Lembah Sumara, Morut Sulteng – Cakrabhayangkaranews.com (CBN) – Nama dan cerita tentang wilayah Desa Lembah Sumara, Kecamatan Soyojaya, Kabupaten Morowali Utara (Morut), Sulawesi Tengah (Sulteng), mernantik keinginan CBN untuk mengunjunginya. Namun sayang, waktu yang singkat jualah membuat CBN tidak sempat banyak mengeksplor desa yang berhawa sejuk itu.
Yang pasti, Lembah Sumara dapat dimasuki dari dua arah. Selain dari Kolonedale, ibu kota Kabupaten Morut. Pun dari Desa Tayawa, Kabupaten Tojo Una-una.
Saat investigasi dikedua wilayah ketika itu, CBN ditemani Dirut Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Taktis, Yusuf Dumo dan seorang guide Bung Ako. Investigasi report, sekaligus memantau dampak pembukaan tambang, sekaligus masalah kerusakan hutan akibat perambahan hutan seperti illegal bantalan serta illegal logging yang tidak semata isu.
Syukurlah ada sedikit waktu untuk bincang singkat dengan Kades Lembah Sumara, Ahmad Dg Mamala, kendati — ketika itu — pertemuan bukan di dalam desa Lembah Sumara — tetapi di lokasi tambang nikel sang Kades.
Sedikit bincang dengan Ahmad Mamala yang kemudian “menggali” sediit pola yang ia buat di desanya dapat menolong adanya informasi. Bahwa Ahmad lebih mengutamakan membangun kegiatan non fisik dibanding sisi fisik. Apa lagi saat lalu-lalu penganggaran banyak terpangkas pada recofusing untuk mendanai penanganan Covid -19.
Maka Ahmad yang akrab disapa “Tonggong”, melakukan trik memprioritaskan hal-hal non fisik, demi pemenuhan kebutuhan masyarakatnya, lebih khusus para warga tani. Pertama, Ahmad Mamala intens pada pengoptimalan lahan persawahan yang cukup menjanjikan untuk dimaksimalkan. Kedua juga ikut bersama menyukseskan visi misi daerah pasangan Bupati dr Delis Julkarson Hehi, MARS dan Wabup H Djira, SPd, MPd.

Walau tidak menjelaskan rinci besaran Dana Desa,(DD) dan Anggaran Dana Desa (ADD) untuk Lembah Sumara dua tahun belakangan, namun Ahmad menyentil kalau telah mengalokasikan sebagian kecil buat pembelian pupuk dan obat-obatan serta peralatan melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). “Pupuk obat-obatan dan peralatan, sempat saya anggarkan sekitar Rp. 200 juta untuk kebutuhan petani,” kata Ahmad Mamala kepada CBN yang mengujungi Desa Lembah Sumara beberapa waktu lalu.
Sekali lagi — waktu yang singkat dan keburu malam — sehingga sangat tidak cukup berlama-lama di Lembah Sumara. “Insyaalah kunjungan berikutnya bisa melihat suasana desa lebih dekat. Termasuk skala prioritas lain apa saja yang sudah diprogrankam dalam agenda untuk membangun Lembah Sumara. Tentu tetap disesuaukan DD dan ADD yang ada ,” kata Ahmad Mamala.
Dari cerita-cerita warganya, Ahmad Mamala sosok yang dicintai lantaran kesederhanaan dan sifat yang apa adanya. Ya, pembawaan yang tenang dan familiar, membuat ia disenangi.
Lalu pola apa yang ia bangun untuk memajukan desa yang ia pimpin? Ternyata itubtadi. Sisi fisik agak ia kurangi dan lebih memprioritasikan hal-hal non fisik yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat, seperti yang sudah dipapar diawal.
Sebagai Kades, Ahmad Mamala selalu memperjuangkan hak-hak masyarakatnya. Termasuk mengupayakan adanya perhatian perusahaan terhadap desa yang berada dilingkar tambang. Seperti dana CSR (Corporate social responsibility) yang sempat dikeluhkan, tetap ia upayakan untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat.
Yang pasti, untuk.mensejajarkan diri mengejar kemajuan, Kades Ahmad Mamala meminta masyarakatnya tetap bergiat sesuai profesi masing-masing serta jangan bermalasan. Mantap!* jay









