Foto atas : OMT oknum pelaku yang diduga memainkan “peran” menipu MSK.
Foto beruntut bawah : oknum-oknum yang diduga terlibat dalam “drama” yang dibuat OMT dan babuk kwitansi

Buktinya, sudah hampir 14 bulan atau 1 tahun 2 bilan berjalan, OMT tidak juga merealisasi janjinya.
Sebagai pelaku, OMT makin uring-uringan dan kian tidak menunjukkan niat sedikitpun untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Maka, pihak keluarga didampingi kuasa hukum, berencana akan melaporkan pelaku ke pihak berwajib.
Info yang diperoleh CBN, OMT kini berdomisili di Karang Tengah Kec. Cibadak, Kab. Sukabumi.
Sejak ditemui tim kuasa mediasi korban MSK, OMT selalu berkelit dan berbelit belit dalam memberi keterangan.
Bagaimana kronologis kejadiannya, tanya CBN? Bermula dari seringnya silaturahmi dan komunikasi di WA antara siswa alumni yaitu MSK dengan gurunya yang sudah pensiun yang tak lain adalah OMT.
Ketika chatingan korban MSK selalu mengirim emoji sedih & tangisan.
Ini mengundang rasa penasaran pelaku untuk menanyakan perihal masalah yang sedang dihadapi korban.
Akhirnya korban MSK bercerita secara detail masalah yang sedang dihadapinya. Gayungpun disambut.
Cerita korban menjadi “jembatan pelaku” untuk melancarkan jurusnya. Begitu MSK menceritakan tipu daya pelaku kepadanya, yang ia bagikan ke media.
Kepada OMT, MSK bercerita bahwa mantunya tertangkap polisi akibat memakai narkoba yang dibawa oleh temannya.
Kepada MSK, OMT menunjukkan rasa ibanya dan ingin membantu MSK kekuarvdari jerat hukum tersebut. “Saat terjadi dialog, OMT M
menawarkan bantuan untuk.membebaskan masalah yang saya hadapi tersebut dan membantu mantu saya bebas dari jerat hukum ,” cerita MSK.
Kembali ke OMT. Untuk meyakinkan korban MSK, pelaku memberi jaminan kalau tidak bebas bertanggung jawab penuh. Syaratnya, korban MSK
bersedia mengeluarkan biaya untuk mengurus penebusan ke Polres setempat Rp. 100 jt. Begitu MSK memapar ceria.
Kata MSK, OMT sudah berianji
jika mantu MSK tidak bebas, maka uang akan di kembalikan. Akhirnya, MSK menyetujui dan memberi uang itu ke OMT demi anak.

OMT menyuruh alumni siswa lainnya l bernama Farhan, untuk mengambil uang ke rumah korban MSK. Sanehnya, bukti pengambilan kwitansi yang bermaterai di rumah korban tidak ditanda tangan oleh pelaku tapi oleh Farhan.
Menurut keterangan korban MSK bahwa Farhan sempat ditanya, “Kamu berani tanda tangan di kwitansi?'”
Lalu Farhan me jawab, “Kan ini tugas,” MSK menirukan jawaban Farhan.
Lalu penyerahan uang tahap kedua Rp. 70 juta Ketika itu pelaku datang dan hadir di rumah korban MSK dengan membawa anak bekas murid nya tiga orang dan satu orang lagi disuruh menerima uang itu sebesar 75 juta, sekaligus menanda tangani, di kwitansi sebagai tanda bukti.

Pelaku malah mengaku uang yang Rp 75 juta itu tidak dipegangnya. “Uang itu saya serahkan ke bekas murid saya yaitu Dion untuk ngurus ke Polres,” aku OMT seperti ditirukan MSK.
Kuat dugaan dalam “drama” ini, OMT adalah intelektual dader yang mengendalikan dan mengetahui alur itu larinya dan ‘nyantol” dimana.
Dan, kemana saja uang itu diberikan, siapa penerima uang itu dan siapa saja yang “konon” mengurus “pembebasan” mantu MSK, semua OMT yang “mengaturnya”.
Termasuk, munculnya nama orang Jakarta yang mengaku oknum pejabat Polri Pusat. “Juga, oknum pejabat Polres Kota pun di ceritakan pada kami,” aku MSK.
“Yang memainkan uang itu bukan oleh saya. Dan, saya tidak tahu menahu,” ujar pelaku dengan mimik WATADOS (Wajah Tanpa Dosa – red). Bahwa yang menhlgurus semua bekas itu eks muridnya.
Yang jelas kata korban MSK, rencananya minggu ini ia akan melaporkan mantan gurunya itu ke Polsek Gunung Guruh. “Karena peristiwa serah terima dan pengambilan uang itu TKP-nya di sana,” ujar suami korban MSK.* el








