancara langsung rata-rata mereka menggunakan jenis satwa liar seperti, mamalia, reptil, dan aves, seperti contoh kalong yang di ambil bagian hatinya untuk mengobati sakit asma dengan cara digoreng tanpa di campur dengan bumbu apapun kemudian dimakan,walaupun sampai sekarang belum ada data ilmiah yang mengatakan kebenaran tersebut.

Kabupaten Bangka Tengah
Sama dengan kabupaten Bangka, masyarakat Bangka Tangah juga masih banyak yang memanfaatkan satwa liar sebagai metode pengobatan tradisional. Dari beberapa desa yang kami data salah satunya di desa Batu Briga.

Di sana masyarakatnya menggunakan ikan lele sebagai metode pengobatan yang dimana di menfaatkan untuk mengobati penyakit bintik-bintik merah dikepala. Bagian tubuh yang digunakan yaitu kepala ikan lele yang diolah dengan cara dibakar lalu dicampurkan dengan minyak kelapa asli kemudian dioles kebgaian yang terkena bintik-bintik dikepala.
Kabupaten Bangka Selatan
Bedasarkan hasil survei kami masyarakat kabutpaten Bangka Selatan juga sama masih banyak desa yang menggunakan pengobatan tradisional ini di tengah era modren zaman sekarang seperti desa Ranggas. Salah satu satwa liar yang dimanfaatkan hingga sekarang adalah kecebong. Kecebong dipercaya masyarakat sekitar dapat mengobati penyakit asma, yang dimana cara penggunaanya langsung dimakan hidup-hidup tanpa dikelola lagi.

Kabupaten Bangka Barat
Dari hasil survei yang kami daptkan salah satunya di desa tempilang masih banyak masyarakatnya yang memanfaatkan satwa liar sebagai pengobatan tradisional. Salah satunya satwa liar yang dimanfaatkan masyarakat desa tempilang yaitu biawak yang dipercaya sebagai obat linu. Sebelum dikonsumsi biawak tersebut dimasak terlebih dahulu dengan cara direbus kemudian dimakan bagian daging biawak tersebut.
Pangkal Pinang

Walaupun Pangkal Pinang merupakan ibu kota dari provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang merupakan pusat keramian kota yang sudah modern banyak dikunjungi orang banyak, tetapi masih ada masyarakat yang memanfaatkan satwa liar sebagai pengoabatan tradisional, salah satunya di kelurahan ketapang. Masyarakat disana memanfaatkanlaba-laba sebagai obat tradisional untuk penyakit migran. Bagaian yang diambil dari laba-laba adalah sarangnya yang di bulat-bulat kemudian direndam dengan air hangat lalu tunggu bebrapa menit, lalu diminum.

Masyarakat Bangka Belitung banyk sekali yang memanfaatkan keberadaan satwa liar ini sebagai sarana pengobatan tradisional. Namun satwa liar yang di gunakan ini bukan jenis satwa liar yang di lindungi, tetapi jenis satwa yang digunakan yaitu populasi habitat perkembang biakannya cepat dan tidak terancam punah. Tetapi walaupun begitu masyarakat sangat susah juga untuk menemukan jenis-jenis hewan tersebut dikarenakan habitat tempat tinggal mereka saat ini sudah banyak yang rusak akbit aktivitas manusia yang tidak bertanggunga jawab, yang mengakibatkan kebanyakan masyarkat sudah banyak yang beralih ke pengbotan medis.

Jangan samapai pengobatan gratis tradisional ini hilang, karena ini merupakan budaya dan warisan turun menurun yang diwarisa dari nenek moyang untuk kita. 

img 20250803 wa0029
Share :

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *