Atas : Sofyan Kaepa, SH, M.Si
Bawah : Drs. Ruslan, M.Si

Palu, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) –
Sepertinya, narasi-narasi di luaran sana terkesan “diblowup” dan terlalu dibumbui “hiperbola”. Tentang profil dan gaya kepemimpinan Bupati Banggai Laut (Balut), Sulawesi Tengah (Sulteng), Sofyan Kaepa, SH, M.Si yang diwartakan dibanyak media massa, hampir “paripurna”. Ternyata semua itu tidak sesuai kenyataan. Sebagian yang pernah bertemu Sofyan, menyarankan untuk “face to face”, karena bupati baik orangnya. Ini pula yang menggugah “espektasi” CBN ingin bangat bertemu Sofyan. Benarkah seperti itu atau tidak?
Konon sosok Sofyan sangat low profile. Ia “Sang Penyulam Gerbang Timur di Sulteng”. Maka itu CBN mau membuktikannya, baru-baru ini.
Ya, rasa penasaran CBN terpantik untuk melihat dari dekat “Sang Perajut Kepentingan Masyarakat” Balut, bagaimana sikap, perilaku dan penerimaan Sofyan dari dekat terhadap “tamunya”? Apalagi setelah dinanti selama dua hari dari Jakarta, rasanya agak suntuk CBN menunggu pertemuan dengan “Bupati Idola”.
Begitulah. Setelah cukup lama menunggu dari pagi, Jumat (25/7/2025) sekira pukul 09.15 Wita, CBN baru ada kesempatan mau bertemu pemimpin Banggai Laut yang menjadi sorotan dan buah bibir di Sulteng bahkan pusat. Lantaran katanya sih, rating Balut dalam peta strategis pembangunan Sulteng melesat pesat. “Wah pastilah, bupati orang yang enak diwawancarai, akan nyambung,” pikir CBN.
Di Rujab sementara dekat alun-alun kota, sudah banyak tamu yang datang. Mereka “mengelilingi” Sofyan, sehingga kesempatan untuk bertemu, memang agak “sempit”. Sebelumnya, kabar dari Humas Pemda bahwa jam 10.00, Bupati Sofyan ada jadual rapat. “Jam 11 nanti saya kontek bapak kalau selesai rapat,” kata Pace, ajudan yang hari itu berbaju taktical lengan panjang hijau. Ok lah, kalau begitu.
Karena tidak juga ada kontek dari Pace, maka CBN siang itu jeda dulu. Berharap jam masuk kedua, Sofyan bisa menerima CBN. Lanjut, sekira pukul 14.15, CBN merapat ke Kantor Bupati Balut. Ternyata Sofyan masih pimpin. Hingga sekitar pukul 17.35 rapat baru bubar. Diantara peserta rapat — rata-rata — Kadis dan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), CBN menunggu kesempatan di sela-selanya.
Masih belum beranjak dari kursi rapat di posisi “kepala meja” hanya beverapa saat, tiba-tiba Sofian dibisiki ditelinga kirinya oleh salah satu ajudan bersafari hitam-hitam. Terkesan sesuau disampaikan ke Sofyan dan CBN diprotek. Sebab, Sofyan langsung menoleh kekiri walau pulpen masih ditangan kanannya, langsung bertanya ke CBN dengan sorot mata kurang bersahabat, “Dari mana?”, dengan mimik tidak mimik tidak sespon, lalu spontan dijawab CBN, “Jurnalis p Bupati.” Sofyan berkata lagi, “Nanti dengan Sekda saja, saya masih sibuk,” ucap Sofyan, jauh dari kesan ramah, sampai-sampai juluran tangan CBN diabai.
Ya, sedikit kecewa, melihat langsung sikap orang nomor satu Balut, yang dibangga-banggakan itu didepan jajarannya, ternyata diluar ekspektasi.
Sementara beberapa OPD yang disambangi CBN hampir “rata-rata” mengenalkan “cap Sofyan” sebagai pemimpin yang “welcome”.
Rasa peduli Sofyan terhadap kondisi daerah dan masyarakatnya, begitu diistimewakan sejumlah media massa. Karena jika melihat anak sekolah yang seragamnya tak sewarna ia akan segera memerintahkan Kadis Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Balut Mulyadi Mojang, ST, MT agar segera turun tangan. “Begitulah bupati,” gambar Sekdis Dikpora Balut, Irsan A. Mammak, S.Pd, MM.
Ketika CBN ke Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Klas II Banggai, (Balut) Ramlan D. Daturante, SH, kabar “tak kalah manisnya” diperoleh, membuat perasaan mengapresiasinya — ketika itu — tetap positip. Bahwa Sofyan Kaepa seorang yang sederhana. “Sering pak Bupati menumpang kapal baik dari dan ke Luwuk,” ungkap Ramlan.
Lantas apa jadinya kalau ternyata semua itu bertolak belakang? Seperti kurang percaya terhadap sikap Sofyan, seorang kawan media dari Palu, menyatakan berkali-kali tentang apa yang baru dilihatnya. Sementara di media massa dan media sosial — sekali lagi — Sofyan begitu diagung-agungkan. “Kok, bupati modelnya seperti itu. Bagai tuan rumah yang tidak menghargai orang yang berkunjung ke tempatnya.
Kita kan mau tau dari mulut bupati langsung, bagaimana menjadi leader dan pemilik daerah dan pemimpin daerah,” ungkap Adi, reporter News TV yang hari itu sama-sama bertandang ke Sofyan Kaepa karena propaganda kuli tinta lokal yang luar biasa memuji.
CBN sendiri terpanggil, lantaran potret yang menggambarkan tentang Sofyan dan Balut, yang masyarakatnya hendak ia sejahterakan.
Selain itu semua, ada hal lebih penting lainnya dari sekadar pertemuan seremony dengan Sofyan Kaepa. Yakni, dugaan
sisa lebih perhitungan anggaran atau selisih pada realisasi antara penerimaan dan pengeluaran selama satu periode anggaran, yakni SILPA 2024.
Dalam data yang ada ditangan CBN, puluhan miliar SILPA Balut tahun 2024 tidak terbelanjakan. Menurut sumber CBN di Balut, itu harus dikorek langsung dari Bupati, sehingga penjelasannya tidak bias dan menjadi jelas dan terang benderang. Kemana sisa anggaran tersebut rimbanya? Jika “menguap”, harus ditelusuri dan tidak sekadar dipertanyakan. “Nah mestinya, tiga atau lima menit saja, penjelasan bupati sangat dibutuhkan, sehingga informasi tersebut menjadi preseden buruk dan opini jelwk,” komentar sumber lagi.
Berbeda dengan Sekda Balut Drs. Ruslan, M.Si. Bertolak belakang 180 derajat dari sikap Sofyan Kaepa. Ia demikian ramah. Terlihat kepamongannya yang “kental”. Saat diminta gambaran tentang bagaiman Balut lima tahun lalu dan sekarang, ia papar runtut dan jelas. Pokoknya bagus.
Menurut Ruslan, Balut makin menunjukkan kemajuannya. Itu ia jelaskan selama lima hingga memasuki tahun keenam. “Ini yang kami rasakan dibawah kepemimpinan Bupati Sofyan hingga dikepemimpinan dua periode ini,” ungkap Ruslan.
Diakhir pertemuan dengan Ruslan, CBN pun pamit untuk bersiap pulang kembali ke Palu. “Terima kasih pak Sekda.”
Lantas apa komentar menggelikan setelah itu? “Sepertinya yang cocok jadi bupati Balut Sekdanya,,” tukas spontan Adi sambil tertawa, ha ha ha,* jay










