Atas : Saat kegiatan ret-reat di Masjid Raya Baitul Khairaat Palu – Gubernur Anwar Hafid.
Bawah : Ilustrasi tes urine kepada ASN/PNS di suatu tempat.(foto : ist)
Palu, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) –
Berbagai kalangan menjempoli langkah Gubernur H. Anwar Hafid dan Wakil Hj. Reny A. Lamadjido mendudukkan sejumlah figur pilihan dikabinet “Sembilan Berani’. Khususnya 36 pejabat eselon II setingkat Kepala Dinas (Kadis) yang diposisikan sesuai job description. Ini tentu adalah refleksi dari niat baik Anwar Hafid, untuk mendapatkan jajaran yang “siap pakai”, bisa bekerja dengan baik dan profesional, menjadi insan/insani berwatak imani pun bertaqwa kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Maka itu Gubernur oleh banyak pemerhati dinilai, melakukan gebrakan pasti yang pas dan tepat.
Mereka — para Kadis seperti sudah dijelaskan sebelum-sebelumnya — sebagian berasal dari pejabat dinas di kabupaten juga provinsi. Diyakini — dan user telah menaruh harapan besar — bahwa mereka merupakan sosok yang bijak dan arif dalam membawa kepercayaan pemimpin dan masyarakat Sulteng. Bisa matang dalam mengambil keputusan, yang sangat menentukan arah kebijakan dan keberhasilan program daerah sesuai visi misi Gubernur.
Lebih jauh, 36 pejabat itu diharap, dapat menerapkan clean government (pemerintahan yang bersih – red) dan good governance, sehingga bisa menata kelola pemerintahan dengan baik. Menjunjung tinggi nilai demokratis. Bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), kapabel serta akuntabel. Juga transparan, efisien, serta profesional dalam pelayanan publik berkualitas serta — sekali lagi — patuh terhadap peraturan perundang-undangan
Bahwa apa yang diangkat dalam pemberitaan tentang oknum pejabat diduga asusila sebut sumber, karena melekatnya social control.
atau kontrol sosial pada seorang jurnalis. Pers yang berusaha tidak mengabaikan etika yang tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah.
Pemberitaan yang dipublis, tetap berkomitmen menyajikan perimbangan dan menjunjung skema cover both side, seperti telah dipapar diawal. “Satu hal lagi. Murni karena ingin membantu mata, telinga dan hidung Gubernur Sulteng maupun Wali Kota Palu untuk membangun Sulteng Nambaso (Sulteng besar – red) dan Palu, kota “Empat Dimensi” yang
kini tengah menggenjot 35 program prioritas yang terhimpun dalam enam agenda.
Dihelatnya ret-reat di Masjid Raya Baitul Khairaat oleh Gubernur, sesungguhnya bukti bahwa Anwar Hafid tidak main-main. Serius untuk membentuk mental pemimpin harapan Sulteng dilima tahun periode. Maka itulah, rohani para pejabat harus ditempa dan diberi pencerahan. Tidak cukup ceramah agama saja. Tapi bagaimana agar ke 36 pejabat itu bisa menjadi pemimpin yang baik diinstusinya. Bagasi rohani pejabat dipadatkan dengan nilai-nilai religi untuk menyempurnakan karakter. Mereka diajak mendekatkan diri kepada Khalik Sang Pencipta dengan shalat, berjamaah, berdoa dan tafakkur.
Tapi sebut sumber, jasmani 36 pejabat telah lupa, “difilter”. Salah satunya, ketidak sempatan men-tes urin dengan melibatkan BNN Provinsi. Tentu, agar 36 pejabat tidak terkontaminasi narkoba. “Perlu dong. Sebab, diduga kuat ada dari 36 pejabat tersebut terindikasi pemakai narkoba,” kata sumber.
Sumber mengurai bahwa saat berkomunikasi, nampak si pejabat terlihat menggemelatukkan atau menggemeretakkan gigi atas bawahnya sebagai salah satu ciri pengguna narkoba. Ya, gigi gemeretak (bruxism) atau gemelatuk saat bicara — terutama jika disertai dengan mengepalkan rahang secara ekstrem, itu adalah salah satu ciri fisik yang menonjol dari pengguna narkoba tertentu, khususnya jenis stimulan.
Penggunaan sabu-sabu (metamfetamin), kokain dan ekstasi, sering kali menyebabkan kebiasaan menggemeretakkan gigi (bruxism) dan menggesekkan rahang yang tidak disadari.
Penyebab Psikologis: Zat-zat tersebut memicu stres konstan, kecemasan, atau peningkatan energi yang ekstrem, yang dilampiaskan melalui ketegangan rahang dan gigi atau gemeretak atau gemelatuk tadi.
Pengaruh narkoba juga tukas sumber diduga membuat si pejabat berani melakukan hal-hal yang kadang sudah melanggar norma. Tidak peduli kepada lingkungan karena dibawah pengaruh narkoba. Bahkan hal-hal yang diduga melanggar norma asusila, enteng dilakukan. Seperti yang dilakukan salah satu oknum dari 36 pejabat eselon II yang dilantik Gubernur, 31 Desember 2025 lalu.
36 pejabat yang dilantik dan mengikuti ret-reat, “digiring dan ditempa” agar bisa matang secara emosional. Ret-reat dihelat untuk membentuk kemapanan rohani. Sementara tes urin bisa melahirkan pejabat yang bebas dan bersih pengaruh narkoba sehingga dapat bekerja dengan sadar, terpola, terstruktur, guna mencapai hasil gemilang. “Ya, seperti itulah diharapkan,” tandas sumber.* tim bersambung












