Atas : H. Anwar Hafid
Bawah : Ilustrasi
Palu, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Kemunculan berita perselingkuhan pejabat pemegang.salah satu posisi strategis di Kantor Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), kembali menyentak publik. Selingkuhan yang diuntai lewat perkenalan awal si pejabat dan perempuan tahun 2022, melahirkan traumatis. Ceritanya, pertama-tama si pejabat masih ditolak. Namun belakangan, hubungan intens hingga saat perempuan terangkat di salah biro Sekretariat Provinsi (Setprov) Sulawesi Tengah (Sulteng).
Sebelum Gubernur Anwar Hafid menggaungkan warning ke pejabatnya jangan selingkuh, no asusila, nemo (jangan + red) zinah plus jauhi narkoba, sudah ada “pale” pejabat yang affair, dan menjalin hubungan gelap (hugel – red), didalam gedung tempat Gubernur mengendalikan pemerintahan. “Bikin soe saja,” komentar sumber CBN.
Juga jauh ketika — soal selingkuh di Pemerintahan Provinsi (Pemprov) ini menyeruak, dugaan asusila pejabat eselon II yang dilantik Gubernur bersama pejabat lainnya pada Gerbong Pertama, 1 Januari 2026, sudah lebih dulu terjadi. Pastinya, atasan selingkuhi bawahan di Pemprov atau Kantor Gubernur Sulteng, bukan pejabat eselon II dalam barisan yang dilantik Gubernur di “Gerbong Pertama” dan “Gerbong Kedua”, beberapa waktu lalu. Jadi beda orang.
Menurut sumber, rentetan selingkuh kini — bahkan — sudah menjalar ke salah satu kabupaten, bagai karat yang dapat mengeposkan besi dan sendi performa pemerintahan Anwar – Reni. Ini tidak boleh terjadi. Sebab bisa merusak apa-apa. Bahkan berpotensi, akan perolehan nilai jelek “dalam “rapor dari atas.
Bukankah Gubernur sudah meneken harga mati “Berani”, dalam warna-warni program dan itu harus sesuai target, bukan mengharap kegagalan, jika kotoran buram itu tidak bisa dihilangkan.
Agar imbang dan fair, maka Anwar Hafid jangan hanya “berani” menyusun progres, tapi tidak menindak, membersihkan dan menyungkil pejabat dan staf “sampah di Kantor Gubernur itu. Memang sungguh sebuah kontroversi. Sebab, sangat menyangkut moral dan etika pergaulan. Lebih jauh, dapat mencederai salah satu item “Sembilan Berani”, yakni ‘Berani Berkah” yang sejatinya fokus — salah satunya — pada nilai-nilai agamis dan pembangunan mental spiritual. Tapi yang terjadi, bertolak belakang kan? Ada pejabat selingkuh ada juga pejabat diduga asusila. Juga di kabupaten ada atasan – bawahan dalan satu atap juga,” ujar sumber CBN lagi.
Menurut sumber, wartawan sudah membantu menunjukkan ke mata Gubernur, itu ada “noda dan noktah” dalam jajaran. Terima kasih dong! “Kritik membangun itu bagus.
Tinggal saja, Guberur gunakan hak prerogatif penuh untuk melakukan “penimpalan hukuman”, sesuai digit kesalahan pelanggaran disiplin ASN/PNS : Acuannya sudah ada. UU Pelanggaran disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN/PNS) diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN dan ketentuan pelaksanaannya pada PP Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin PNS. Jelas!
Berbagai kalangan menilai, Gubernur sangat lamban — “terkesan takut” — mengambil sikap. Lupa bahwa ancaman risiko, jika problem asusila “yang mengitarinya”, tidak cepat dibersihkan, bisa makin parah. Disatu sisi, belum jelas dan tegas tentang perbedaan perselingkuhan pejabat di lingkungan kerja Gubernur dengan dugaan asusila yang sudah dipidatokan Gubernur dan disebar oleh Youtuber belum lama berselang.
Sampai berita CBN ke 16 kali tayang dan ada ditangan pembaca budiman, pejabat eselon II itu masih “terselip” diantara 36 pejabat eselon II dan sudah duduk dalam Gerbong Pertama. “Sayang nantinya Sembilan Berani’ sukses di satu dua item, tapi terganjal bahkan akan mengalami banyak tantangan pada beberapa poin lain. Akhirnya Berani, hanya akan menjadi satu slogan konyol tak punya arti. Jangan sampai!.* jay – bersambung




