
Mengabdi tiga dekade lebih selama 31 tahun, bukanlah waktu yang singkat bagi Dr. Ir. H. Akris Fattah Yunus, MM untuk mengetahui, juga paham betul, profil, teritori dan karakteristik masyarakat berjuluk “Kota Tua”, Donggala.
Di masyarakat, kini kian menguat dorongan dan dukungan, agar Akris maju dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah Bupati (Pilkadabub) 2024 untuk Donggala. Itu dianggap wajar. Sebab, rasanya adalah sebuah keniscayaan buat Akris Fattah Yunus, sebagai sosok yang tahu kisi-kisi dan potensi Donggala. Ia dianggap mengerti, kedepan mempola Donggala pas dibuat seperti apa? “Butuh seseorang yang paham Donggala dari berbagai aspek dan dimensi. Tidak hanya karakteristik dan apa yang dibutuhkan masyarakatnya, tapi meliputi semuanya. Donggala kedepan, juga butuh pemimpin yang bisa “memoles” maju daerah tersebut untuk keluar dari ketidak berkembangannya selama ini. Donggala kini, masih menyimpan kesan begitu-begitu saja. Kotanya sempit kecuali digeser ke arah Selatan hingga Barat. Penerangan di Donggala juga minim. Jika melihat usia, harusnya Donggala sudah lebih maju beberapa langkah kedepan. Jauh terbangun dengan kelengkapan segala fasilitas. Sudah maju daripada kondisinya saat ini yang belum bangkit-bangkit.
Bupati Donggala kedepan, sosok yang memiliki motivasi untuk membawa perubahan dan kesejahteraan. Figur yang mampu “melahirkan” kembali “Donggala Baru”, yang — walau tidak meninggalkan identitasnya sebagai “Kota Tua” — namun akan mampu berlari mengejar kesejajarannya dari 11 kabupaten dan satu kota, di bawah “payung” Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Itulah yang didambakan rakyatnya, agar Kabupaten Donggala menjadi lebih baik lagi di masa datang.

Lalu, apa komentar Dr. H. Akris Fattah Yunus saat disinggung soal kansnya yang besar untuk menjadi orang nomor satu memimpin Kabupaten Donggala lima tahun kedepan? Ia menyatakan, sudah punya niat kuat untuk siap maju pada konestasi Pilkadabub Donggala 2024. Akris sendiri tercatat, pernah maju dalam Pilkadabub Donggala tahun 2013. “Tentu jika Allah SWT berkehendak dan mengijabah, kita lihat nanti seperti apa,” tutur Akris Fattah dengan tetap merendah. Satu hal lagi, Akris sudah mantap dengan tageline “Temponamo”, AFT atau Akris Fattah plus, Pengalaman “sudah” Teruji. Maka katanya, “Bismillah”.
Menurut Akris, sedikit banyaknya ia paham benar eksistensi Donggala karena cukup lama ikut “mendandani” wilayah yang memiliki 16 kecamatan, 158 desa dan sembilan kelurahan.
“Dokter, akan sulit meraba apa sakit pasiennya jika tak melakukan diagnosis. Begitulah jika bicara soal Donggala,” tutur Akris, saat disambangi santai CBN dan Sulteng Ekspres.com di ruang kerjanya, Kantor BPBD Sulteng di Palu, baru-baru ini.
Ya kata Akris, penyebab penyakit tidak akan ketahuan, tanpa melakukan diagnosa. Bahwa Kabupaten Donggala adalah wilayah penyimpan potensi kekayaan natural resources (Sumber Daya Alam), yang akan bisa membawa kemakmuran bagi rakyatnya. Tentu, jika semua kelebihan-kekebihan yang ada, bisa dikelola optimal dan maksimal. “Saya ini istilahnya orang di dalam. Artinya, bukan baru di Donggala. Soal
plus-minus daerah ini, pastilah lengkap catatan. Jadi, saya bisa mendiagnosa Donggala kendati tidak seratus persen, namun tahu banyak,” tukas mantan Kadis PU Donggala dan sebelum menduduki kursi BPBD Sulteng, sempat suntuk menjadi Kepala BPBD Donggala. Artinya apa? Tidak sedikit buah tangan alumnus S1 Teknik, S2 Ekonomi dan S3 Sospol Kebijakan yang — karya dan karsanya — telah ia dedikasikan buat pengembangan Kabupaten Donggala sejak tiga dekade lebih.

Bagaimana seharusnya penata kelolaan kelembagaan, pemerintahan, mengatur pegawai, memanfaatkan keunggulan komparatif Donggala dengan komoditi bernilai ekonomi tinggi, di tiap-tiap wilayahnya. Itulah yang harus dilakukan kedepan.
Dalam prespektif saat ini adalah sebuah realita, Donggala telah dan akan menjadi bagian penting penyangga Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur (Kaltim), “di depan hidung” Donggala dan Palu. Bukan hanya Sirtukil (Pasir, Batu dan Kerikil) yang menjadi andalan Donggala. Karena masih banyak potensi lain — baik di darat dan di lautnya — belum semuanya memberikan berkah.
Membangun Donggala sebut Akris Fattah, tidak lepas dari dinamika memacu infrastruktur dan bayangan kemiskinan. Maka, bagaimana pemimpin nanti, bisa memanfaatkan potensi SDA yang dimiliki Donggala, untuk disulap menjadi pundi-pundi pendapatan.

Jujur sebut Akris, dari sisi pendapatan, Kabupaten Donggala kecil. Kendati ia salah satu penghasil
tambang galian pasir batu (Sirtu) atau Galian C, seperti yang sudah dipapar sebelumnya. Angka kemiskinan daerah yang lahir 12 Agustus 1952, masih 16,25 persen dari jumlah penduduk “Itu sebab, kuncinya, bagaimana kita membawa Donggala kedepan dengan segenap potensi yang dimiliki. Berpulang pada visi misi, siapa pemimpinnya ke depan, yang mampu memanfaatkan potensi utama Donggala,” tukas Akris.
Lalu, apa potensi utama yang dimaksud Akris? Donggala dimata Akris, menyimpan keunggulan pariwisata. Land mark (spot wisata andalan – red) – nya, tak kalah dari Bali, NTB atau Sulawesi Utara (Sulut). Destinasi dan resor-resornya menyimpan nilai jual tinggi dan menjadi salah satu andalan penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Di Donggala tunjuk Akris yang telah berniat bulat jika beroleh kepercayaan — survei dan dukungan penuh masyarakat untuk menjadi orang nomor satu di Donggala —
begitu banyak spot wisata yang bisa memanjakan mata dan jiwa siapapun. Spot-spot itu, memiliki banyak kelebihan. Terutama, karena Donggala punya garis pantai yang panjang dan pesona baharinya diyakini memukau. Namun semua itu apakah sudah memenuhi kesiapan dari sisi infrastruktur? Jawabannya belum. Sebab, masih banyak “PR” yang harus dipikirkan calon pemimpin Donggala nanti.
Setidaknya yang pertama dan utama akan ia lakukan gambar Akris — andai Allah SWT meridhai — bagaimana menumbuhkan kembali sebutan dan cap Donggala sebagai “Kota Tua”. Nama itulah yang harus disulap menjadi pemikat dan magnet, hingga sebutan “Kota Tua” benar-benar menjadi ikon dan brand – nya Donggala untuk skop regional, nasional dan global.
Jika di Bandung ada Jalan Asia – Afrika dan itu sudah menjadi ikon ‘Kota Kembang”, mengapa tidak, nama “Kota Tua” disematkan kepada Donggala dan kepantasan itu adalah fakta. Di Sulteng tidak ada lagi kota yang tua. Hanya Donggala satu-satunya yang dimiliki Sulteng. Donggala juga punya Pelabuhan Tua serta kawasan pemukiman dan bangunan rumah di kompleks pertokoan berasitektur peninggalan Belanda. Jadi begitulah. “Inilah semua yang akan kita jual buat membesarkan Donggala,” beber Akris.

Lokasi-lokasi yang disebutkan Akris, akan dijadikan cagar budaya dengan tidak mengambil alih hak kepemilikan. Daerah akan memeliharanya menjadi spot wisata sejarah yang dapat dimasukkan dalam “Calender of Event” sebagai objek kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) serta wisatawan nusantara (wisnu). Hak milik masih tetap ditangan penduduk di area tersebut. Jadi, samasekali tidak merubah konstruksi, malah tetap mempertahankan keaslian bentuk serta matrial bangunan yang ada hingga terus bisa dilestarikan.
“Jika Insyaallah jadi Bupati Donggala, akan saya terbitkan Perdanya,” itu janji Akris.
Soal apakah sudah ada kriteria pendamping Akris untuk maju di Pilbub Donggala? Apakah harus laki-laki atau perempuan serta dari kalangan dan latar belakang apa? Juga mungkinkah sudah ada perahu yang telah deal ditumpangi Akris untuk bertarung di kursi “01” Donggala yang sudah di depan mata? “Biarlah dulu. Biar semua mengalir seperti air,” ungkap Dr. Ir. H. Akris Fattah Yunus, MM.* jay – penggalan pertama










