Atas : Wali Kota Palu H. Hadianto Rasyid (kiri) – Gubernur Sulteng H. Anwar Hafid (kanan).
Bawah : Direktur LBH GKN Sulteng Aceng Lahay
Palu, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) –
Kalangan pembaca maupun wartawan terus mendesak, agar sosok oknum pejabat eselon II provinsi yang diduga asusila dengan ASN/PNS Pemkot Palu, “dibuka saja” ke publik. Tapi sebagian lagi justru meminta Gubernur dan Wali Kota bersikap. Nyatanya, Gubernur dan Wali Kota masih “bungkam” dan membiarkan masalah ini bergulir. “Padahal menyangkut wibawa Gubernur dan Wali Kota loh. Tidak boleh disepelekan,” komentar sumber CBN dan Media Inakor di Palu, Kamis (23/4/2026).
Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Garda Keadilan Nusantara (GKN)!Sulawesi Tengah (Sulteng) Aceng Lahay kepada CBN dan Media Inakor pagi tadi, Kamis (23/4/2026) menyebut, kuat jejak dugaan asusila yang ingin ditunjukkan kepada Gubernur Sulawesi Tengah (Sukteng) H. Anwar Hafid dan Wali Kota Palu H. Hadianto Rasyid. Tapi mengapa keduanya masih tak mengacuhkannya. “Ada video dan foto-foto di sumber kami. Itu indikasi dan jejak bahwa dugaan asusila si oknum pejabat eselon II provinsi dan ASN/PNS Kota Palu sebagai bukti,” tegas Aceng.
Kata Aceng, apa yang menjadi kritikannya, tidak sama sekali menyentuh pribadi. Tapi kebijakan dan diamnya gubernur serta tak bergemingnya Wali Kota. “Bayangkan, sudah 11 kali penayangan berita, tak sama sekali Gubernur dan Wali Kota berupaya mencari tahu soal itu,” tutur Aceng.
Mestinya ada gerakan dan langkah Gubernur dan Wali Kota untuk “mengusut” persoalan ini. “Gubernur dan Wali Kota harusnya merasa terusik dengan penayangan berita dugaan asusila pejabat dan jajaran, kemudian bertanya ke staf-stafnya. “Jadi Gubernur dan Wali Kota ada kepedulian menelusurinya bersama, ketika persoalan muncul mengemuka diruang publik. Tidak malah diam dan terkesan membiarkan,” tukas Aceng.
Kini menjadi pertanyaan soal diam dan tak bereaksinya Guberjur dan Wali Kota. Idealnya — paling tidak — pejabat tertinggi Sulteng dan Kota Palu itu ada usaha mencari tahu. Ataupun menelusuri isu yang sudah menjadi rahasia umum. Tidak malah terkesan melepas persoalan ini berlalu “didepan hidung”. Bagai bisul yang dibiarkan pecah, setelah meradang baru cari obatnya. Dibiarkan berlama-lama, akan menjadi borok dan penilaian minus bagi Gubernur dan Wali Kota.
Kata Aceng — kendati disatu sisi peroalan ini dianggap sudah terlalu lama diberitakan berulang — tidak mengapa. Ini kan kontrol membangun buat Gubernur dan Wali Kota.
Tapi faktanya — setelah 11 kali penayangan berita ini — seakan-akan Gubernur dan Wali Kota abai. Padahal, Orang Nomor Satu Sulteng dan Nomor Satu Palu sudah dibantu ditunjukkan ada kebobrokan yang memang harus mereka ketahui. Melekat noktah, noda dan nila di kabinet Sembilan Berani dan Kota Palu karena “terselipnya” Pejabat Eselon II dan ASN/PNS diduga asusila. Tapi seolah Gubernur dan Wali Kota “tutup mata”. Ini kritikan kepada Gubernur atas kebijakan orang-orang yang ia dudukkan di kabinetnya. Sekali lagi — semua nada kritis ini — dalam rangka menciptakan aparatur eselon II provinsi, bersih dan berwibawa. Demikian juga Wali Kota Palu Hadianto Rasyid, di jajarannya ada ASN/PNS yang diduga adalah selingkuhan pejabat eselon II provinsi yang juga mau dibersihkan. Tapi Hadianto masih diam pula.
“Jika Gubernur Anwar Hafid menerapkan Sembilan Berani sebagai program unggulan Sulteng, harusnya dia juga “berani mencari tahu”, siapa itu pejabat eselon II yang diduga asusila?,” tekan Aceng.
Begitupun Wali Kota Palu Hadianto Rasyid, jangan hanya urus sampah saja. “Cari tahu juga siapa ASN/PNS yang diduga jadi selingkuhan pejabat eselon II provinsi tersebut, lalu bersihkan. Itu kan sampah kotor dalam kabinet Hadianto – Imelda,” tunjuk Aceng Lahay.* jay











