Atas : Kajati Sulteng N. Rahmat, SH, MH. Bawah : Coffee Morning Pers LSM & Kajati Sulteng berlangsung akrab
Palu, Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) –
Hukum yang berpihak ke rakyat, tentulah yang juga tajam keatas. Tidak melulu dan rata-rata sebaliknya. Dan, pimpinan ditataran itu — baik di daerah hingga nasional — adalah sosok yang dirindukan saat ini. Dimana hukum diharap bisa diandalkan mengkanvaskan pelaku-pelaku kejahatan, termasuk para koruptor. Tanggal 9 Desember : “Hari Antikorupsi Sedunia”. Dunia dibelahan manapun memperingatinya.
Senin (8/12/2025) kemarin, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulawesi Tengah (Sulteng) Nuzul Rahmat, SH, MH dan jajaran, menggelar Coffee Morning. Acara berlangsung di Aula AbdulmAzis Lamadjido lantai 6, Gedung Kejati Sulteng. Dalam rangka Hari Anto Korupsi Sedunia, seperti sudah dipapar diawal. Yang diundang dan hadir banyak dari kalangan jurnalis dan LSM.
Hari Anti Korupsi
sebuah pengingat, alarm, lonceng sekaligus warning yang selalu dikampanyekan setiap tahun, guna meningkatkan kesadaran publik agar bersikap “Antikorupsi.” Hari ini pula “panggung aksi dan demo” digelar dimana-mana. Tajuknya — rata rata — memprotes korupsi dan meminta Aparat Penegak Hukum atau APH — agar bisa menyeret pelaku koruptor sebanyak-banyaknya agar bisa dibui. Jika korupsi berhasil diberantas hingga keakarnya adalah nilai plus. Sebab, bisa menyelamatkan uang daerah atau negara.
Program hilirisasi yang masuk dalam Asta Cita atau delapan program unggulan Prabowo – Gibran begitu apik, demi tetap berdiri tegarnya kibaran “Merah Putih” di republik ini.
Selanjutnya, bagaimana negara bisa “ditata kelola” agar segala permasalahan yang terjadi bisa diatasi dengan solusi. Mulai soal politik, pengangguran, inkam perkapita masyarakat dan sejumlah bla bla. Termasuk korupsi — yang secara perlahan bisa dihilangkan — dari Bumi Pertiwi.
Artinya, program hilirisasi mestinya tidak semata memproyeksi sektor industri dan pendukung lain. Tapi “hilirisasi” menjadi inspirasi menggiring kokohnya kedaulatan dan supremasi hukum untuk dijunjung, dihormati dan diberi ruang agar taringnya bisa mengunyah oknum, para pelaku korupsi. Koruptor kotor, harus ramai-ramai diseret atau “Di-Nepalkan” ke kursi pesakitan. Harus!!
Jadi, bicara hilirisasi tidak hanya menyangkut bagaimana industri berkembang tapi hukum juga bisa dipola hilirisasi dari hulu hingga hilir, dari pusat sampai ke daerah gar kuat dan makin bisa dipercaya.
Kembali ke “Cogfee Morning” kemarin. Tema yang diusung : Berantas Korupsi Untuk Kemakmuran Rakyat” dan lebih spesifik – Coffe Morning dan Press Release : Kinerja Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah – Dalam Rangka Peringatan Harkodia atau HarimAnti Korupsi Sedunia
Tahun 2025.”
Ada masukan, menggelinding saran dan tidak sedikit pertanyaan — yang rata-rata — adalah “PR” yang dialamatkan ke Kajati serta para Asistennya yakni Pidsus, Pidun dan juga Aswas.
Bahkan “tumpahan” uneg-uneg yang menyorot kasus-kasus — diantaranya korupsi — yang belum sempat diselesaikan pendahulu “termuntahkan”. “Mengapa kasus ini, persoalan itu mandeg, jalan ditempat bahkan kini kabarnya sudah di telan bumi. Begitu translate yang “dinarasika”.
Bersyukur untuk Sulteng, Jaksa Agung ST. Burhanudin mendudukkan N. Rahmat, seorang Kajati rendah hati, tidak banyak bicara tapi bekerja dengan topangan segenap jajaran berdedikasi tinggi dengan hasil sangat baik. Telah banyak keuangan negara dan daerah yang bisa diselamatkan Kejati Sulteng dari sejumlah kasus — lagi lagi — ada korupsi didalamnya, tanpa mengurai lebih spesifik. Hingga disela waktu tanya – jawab, Kajati menyilahkan wartawan maupun LSM untuk secara detil teknis langsung kepada Aspidsus maupun Aspidum. Banyak yang ditanyakan, sementara waktu terbatas.
Setidaknya, dalam Coffee Morning itu, makin terjalin tautan kemitraan dalam bingkai chemistry.
antara jajaran Kejati Sulteng, insan pers dan LSM.
N. Rahmat menitip pesan agar, harmonisasi antara Kejati, pers dan LSM, tetap terjalin baik, sinergi dan solid.
Memang, kini saat atau masanya membicarakan korupsi dan bagaimana korupsi yang sudah tersistem dan masif secara vertikal itu diberantas.
Bersyukur, Presiden Prabowo sudah membuktikan banyak koruptor yang telah ditangkapindan diadili. Mulai darimkoruptor kasus timah dan BBM, adalah keberhasilan nyata. Janji Prabowo sudah terbukti. Untuk “mengganyang habis” para koruptor nakal lagi “keras kepala” serta mafianya, tanpa kecuali dan memandang bulu.
Koruptor harus diburu, kendati sembunyi di Benua Antartika.
Majunya sektor industri dan teknologi Pertahanan serta berbagai bidang penunjang kemajuan lainnya. Tentu semua capaian itu diharapkan kian memajukan kembali Indonesia menjadi Macan Asia dibawah nakhoda presiden RI. Prabowo, yang makin dicintai rakyatnya..Bukankah saat ini reformasi birokrasi dan berbagai sisi dan matra tengah dan terus berjalan.
Masih ada waktu! Yang penting, ada kekompakan dalam program serta kerja maupun kinerja berbingkai soliditas.
Saatnya kita perbaiki dan benahi bersama “Rumah Besar Indonesia”. Pulihkan ia dalam kondisi sehat dan paripurna menjadi “Republik Tanpa Korupsi”.* jaya marhum










