
laporan : pusran beeg
Boltim, Sulut – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Naiknya pemberitaan Proyek Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Air Limbah melalui pekerjaan Pembangunan SPALD Individual yang dilaksanakan di Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), nampaknya tidak semua “welcome” dan menerimanya. Kendati banyak yang menjempoli bila transparansi dikedepankan dalam mengawal pekerjaan ini. Sebab, anggarannya cukup lumayan dari plot Dana Alokasi Umum (DAU) daerah. Dilaksanakan secara swakelola sebesar Rp.Rp.351.751.400, per Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).
Tercatat, sudah dua kali CBN menayangkannya secara berturut, dan ini kali ketiga.
Belakangan, diduga ada pihak yang tidak senang jika proyek ini diungkap transparan. “Sementara sumber CBN mengatakan, harus tetap ada pengawasan dan pengawalan untuk proyek tersebut, bagaimanpun bentuknya. Sebab, proyek swakelola seperti ini konon rentan penyimpangan. Kendati pengawasannya melekat ke fasilitator teknis sebagai pendampig dalam pelaksanaan Program SPALD.
“Sama seperti main bola, ada penonton dan juga “wasit,nya”,” kata sumber memberi alasan.
Memang kali ini, CBN mengangkat sisi transparansinya lebih detil. Makanya, tidak semua “mengamini” dan menerima proyek ini menjadi konsumsi publik. Tapi sebagian besar mendukung, sebagai bentuk mebdukung keterbukaan informasi publik.
Belakangan, nampak timbul “gejala” bahwa salah satu oknum Ketua KSM di Kotabunan, uring-uringan ketika proyek ini disorot. Bahkan sebelum tayamg berita ketiga ini, ML sempat melempar kata ke CBN bahwa ini persoalan sama-sama cari hidup.
Nah sebelumnya, CBN secara tidak sengaja melintas di depan rumah ML — salah satu Ketua KSM itu — sekitar pukul 02.00 WITA (16/9/2023) lalu. CBN yang diminta mampir, melihat ada juga wartawan berinisial DJ alias Dio, sudah bersama ML. CBN yang tidak punya prasangka lain, lalu mampir sejenak.
Tiba-tiba entah apa gerangan ML langsung mengeluarkan kalimat, “Sama-sama mocari hidop kua” (Sama-sama mau cari hidup kok – red),” ucap ML disaksikan DJ.
Mendengar kalimat yang dilontarkan ML, tak lama CBN pun pamit pulang. Sumber CBN menduga, oknum ML selaku Ketua KSM Kotabunan sedang gundah, risih dan merasa terganggu karena Proyek Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Air Limbah melalui pekerjaan Pembangunan SPALD Individual itu tengah dibuka ke publik. “Itu sebabnya dia singgung bahwa “Sama-sama mau cari hidup.”
Ketua Ormas Laskar Anti Korupsi (LAKI) Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara (Sulut) Ismail Mokodompit mengatakan, tidak seharusnya oknum Ketua KSM Kotabunan ML mengeluarkan kalimat seperti itu. Apa lagi saat ini dirinya selaku Ketua KSM dan sedang mengelola dana ratusan juta rupiah terkait pelaksanaan program pembangunan SPALD Individual yang dilaksanakan secara swakelola dan tengah berjalan. “Tidak etis selaku Ketua KSM mengeluarkan kalimat “Sama-sama mau cari hidup.” “Program ini dibiayai dengan anggaran ratusan juta rupiah. Rentan, jika tidak ada kontrol,” komentar Ismail Mokodompit.

Ismail mengatakan, selaku Ketua KSM semestinya tidak perlu merasa terganggu ketika ada wartawan yang melakukan kerja-kerja jurnalistik. Sebab, kontrol sosial melekat dan ada pada seorang wartawan. Selain itu pijakannya ada pada UU tentang keterbukaan informasi publik. Jadi, ada ruang transparansi di situ. “Konfirmasi dan investigasi terkait pelaksanaan berbagai program yang dibiayai oleh anggaran negara — apa lagi juga diketahui dan dilaksanakan oknum Ketua KSM Kotabunan — tidak perlu ditutupi karena masyarakat juga berhak tahu. “Sekali lagi, ini bentuk kontrol atas pelaksanaan berbagai program yang dibiayai melalui anggaran negara demi menopang kesejahteraan masyarakat,” tegas Ismail.
Bila mengutip kalimat yang dilontarkan ML, “Sama-sama mau cari hidup kok” tambah Ismail, ini menandakan bahwa pelaksanaan program tersebut memang harus diawasi ketat. Karena jangan sampai pelaksanaannya timpang. “Memang benar hanya akan dijadikan wadah untuk Mau Cari Hidup,” tukas Ismail.
Kini, setidaknya gelagat “pemanfaatan” anggaran proyek untuk kepentingan pribadi mulai tercium aromanya. Sumber terpercaya lain mengungkap bahwa dalam proses pengurusan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), ML selaku oknum Ketua KSM Kotabunan, ternyata telah meminta biaya sebesar Rp.300.000 kepada KSM Desa Bulawan guna pengurusan NPWP. Sementara berdasarkan keterangan yang diperoleh dari salah satu sumber resmi yang meminta namanya enggan ditulis bahwa NPWP itu diurus secara online dan gratis. Mengapa ML minta biaya?
Dengan adanya indikasi pungutan biaya dalam proses pengurusan NPWP yang diduga dilakukan oleh ML tersebut, Lembagaga Pemantau Pembangunan dan Kinerja Pemerintah (LP2KP) Bidang Investigasi dan Intelejen Boltim Fadli Mamonto juga mempertanyakannya. Fadli melayangkan pertanyaan kepada pemerintah via Direktorat Jendral Pajak. “Apakah ada biaya yang dikenakan dalam proses pengurusan NPWP sebagaimana yang diminta oleh oknum Ketua KSM Kotabunan ML tersebut? “Apakah berbiaya pengurusan NPWP,” tanya Fadli Mamonto.
Kata Fadli, ini bukan prsoalan nilainya yang diminta. Tetapi tindakannya. Karena memang dalam proses pengurusan NPWP tidak dikenakan biaya apapun alias gratis.

Salah satu sumber juga mengaku bahwa dirinya pernah mengkonfirmasi tukang — kalau di Boltim disebut Bas — soal biaya kontrak pekerjaan tips satu bangunan SPALD? Kata si tukang, bangunan yang sedang dikerjakannya itu, nilai kesepakatan kontrak bersama KSM Kotabunan sampai selesai sebesar Rp.2.500.000. Nah, ketika dikonfirmasi kedua kalinya lagi tukang atau bas mengatakan sudah ditamba Rp.500.000, sehingga total kesepakatan pekerjaan antara tukang dengan KSM Kotabunan sebesar Rp.3.000.000 hingga ramoung. Lho??
Ironinya, ketika tim media melakukan konfirmasi kepada tukang yang sama, malah nilai kontrak pekerjaan kembali bertambah. Satu bangunan SPALD yang sedang dikerjakan sudah menjadi Rp.5.000.000 sampai selesai.
Pada tayangan sebelumnya, dugaan kecurangan juga terjadi pada penggunaan material pasir. Konon, pasirnya mengandung garam. Belum bicara kualitas bangunan dan penggunaan campuran satu berbanding berapa serta lain-lainnya. Nah !!?.* j – bersambung











