Tujuh Perusahaan Diminta Peduli Benahi “Jalan Lumpur” Lambolo

Kolonedale, Morut – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Telah berkali-kali dikritik. Sudah disurati sampai-sampai bosan. Apalagi demo, tidak lagi bisa dihitung. Artinya, beragam bentuk aksi dilakukan warga sebagai bentuk protes. Sampai-sampai menanami jalan dengan pohon pisang, kelapa, tebu, ubi kayu dan lain-lain di situ. Tujuannya, ya agar jalan diperbaiki. Tapi, ruas yang menjadi tanggung jawab povinsi, masih begitu-begitu saja.

Sudah puluhan miliar dana APBN digelontorkan, namun ruas yang dikerjakan dari arah Desa Tayawa, Kabupaten Tojo Una-una (Touna), belum juga “menyentuh” Lambolo.

Camat Petasia Novrianto Najamudin, SE yang ditemui CBN baru-baru ini di Kolonedale mengatakan, jalan Lambolo adalah cerita lama sejak ruas tersebut mulai dikerjakan. Jauh sebelum ia menjadi camat. Dari dulu perusahaan sudah diminta membenahi jalan yang rusak, persegmen. Namun tidak berjalan efektif.

Jika menengok fisik, kondisi jalan sudah mantap dari Tambayoli ke Towi hasil pekerjaan tahun lalu. Kini titiknya sudah sampai Dusun Bangkele yang sesungguhnya tidak terlalu jauh lagi dari Lambolo. Jika dihitung dari “Tugu Titik Nol” Konedale, ibukota Morut, sekitar 20-an Km saja. Kata orang-orang, mungkin warga sudah tidak sabaran menunggu jalan beraspal segera melewati Lambolo, sehingga jika ke Kolonedale, akan lebih nyaman, aman dan cepat.

Mengapa warga Lambolo selalu memunculkan protes? Wajar memang. Sebab, jika tiba musim hujan — hanya mobil 4X4 dobel gardan dan rata-rata milik perusahaan — yang bisa melewati Lambolo . Sepeda motor? Hmmm, pastilah akan berjumpalitan dikubangan lumpur yang menyebar merata disana-dini. Setidaknya jalan “garang” itu berada disepanjang Dusun IV dan V Lambolo.

Selama ini aksi-aksi warga tidak hanya lewat surat dan demo-demo ke DPRD setempat sampai Bupati. Protes yang dilayangkan ke Dinas Bina Marga PUPR Sulteng serta PUPR Morut, juga bahkan ditembuskan ke Gubernur. “Maka, apa lagi yang bisa kami lakukan, jika semua pintu sudah ditembusi,” ungkap salah satu warga yang menyampaikan keluh-kesahnya langsung ke ponsel CBN.

Catatan yang ada ditangan CBN, Pemprov Sulteng bahkan sudah menargetkan ruas jalan Tayawa-Kolonodale yang menghubungkan Kabupaten Touna dengan Kabupaten Morut bmdapat dilalui Oktober 2015. Tapi hingga kini kan belum seperti itu? Jalan Lambolo masih tetap “merana” bersama warganya.

Hingga di Selasa 5 Juli 2022, kembali aksi warga Dusun Lambolo pecah. Jalan dipalang. Keputusan warga memasang jalan, sampai sempat memancing kemarahan pelintas — khususnya — kendaraan perusahaan, agar tak bisa lewat.

Besoknya 6 Juli, Wakil Ketua I DPRD Morut Wahyu Hidayat Sudirman, SIP langsung turun. Bersama Camat, wakil perusahaan, juga Sekretaris Dinas PUPR setempat menemui warga. Selanjutnya, mengajak berdialog sembari berjanji untuk sebuah solusi.

Menurut Novrianto yang baru kurang lebih dua bulan menjabat, rembug yang dilakukan bersama tokoh dan wakil warga, juga dihadiri Sekretaris PUPR Morut serta perwakilan beberapa perusahaan, untuk membuat kesepahaman.

“Apa yang menjadi mufakat? Dari tujuh perusahaan nikel yakni PT COR, MPR, SSP, SPS, Tri Nusa dan PT Suryamindo segera membenahi jalan yang rusak tersebut,” terang Camat Novrianto Najamudin.

Kabid Bina Marga PUPR Morut Rapda Tobigo, ST yang dikonfirmasi CBN mengatakan, kesepakatan tujuh perusahaan, membenahi tiga sisi. Yakni badan jalan, riol atau saluran dan pemeliharaan lainnya. Pendanaanya, dari tujuh perusahaan juga.

“Yang jelas sudah berapa kali kami turun bersama. Dengan pak camat, juga pernah bersama dewan serta pihak perusahaan,” jelas Rapda Tobigo.

Saat perusahaan turun bekerja nanti jekas Rapda, akan dilakukan perspot. Baik yang rusak, maupun rusak parah. “Untuk pengawasannya akan langsung dari kami Bidang Bina Marga PUPR,” ungkap Rapda.* jay

img 20250803 wa0029
Share :

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *