Foto atas : Bupati Buol – H. Risharyudi Triwibowo, MM
Bawah :
1. Mr. Jhung Yungchung (kiri) Risharyudi Triwibowo, MM (tengah bertopi) H. Lut Paker, S.Pd.I (kanan bertopi).
2. Foto bersama dimomen Rapat Koordinasi

Buol, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Tiap pemimpin, tentulah beda cara, pola dan strategi dalam membidik target buat menata daerahnya. Dengan kematangannya, seorang.Bupati cerdas, akan piawai memilih program yang selaras, identik dan sebangun dengan program dan kesiapan infrastrukturnserta sarana danmoradaranacyang ada. Termasuk ketersediaan energi dalam hal ini, listrik. Supaya jika investor masuk, maka daerah jug telah siap.
Disini, visi Bupati Buol menarik untuk dibedah dengan runut penjelasannya. Sebab jika lebih spesifik ditilik, H. Risharyudi Triwibowo ingin benar-benar : “Mewujudkan Buol Yang Agamis Sebagai Daerah Agropolitan Maju dan Berkelanjutan”. Visi ini kemudian didukung tujuh misi sederhana sbb:
1. Meningkatkan kualitas SDM.
2. Memperkuat perekonomian berbasis potensi lokal dan digitalisasi.
3. Meningkatkan tata kelola pemerintahan
4. Memantapkan keamanan dan stabilitas
5. Menjaga keseimbangan lingkungan
6. Meningkatkan pembangunan kewilayahan pedesaan, serta
7. Memperkuat layanan infrastruktur.
Inilah “potret” misi sederhana Pemerintah Kabupaten Buol dibawah duet H. Risharyudi Triwibowo, MM dan Dr. Moh. Nasir DJ. Daimaroto, SH. MH
yang tidak muluk-muluk. Coba cermati baik-baik.
Banyak daerah diluaran sana yang pemimpinnya — maaf — kurang visioner. Padahal, saat ini rata-rata daerah seakan berlomba dan tak ingin “ketinggalan kereta”, membangun dan menata kesinambungan pembangunan dari berbagai sisi agar bisa maju mengejar ketertinggalan.
Lalu, apa yang ada dipikiran Risharyudi — Bupati Buol yang menyukai perubahan? Ya, tentulah bagaimana ia harus jeli menata daerahnya, menuju kemandirian. Terutama, ingin memantapkan kemandirian ekonomi.
Memang yang namanya mandiri, berarti harus lepas dari ketergantungan. Dan disinilah, dibutuhkan seorang koreogrator, inisiator dan dekorator seperti Risharyudi, jika Kabupaten Buol ingin maju.
Bowo — panggilan akrab Risharyudi Triwibowo kini tengah mencoba itu. Dia manfaatkan potensi human resources Sumber Daya Manusia (SDM) yang saat ini dipunyai Buol. Terutama para pemikir, pun masukan-masukan jajaran dewan dan mereka yang mau bekerja demi kemajuan Buol. Ada kepala-kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Kepala Badan (Kaban) terkait, yang tentunya siap memberikan sumbangsih ide-ide cemerlang, sesuai Tugas dan Fungsi (Tusi) dan job discription masing-masing. Tentu Bowo juga tanggap memanfaatkan dengan baik, buah-buah pemikiran para pembantunya secara berjenjang mulai dari Wabup, Sekda serta para Asisten kebawah.
Bagaimana semua potensi itu disatukan dalam kesepaham serta gerak langkah yang padu? Agar, daerah yang kaya natural resources atau Sumber daya Alam (SDA) yang kini ia pimpin, bisa “satu suara”. Untuk apa? Guna menopang Buol tumbuh dan dibangun dengan segenap daya serta kemampuan terukur.
Jika bicara besarnya potensi pertanian dan perkebunan yang dimiliki Buol. Tentu bisa dibilang terkira. Cuma dibutuhkan sentuhan dan optimalisasi. Inilah yang menginspirasi Bowo sehingga membuka diri ketika datang seorang pengusaha Taiwan bernama Mr. Jhung Yungchung untuk meminta berjasama dan membangun di “Tanah Pogogul”. Yungchung datang membawa bendera PT. Yusri Multi Guna Abadi (YMGA). Berencana menanamkan investasinya untuk pengembangan durian varitas unggul kualitas ekspor Montong Musangking dan Durian Hitam. Yungchung memaparkan dihadapan Bupati,
akan membangun pabrik pengolahan durian kemasan Frozen di Buol. Sebagai bukti hikirisi teknologi. Nantinya, durian Buol akan diekspor ke Cina dan memenuhi permintaan pasar Taiwan serta kemungkinan juga ke Thailand.
Jika dikaji, konsep Agropolitan yang tertuang dalam visi misi Bupati Riswahyudi Triwibowo dan Wabub Moh Nasir, itu sudah terangkum. Diupayakan bisa sebangun dengan program Asta Cita Presiden Prabowo – Wapres Gibran dipoin kedua, guna menopang ketahanan pangan. Ini selaras pula dengan program “Sembilan Berani” Gubernur Sulteng Anwar Hafid – Reni, sehingga Buol juga bisa “Berani Panen Banyak”.
Kembali ke rencana merealisasi program Agropolitan — seperti sudah dipapar diawal — Pemkab Buol telah mencadangkan 500 Ha lahan di Desa Monggonit dan kini dalam tahap melengkapi pengurusan persyaratan administrasi.
Kata orang bijak, jika pemimpin disatu daerah cerdas dalam menata kelola daerah dan pemerintahannya dengan seluruh daya dukung yang ada, maka bukan tidak mungkin mimpi-mimpi Bowo – Nasir mewujudkan : “Buol Agamis Sebagai Daerah Agropolitan Yang Maju dan Mandiri” bisa jadi kenyataan. Tentulah topangan doa deluruh.masyarakat Buol dimintakan, seraya berucap, Insyaallah!
Selanjutnya, akan muncul pertanyaan, sebatas mana plan gebrakan Agropolitan Bowo untuk “Vuoyo Lipu Koponu” yang artinya Buol Negeri Tercinta”? Ya, kini kan sudah mulai berjalan?!. Setidaknya, Buol siap-siap eksis dengan rencana-rencana besar Bupatinya. Pengalamannya ditataran nasional selama kurang lebih 5 tahun sebagai staf khusus (Stafsus) Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigtasi serta 5 tahun pula padav Stafsus Kementerian Ketenaga Kerjaan RI,
akan jadi modal berharga dalam menata program-programnya yang pro rakyat. Termasuk program Agropolitan untuk sebesar-besarnya memakmurkan Buol dan rakyatnya.
Apa saja harapan Bupati Bowo pada :
“Rapat Koordinasi Dalam Rangka Membangun
Sinergitas dan Kolaborasi Melalui Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial Dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan dan Agropolitan di Kabupaten Buol, 1 Desember kemarin?
Pastinya, itu tidak sekadar slogan dan ego demi mewujudkan program Agropolitan untuk Kabupaten Buol. Sebelumnya, Bowo sudah mengukuhkan dan menetapkan satu “Tim Work”, semacam Satuan Tugas bernama Tim Kerja Pengembangan Kawasan Agrobisnis Kabupaten Buol Tahun 2025. Ketua tim, dipercayakan kepada H. Lut Paker, S.Pd.I serta sejumlah orang-orang pilihan yang diharapkan bisa bekerja bersama, bertalenta bagus serta memiliki kompetensi, integritas mumpuni untuk bekerja dalam sinergitas serta soiditas.
Lalu, apa saja nantinya tugas tim kerja itu? Antara lain, menyusun rencana kerja dan strategi. Juga, melakukan koordinasi antar perangkat daerah, lembaga dan pihak terkait dalam pengembangan kawasan agrobisnis. Mengidentifikasi potensi, hambatan dan kebutuhan pengembangan kawasan. Melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pengembangan kawasan dimaksud dan terakhir melaporkan pelaksanaan kegiatan ke Bupati secara berkala. Simpel!
Menariknya, ada “sebait” wanti-wanti Bupati terhadap tim kerja yang begini bunyinya, “Kepada tim kerja harapan saya, bekerjalah kerja cepat, cerdas dan tepat, untuk menggenjot pendapatan perkapita penduduk. Maksimalkan program Agropolitan khusus bidang pertanian dan segala macam buah bernilai jual tinggi. Ayo, Bismillah!
Untuk langkah awal, dua macam jenis durian yakni Montong dan Musangking yang akan dibudidayakan di lahan 500 Ha itu dan rencana eksyen pada pertengahan tahun 2026.
“Ada yang datang dari jauh, mau buka peluang bisnis, masukkan investasi untuk membuat kita kaya, maka ini perlu direbut.,” pesan bermakna Bupati Bowo.* jay – bagian pertama











