Gorontalo – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) –Pengadaan Cathlab (Catheterization Bisa Laboratory), alat untuk mendeteksi penyumbatan, penyimpitan atau pelebaran pembuluh darah bernilai Rp. 16 milyar di RS Dunda milik Pemda Kabupaten Gorontalo tidak transparan.
PA (Pngguna Anggaran), PPK (Pejabat Pembuat Komitmen), Direktur RS dan Sekda tidak memberi informasi lengkap perihal pengadaan tersebut ketika dikonfirmasi.
Informasi yang diperoleh CBN dari orang dalam RS menyebut Cathlab sudah diclik PPK. Cathlab yang diclik (beli) buatan China (esembly) merk GE (General Electric). Diclik lewat sistem a-catalog. Diclik tak sampai sepekan setelah CBN menurunkan berita dengan judul : ‘BauTak Sedap Pengadaan Alkes RS Dunda’ , 5 April lalu.
CBN sudah mengajukan pertanyaan perihal berapa harga Cathlab, merk dan perusahaan apa yang dipilih serta apa pertimbangannya, ke pihak-pihak diatas tetapi tidak dijawab sesuai isi pertanyaan.
Kadis Kesehatan, Ismail Akase, selaku PA hanya menjawab lewat WhatsApp, “Silahkan dengan RS, wewenang sepenuhnya sudah di mereka”. Tetapi ketika ditanya ke Alaudin Lapananda, Dirut RS, tidak menjawab. Sedangkan PPK, Rahman menjawab singkat, “In sya Allah, kami melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang ada”. Tidak ada yang menjawab pertanyaan diatas. Semua pada bungkam.
Sumber orang dalam tadi mengungkapkan Sekda Ronny Sampir berada dibalik penunjukan Cathlab merk GE. Karena dia yang menyusun perencanaannya saat masih menjabat Kadis Kesehatan. Kendati ada juga perusahaan lain menawarkan merk Siemens dan Philips. Itu pula yang menyebabkan PA, Dirut dan PPK bungkam. Mereka takut bicara.
Diungkapkan dia, perusahaan pemasok merk GE sudah mengawal paket pengadaan ini sejak awal perencanaan. Perusahaan sudah mengeluarkan banyak biaya yang disetor ke oknum pejabat. Dia juga menyebut ada oknum jaksa ikut nimbrung.
Ronny Sampir yang di konfirmasi menjawab lewat WhatsApp. “Sebaiknya wawancara langsung karena saya banyak kegiatan, kalau bapak ada waktu pas saya ada waktu wawancara langsung saja”, tulis Sampir.
Koordinator Gorontalo Corruption Watch Deswerd Zougira dihubungi lewat telpon pagi tadi (26/4) mengatakan pengadaan alkes melalui e-catalog besar potensi korupsinya. Karena harga di a-catalog bukan harga ‘mati’ tapi masih ada diskon 10 hingga 25 persen. Diskon ini yang diam-diam ditawarkan ke pejabat proyek.
Kata aktivis antikorupsi ini, dalam praktik, bagian perencanaan dinas atau RS menyusun kebutuhan alkes lalu melakukan survey harga ke distributor. Distributor lalu memberitahu besaran diskon yang akan diberikan. Ada kalanya selain diskon masih ditambah free biaya pengiriman. Kendati biaya pengiriman tetap ditanggung dinas atau RS.
“Biasanya produk China diskonnya besar cuma kualitasnya jelek. Kami punya catatan beberapa puskesmas dan RS di kabupaten/kota alkes untuk poli tertentu rusak dan sudah tidak berfungsi karena kualitasnya jelek padahal belum lama diadakan”, ungkapnya. Nah.* j













